Tampilkan postingan dengan label faidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label faidah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Maret 2014

Siwak dan pasta gigi

اَللهُ أَكْبَرْ اَللهُ أَكْبَرْ

اَللهُ أَكْبَرْ اَللهُ أَكْبَرْ

Terdengar Lantunan merdu suara Adzan maghrib dari corong musholla, kawan-kawan santri yang sedari tadi memang menunggu dikumandangkannya adzan, berbondong-bondong beranjak memenuhi panggilan menunaikan ibadah sholat secara berjam`ah, ada yang ke musholla dan sebagian lainnya ke masjid sambil menenteng kitab untuk persiapan mengikuti pengajian seusai sholat. Setelah menemukan tempat “favorit” yang biasa mereka istiqomahkan, mereka duduk dengan khusu’ dan hikmat seraya bersama-sama membaca dzikir sebagai  lantunan berikutnya. Akhirnya Iqomah sholat dikumandangkan oleh muaddzin, semua santri beranjak berdiri merapatkan barisan shofnya, sejurus kemudian, diantara mereka mengeluarkan senjata pemungkas yang diletakkan disakunya, “siwak”.

Itulah salah satu fenomena ciri khas yang dimiliki santri, suatu hal yang jarang terjadi dikalangan luar pesantren, yaitu memakai siwak setiap kali menunaikan sholat, sebab hal itu merupakan kesunnahan yang dianjurkan agama. Dalam hadist disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

” Dari Abu Huroiroh ra, Nabi saw. bersabda: Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya akan aku perintahkan untuk bersiwak setiap kali akan sholat “.[1]

Dalam ilmu Ushul fiqh, lafadz (لَوْلَا) adalah lafadz yang fungsinya mencegah lahirnya sesuatu karena ada sesuatu yang lain. Dalam kasus disini, suatu perintah yang semestinya menghendaki wajib dilakukan yaitu siwak, namun menjadi tidak wajib karena adanya hal lain yaitu masyaqqoh atau kesulitan. Sehingga perintah tersebut berubah status menjadi sunnah.[2]

Nabi juga bersabda:

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“dari Abu Bakar ra, sesungguhnya Nabi saw. Bersabda: Siwak adalah pembersih mulut dan sebab ridhonya Allah”[3]

Dijelaskan dalam kitab I’anah al-Thalibin, bahwa siwak memiliki 75 faidah, diantaranya: Mensucikan mulut, diridhoi Allah swt., memutihkan gigi, menghilangkan bau dan mengharumkan mulut, menguatkan gusi dan gigi, bicaranya fasih dan lancar, menghilangkan segala penyakit kepala,memperlambat penuaan (awet muda), tidak bungkuk kelak dimasa tua, mencerdaskan otak, dilipat gandanya pahala, memperlancar rizki, penglihatan tidak kabur, bertambahnya kebaikan, malaikat senang dan menyalaminya karena wajahnya bercaha ketika selesai sholat, catatan amalnya kelak diakhirat diterima dari tangan kanannya, tidak terkena penyakit kusta, Selamatnya harta dan anak, meringankan naza’ dan mempermudah mengucapkan kalimat syahadat ketika sakaratul maut, dan Malaikat maut berbentuk indah saat datang mencabut nyawanya.[4]

Kayu Arak dan Pasta Gigi

Yang sering dipahami, siwak identik dengan kayu arak yang biasa dipakai ketika hendak sholat atau dalam hal-hal tertentu semisal hendak membaca al-Qur`an dan mengajar. Sementara saat ini telah banyak beredar pasta gigi ataupun lainnya yang fungsinya juga untuk membersihkan, membunuh kuman yang terdapat dalam mulut dan menghilangkan bau tidak sedap. Pertanyaannya, apakah dengan menggunakan pasta gigi sudah mewakili siwak yang dimaksud dalam hadist sehingga juga mendapatkan fadilah-fadilah siwak sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anah at-Thalibin diatas?

Secara bahasa, siwak bermakna menggosok, sementara menurut istilah, siwak adalah menggunakan kayu atau semisalnya yang dapat menghilangkan bau mulut, seperti kain kasar, Ghosul (sejenis pohon atau pembersih) dan lain-lain. Namun yang paling utama adalah kayu arak yang tidak terlalu kering serta tidak terlalu basah[5]. Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho Dimyati merumuskan tingkatan-tingkatan alat siwak, paling utama adalah kayu arak, kemudian pelepah pohon kurma, zaitun, setiap benda yang harum, dan lain-lain semisal kain.[6]

Dengan demikian, pasta gigi juga termasuk dalam kategori siwak yang juga mendapatkan fadilah-fadilah yang terdapat dalam siwak sekalipun nilai keutamaannya dibawah siwak yang lumrah dipakai yaitu kayu arak. Hanya saja pasta gigi tidak praktis sebagaimana kayu arak yang dapat dibawa kemanapun dan dapat dipakai saat itu juga. Pasta gigi masih membutuhkan sikat gigi, air dan tempat khusus untuk menggunakannya.

____________

[1] Ibnu Daqiq al-`idi, Ihkamu al-Ahkam syarah `Umdatu al-Ahkam, jld. 1, hlm. 48

[2] Tajuddin as-Subky, Jam`ul Jawami’, hlm. 42, Ta`sisu al-Ahkam, jld. 1, hlm. 30

[3] Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad, jld. 1, hlm. 10

[4] Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho Dimyati, I’anatu al-Tholibin, jld. 1, hlm. 44.

[5] Muhammad bin Ismail al-Son`ani, Subulu al-Salam, jlid. 1, hlm 42

[6] Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho Dimyati, I’anatu al-Tholibin, jld. 1, hlm. 45.

Cyberdakwah

Siwak dan pasta gigi

اَللهُ أَكْبَرْ اَللهُ أَكْبَرْ

اَللهُ أَكْبَرْ اَللهُ أَكْبَرْ

Terdengar Lantunan merdu suara Adzan maghrib dari corong musholla, kawan-kawan santri yang sedari tadi memang menunggu dikumandangkannya adzan, berbondong-bondong beranjak memenuhi panggilan menunaikan ibadah sholat secara berjam`ah, ada yang ke musholla dan sebagian lainnya ke masjid sambil menenteng kitab untuk persiapan mengikuti pengajian seusai sholat. Setelah menemukan tempat “favorit” yang biasa mereka istiqomahkan, mereka duduk dengan khusu’ dan hikmat seraya bersama-sama membaca dzikir sebagai  lantunan berikutnya. Akhirnya Iqomah sholat dikumandangkan oleh muaddzin, semua santri beranjak berdiri merapatkan barisan shofnya, sejurus kemudian, diantara mereka mengeluarkan senjata pemungkas yang diletakkan disakunya, “siwak”.

Itulah salah satu fenomena ciri khas yang dimiliki santri, suatu hal yang jarang terjadi dikalangan luar pesantren, yaitu memakai siwak setiap kali menunaikan sholat, sebab hal itu merupakan kesunnahan yang dianjurkan agama. Dalam hadist disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

” Dari Abu Huroiroh ra, Nabi saw. bersabda: Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya akan aku perintahkan untuk bersiwak setiap kali akan sholat “.[1]

Dalam ilmu Ushul fiqh, lafadz (لَوْلَا) adalah lafadz yang fungsinya mencegah lahirnya sesuatu karena ada sesuatu yang lain. Dalam kasus disini, suatu perintah yang semestinya menghendaki wajib dilakukan yaitu siwak, namun menjadi tidak wajib karena adanya hal lain yaitu masyaqqoh atau kesulitan. Sehingga perintah tersebut berubah status menjadi sunnah.[2]

Nabi juga bersabda:

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“dari Abu Bakar ra, sesungguhnya Nabi saw. Bersabda: Siwak adalah pembersih mulut dan sebab ridhonya Allah”[3]

Dijelaskan dalam kitab I’anah al-Thalibin, bahwa siwak memiliki 75 faidah, diantaranya: Mensucikan mulut, diridhoi Allah swt., memutihkan gigi, menghilangkan bau dan mengharumkan mulut, menguatkan gusi dan gigi, bicaranya fasih dan lancar, menghilangkan segala penyakit kepala,memperlambat penuaan (awet muda), tidak bungkuk kelak dimasa tua, mencerdaskan otak, dilipat gandanya pahala, memperlancar rizki, penglihatan tidak kabur, bertambahnya kebaikan, malaikat senang dan menyalaminya karena wajahnya bercaha ketika selesai sholat, catatan amalnya kelak diakhirat diterima dari tangan kanannya, tidak terkena penyakit kusta, Selamatnya harta dan anak, meringankan naza’ dan mempermudah mengucapkan kalimat syahadat ketika sakaratul maut, dan Malaikat maut berbentuk indah saat datang mencabut nyawanya.[4]

Kayu Arak dan Pasta Gigi

Yang sering dipahami, siwak identik dengan kayu arak yang biasa dipakai ketika hendak sholat atau dalam hal-hal tertentu semisal hendak membaca al-Qur`an dan mengajar. Sementara saat ini telah banyak beredar pasta gigi ataupun lainnya yang fungsinya juga untuk membersihkan, membunuh kuman yang terdapat dalam mulut dan menghilangkan bau tidak sedap. Pertanyaannya, apakah dengan menggunakan pasta gigi sudah mewakili siwak yang dimaksud dalam hadist sehingga juga mendapatkan fadilah-fadilah siwak sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anah at-Thalibin diatas?

Secara bahasa, siwak bermakna menggosok, sementara menurut istilah, siwak adalah menggunakan kayu atau semisalnya yang dapat menghilangkan bau mulut, seperti kain kasar, Ghosul (sejenis pohon atau pembersih) dan lain-lain. Namun yang paling utama adalah kayu arak yang tidak terlalu kering serta tidak terlalu basah[5]. Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho Dimyati merumuskan tingkatan-tingkatan alat siwak, paling utama adalah kayu arak, kemudian pelepah pohon kurma, zaitun, setiap benda yang harum, dan lain-lain semisal kain.[6]

Dengan demikian, pasta gigi juga termasuk dalam kategori siwak yang juga mendapatkan fadilah-fadilah yang terdapat dalam siwak sekalipun nilai keutamaannya dibawah siwak yang lumrah dipakai yaitu kayu arak. Hanya saja pasta gigi tidak praktis sebagaimana kayu arak yang dapat dibawa kemanapun dan dapat dipakai saat itu juga. Pasta gigi masih membutuhkan sikat gigi, air dan tempat khusus untuk menggunakannya.

____________

[1] Ibnu Daqiq al-`idi, Ihkamu al-Ahkam syarah `Umdatu al-Ahkam, jld. 1, hlm. 48

[2] Tajuddin as-Subky, Jam`ul Jawami’, hlm. 42, Ta`sisu al-Ahkam, jld. 1, hlm. 30

[3] Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad, jld. 1, hlm. 10

[4] Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho Dimyati, I’anatu al-Tholibin, jld. 1, hlm. 44.

[5] Muhammad bin Ismail al-Son`ani, Subulu al-Salam, jlid. 1, hlm 42

[6] Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho Dimyati, I’anatu al-Tholibin, jld. 1, hlm. 45.

Cyberdakwah

Jumat, 07 Maret 2014

Tulisan Lafadz Niat i'itikaf

IBADAH MEMBUTUHKAN NIAT
________________________________

Kalimat yang umum tertulis di pintu masuk sebuah masjid di Indonesia adalah

نويت سنة الاعتكاف

Nawwaitu Sunnatal I'tikafi
(dan semisalnya)

Artinya:"Aku berniat melaksanakan Sunnah I'tikaf".

Kalimat ini gunanya adalah
-Bisa mengingatkan orang yang masuk masjid agar tidak lupa berniat I'tikaf.

-Bisa membantu menuntun menggerakkan hati berniat I'tikaf. DLL.

Jadi tulisan kalimat tersebut banyak membantu orang orang awam yang khusus nya pelupa.

Ternyata kalimat tersebut juga saya jumpai tertulis disalah satu tiang di Masjid Nabawi Madinah Al Munawaroh.

Tiang ini posisi nya ada di pintu masuk nomor 1, yakni BABUS SALAM.

(Baba Naheel)

Senin, 03 Maret 2014

Tidak boleh mencela nyamuk


Dinukil dari kitab gidzaul albab karangan syeh as syafarini.

وقد { نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن سب البرغوث } روى الإمام أحمد ، والبخاري في الأدب المفرد ، والبزار والطبراني في الدعاء ، والبيهقي في شعب الإيمان عن أنس رضي الله عنه { أن النبي صلى الله عليه وسلم سمع رجلا يسب برغوثا فقال : لا تسبه ، فإنه أيقظ نبيا من الأنبياء لصلاة الفجر } .

dan Rasululloh shollallohu alaihi wasallam telah benar-benar melarang dari mencela nyamuk, imam ahmad telah meriwayatkan, dan imam bukhori dalam kitab adbul mufrod, imam al bazzar imam tabrani dalam ad-du'a, imam baihaqy dalam syu'ubul iman dari anas rodhiyallohu anhu sesungguhnya nabi shollallohu alaihi wasallam mendengar seorang lelaki mencela nyamuk kemudian Rasul bersabda;

" janganlah kau mencelanya, karena sesungguhnya nyamuk itu membangunkan salah seorang nabi dari para nabi untuk melakukan sholat fajar."

وروى الطبراني في معجمه ، والبيهقي في شعب الإيمان عن أنس رضي الله عنه قال { : ذكرت البراغيث عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : إنها لتوقظ للصلاة } . وروى الطبراني عن علي رضي الله عنه قال { : نزلنا منزلا فآذتنا البراغيث فسببناها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تسبوها فنعمت الدابة ، فإنها أيقظتكم لذكر الله }

imam tabrani dlm kitab mu'jamnya, imam baihaqy dalam kitab syu'ubul iman meriwayatkan dari anas rodhiyallohu anhu berkata,

" aku menyebut nyamuk disamping rasululloh shollallohu alaihi wasallam , kemudian Rasul berkata;
sesungguhnya nyamuk itu membangunkan (orang tidur) untuk melakukan sholat."

imam tabrani meriwayatkan dari ali rodhiyallohu anhu berkata;

" suatu kali kami menempati suatu rumah kemudian nyamuk-nyamuk menyakiti kami maka kami mencela nyamuk-nyamuk tersebut kemudian Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda;
janganlah kalian mencelanya karena sebaik-baiknya hewan adalah yang bisa mengingatkanmu untuk dzikir pada Alloh ."

وأخرج البيهقي عن أنس رضي الله عنه قال { : لعن رجل برغوثا عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال : لا تلعنه ، فإنه أيقظ نبيا من الأنبياء للصلاة }

imam baihaqy mengeluarkan dari anas rodhiyallohu anhu berkata;
ada seorang lelaki yg melaknat nyamuk di samping nabi shollallohu alaihi wasallam kemudian Rasul berkata; " janganlah kamu melaknatnya, karena sesungguhnya dia membangunkan seorang nabi dari para nabi unyuk melakukan sholat."

وأنشد بعضهم :

لا تسب البرغوث إن اسمه # بر وغوث لك لو تدري

فبره مص دم فاسد # وغوثه الإيقاظ في الفجر

Sebagian ulama' bersyair:

janganlah kalian mencela barghous (nyamuk) karena sesungguhnya namanya adalah barrun (kebaikan) dan ghousun (pertolongan) bagimu jika kamu mengetahui.

kebaikannya adalah menghisap darah yang rusak dan pertolongannya adalah membangunkan orang tidur di waktu fajar.

غذاء الألباب في شرح منظومة الآداب
محمد بن أحمد بن سالم السفاريني

Sabtu, 01 Februari 2014

Kesalahan dalam Bersholawat

Shalawat pada nabi Muhammad bukan hal yang asing bagi orang Islam, karena shalawat ini sudah merupakan salah satu ibadah bagi umat Islam. Ini menunjukkan betapa bernilainya shalawat. Bahkan tidak hanya orang islam saja yang bershalawat, tapi juga Allah dan para Malaikat, tentunya dengan makna shalawat yang berbeda. Shalawat dari Allah adalah rahmat, dari malaikat adalah istigfar, sementara dari manusia adalah doa.

Berkaitan dengan shalawat ini, secara tegas Allah menjelaskan melalui firmannya yang tercantum dalam Qur’an berikut ini,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya

Dalam ayat tersebut Allah secara tegas—dengan menggunakan kata perintah (صَلُّوا)—memerintahkan pada umat islam untuk bershalawat pada Nabi.

Hadits-hadits yang menunjukkan anjuran tentang shalawat pun banyak, di anataranya,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali” (HR. Muslim)

أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

“Paling utamanya manusia bagiku di hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku” (HR. Tirmidzi)

Dua hadits tersebut, walaupun tidak menggunakan bentuk anjuran secara tegas (tidak menggunakan bentuk perintah), tapi sudah mengandung anjuran karena dalam dua hadits tersebut dijelas fadhilah dari shalawat. Sehingga dengan demikian kita makin tahu keutamaan dari shalawat.

Paparan di atas ini pasti sudah maklum di telinga orang islam pada umumnya. Akan tetapi yang perlu didiskusikan kembali adalah tentang beberapa pemahaman atau praktek yang keliru tentang shalawat ini.

Pertama, Coba kita perhatikan kembali diri kita dan sekeliling kita. Misalnya ketika sedang mendengarkan ceramah agama, pasti si penceramah sering menyebutkan nama Nabi Muhammad yang disusul dengan bershalat pada beliau. Ada juga yang hanya menyebut nama nabi tanpa disusul dengan shalawat. Sedangkan para audien—yang mendengarkan ceramah—biasanya akan ikut bershalat juga ketika si penceramah menyebut nama nabi yang disusul dengan shalawat. Mereka tidak akan bershalawat kalau si penceramah hanya menyebut nama nabi, tanpa bershalawat. Apakah praktek ini benar?. Untuk menjawabnya, mari kita perhatikan beberapa hadits berikut,

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang pelit adalah orang yang ketika aku disebut dihadapanya dia tidak bershalawat padaku” (HR. Tirmidzi)

مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلْيُصَلِّ عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barang siapa ketika disebutkan namaku dihadapannya, maka bershalawatlah. Karena barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali” (HR. Thabrani)

Dalam dua hadits ini disebutkan kata مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ (Barang siapa ketika disebutkan namaku dihadapannya). Kata ini menunjuk pada dua makna, yakni pada orang yang menyebut nama nabi dan pada orang yang mendengarkan nama nabi disebut. Dengan demikian, maka bagi orang yang mengucapkan nama nabi maka dianjurkan disertai dengan shalawat. Sedangkan bagi orang yang mendengarkan nama disebut, maka dianjurkan juga untuk bershalawat. Jadi tanpa perlu menunggu orang yang mengatakan nabi itu bershalawat lalu yang mendengarkan juga ikut bershalawat. Hal ini salah, karena nabi tidak menganjurkan bershalawat ketika ada shalawat diucapkan, melainkan ketika nama nabi disebutkan.

Oleh karena itu, untuk selanjutnya, mari kita biasakan bershalawat ketika nama nabi disebut, tanpa perlu menunggu orang yang mengucapkan nabi itu bershalawat atau tidak.

Kedua, ketika disebut nama nabi yang dilanjutkan dengan shalawat, banyak orang yang mendengarkan itu menjawab dengan kata صَلُّوا عَلَيْهِ. Apakah jawaban ini benar?. Apakah kata ini bisa dianggap sebagai? Bukankah kata ini sama dengan yang Allah gunakan dalam firman-Nya ketika menyuruh manusia untuk bershalawat. Untuk menjawab ini kita perlu mengkaji dari segi kaidah kebahasaan. Dalam ilmu nahwu, kata صَلُّوا merupakan fi’il amr (kata perintah) untuk jama’ (plural), sehingga ketika diartikan menjadi “Bershalawatlah kalian pada beliau”. Sekarang perhatikan terjemahan itu!. Siapa lalu yang dimaksud dengan kalian?. Apakah orang-orang yang ada disekitarnya. Kalau itu yang dimaksud, maka setiap orang menyuruh pada yang lain untuk bershalawat. Dalam arti di antara mereka saling menyuruh untuk bershalawat. Jika demikian maka lalu tidak ada yang bershalawat, yang ada hanya saling menyuruh bershalawat. Seandainya saja menggunakan bentuk perintah yang untuk tunggal, misalnya menggunakan kata صَلِّ, maka kata itu tepat karena yang mengucapkan itu memohon pada Allah  agar Nabi muhamad diberi rahmat. Sama dengan shalawat yang sering diucapkan اللهم صل على محمد, yakni sama-sama menggunakan kata amr untuk tunggal.

Oleh karena itu untuk selanjutnya jawaban salam kita harus dirubah, tidak lagi dengan menggunakan kata صَلُّوا عَلَيْهِ, melainkan menggunakan shalawat semisal اللهم صل على محمد, صلى الله على محمد, atau yang lainnya.

Berlandaskan uraian di atas, maka sudah selayaknya bagi kita sebagai umat islam untuk memperbaiki lagi amal ibadah kita, termasuk dalam hal bershalawat. Jangan sampai tujuan baik untuk bershalawat tidak tercapai hanya karena salah dalam memahami atau salah dalam isi shalawatnya.

Antara Kiyai dan Ulama

Ada pernyataan menarik tentang pengertian “Kyai” dari KH. Musthofa Bisri Rembang (Gus Mus).
Pada saat itu Gus Mus berkhutbah dalam pengajian haul KH Ali Maksum di Krapyak, Gus Mus (KH Mustofa Bisri Rembang) yang didaulat sebagai pembicara membawa hadirin pada suasana nostalgia, yakni masa-masa di saat beliau nyantri dulu… mengenang kearifan para Kyai zaman dahulu… khususnya para Kyai di lingkungan pesantren Krapyak yang pernah ‘ngemong’ beliau. Seperti KH. Ali Maksum, KH. Dalhar Munawwir, dan KHR. Abdul Qodir Munawwir.

Beliau mengisahkan betapa manusiawinya para Kyai itu, dalam arti mampu memanusiakan manusia, sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing orang, tidak menelantarkan tetapi juga tidak mengekang. KH. Ali Maksum misalnya, sosok Kyai yang “mbapaki” dan tidak “ngiyaini”, sehingga beliau di kalangan santri-santrinya lebih akrab disapa “Pak Ali”, begitupun para kyai-kyai Krapyak generasi selanjutnya, juga disapa dengan sapaan “Pak” atau “Mbah”.

Salah satu hal yang khas dari Mbah Ali, khutbah Jum’atnya pendek-pendek, namun selalu bertemakan hal-hal penting yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini bisa dilihat pada gaya khutbah Mbah Zainal (KH Zainal Abidin Munawwir, pengasuh Ponpes Al-Munawwir Krapyak sekarang) yang terkesan pendek namun berbobot, baik itu tentang fiqh, aqidah, maupun tasawwuf. Beliau memahami kondisi masyarakat yang bermacam-macam, sehingga tidak menyamaratakan, santri tidak sama dengan pegawai kantor, pedagang bakso, atau musafir yang kebetulan mampir di masjid untuk shalat Jum’at. Terkadang tema yang dibahas oleh Mbah Zainal adalah bab Thoharoh alias ‘sesuci’, tentang apa itu air musta’mal, juga air mutanajjis, tema dan gaya khutbah semacam ini di Jakarta, di Kairo, atau di Saudi Arabia…

Atau seperti kisah KH Abdul Jalil Mustaqim, pengasuh pesantren PETA Tulungagung. Beliau disowani seorang wanita yang ber-’profesi’ sebagai penjaja seks yang minta doa penglaris. Kyai Jalil hanya manggut-manggut, menasehati dan mendoakan seperti apa yang diminta wanita itu, laris. Beberapa hari kemudian, beliau disowani oleh wanita yang sama, namun kali ini berbeda, wanita itu merengek-rengek minta bertaubat. Wanita itu berkisah, sangkin larisnya, sampai-sampai tidak kuat, merasa tersiksa,
dan muncul keinginan untuk bertaubat.. wuih.. Wallahu A’lam…

Dari contoh-contoh yang banyak dikisahkan itu, kita bisa melihat bagaimana para Kyai bergaul dengan masyarakat, merangkul, mendengarkan, memahami, dan memberi nasehat serta solusi bagi masalah mereka, dibalut dengan keikhlasan dan sikap ‘ngemong’, tidak menghakimi. Ibarat gula, mereka rela meleburkan diri di tengah masyarakat sebagai airnya, sehingga masyarakat pun turut menjadi manis.

Sehingga, seperti dikatakan Gus Mus, dari wajah beliau-beliau itu tersirat cahaya kedamaian yang menular ke hati kita yang memandangnya. Beliau mencontohkan, setiap orang yang sowan ke ndalem Kyai Qodir (KHR. Abdul Qodir Munawwir), meski membawa berbagai macam kegundahan di hati,
akan merasa plong, lega, ayem, ketika memandang wajah Sang Kyai yang disowani, seakan-akan semua masalahnya telah beres. Sangkin ayemnya…

Nah, di ujung kisahnya, Gus Mus menyatakan kerinduannya terhadap sosok-sosok Kyai masa lalu… serta menawarkan satu definisi kata “Kyai” dalam konteks keindonesiaan, beliau (kira-kira) berujar begini;

*”Saya punya definisi gelar ‘Kyai’ menurut versi saya sendiri, yakni ALLADZIINA YANDZURUUNAL UMMAH BI ‘AYNIR ROHMAH; mereka yang memperhatikan Umat dgn pandangan Rahmat (Kasih Sayang). Kalau ada orang, pakaiannya ala Nabi, sorbannya lebar, jenggotnya panjang, tetapi nggak
menyayangi umat, biarpun saya ditawari duit sejuta, nggak bakal mau manggil dia ‘Kyai’.. Tetapi kalau ada orang yang ilmunya nggak terlalu tinggi, tetapi mengayomi umat, dicintai umat, dia pantas disebut ‘Kyai’…”*

Ungkapan Gus Mus ini sesuai dengan asal mula kata “Kyai” berupa kata “Ki” dan “Yai”. Dalam kebudayaan kita, setiap hal yang memiliki kelebihan dalam sisi spiritual bisa digelari “Ki-Yai” atau “Kyai”, tidak hanya sosok manusia, bahkan benda anorganik pun bisa, sebut saja Kyai Pleret si tombak, Kyai Cubruk si keris, atau Kyai Nogo Wilogo dan Kyai Guntur Madu si gong istimewa yang ditabuh saat Sekaten di Yogyakarta.

Kata “Kyai” itu sebenarnya, sebagaimana diungkapkan KH Abdullah Faqih Langitan, adalah sinonim dari kata “Sheikh” dalam bahasa Arab. Secara terminologi (istilahi), arti kata “Sheikh” itu sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Bajuri adalah “man balagha rutbatal fadli”, yaitu orang-orang yang telah sampai pada derajat keutamaan, karena selain pandai (alim) dalam masalah agama (sekalipun tidak ‘allamah atau sangat alim), mereka mengamalkan ilmu itu untuk dirinya sendiri dan mengajarkan
kepada murid-muridnya. Penyebutan “Kyai” itu berasal dari inisiatif masyarakat, bukan dari dirinya sendiri atau media massa.

Sementara itu, makna kiai atau “Sheikh” dalam pengertian etimologi (lughotan) adalah “man balagha sinnal arbain”, yaitu orang-orang yang sudah tua umurnya atau orang-orang yang mempunyai kelebihan, misalnya dalam hal berbicara atau mengobati orang (nyuwuk), tapi tidak pandai dalam masalah agama.

Makanya, ada ungkapan begini:
“AL-’AALIMU SYAIKHUN WALAW KAANA SHOGHIIRON”
(Orang pandai itu “sheikh” walaupun masih kecil/muda)..
“ WAL JAAHILU SHOGHIIRUN WALAU KAANA SYAIKHON”
(dan orang bodoh itu kecil walaupun sudah tua)..

Jadi, gelar “Kyai” sebenarnya memang diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kelebihan dalam hal spiritual, dan kemudian diakui masyarakat. Berbeda dengan “Ulama” yang merupakan bentuk jamak dari kata “Alim” (orang yang berilmu), atau istilah kita “Ilmuwan”. Gelar “Ulama” ini adalah gelar religius, sedangkan “Kyai” tidak. Kata “Ulama” jelas-jelas disebukan dalam surat Fathir ayat 28, “Innamaa Yakhsyalloohu Min ‘Ibaadihil ‘Ulamaa”.

Dan di ayat itu tersurat secara gamblang bahwa kriteria Ulama yang dimaksud adalah berpengetahuan, kemudian pengetahuannya menjadi sebab dia mengenal serta bertaqwa kepada Allah. Jadi, ulama sudah tentu kyai, sedangkan kyai belum tentu ulama.

Sehingga, konsekuensinya, gelar “Kyai” tidaklah seperti pengertian masyarakat dewasa ini. Pada umumnya, masyarakat menilai bahwa “Kyai” adalah gelar bagi orang yang ahli agama Islam. Kesimpulan ini mungkin didapatkan dari keadaan selama ini bahwa yang namanya kyai ya mesti
berpengetahuan agama luas, akibat generalisasi obyek. Padahal pengertian Kyai lebih luas dari itu.

Kita melihat manusia mengunyah dengan rahang bawah, begitu pula kambing, begitu pula sapi, begitu pula kucing, kemudian kita menyimpulkan bahwa semua makhluk hidup mengunyah dengan rahang bawah. Lalu, ketika kita melihat buaya misalnya, maka kita sadar bahwa kesimpulan kita salah,
buktinya buaya mengunyah dengan rahang atas. Nah, kesimpulan macam ini, generalisasi, dalam bahasan ilmu Manthiq disebut metode Istiqro-i yang rentan salah.

Nah, ocehan saya ini hanya bermaksud mendukung dhawuh Gus Mus di atas, bahwasanya Tokoh Spiritual Panutan Masyarakat alias “Kyai” adalah mereka yang mengayomi masyarakatnya dengan penuh kasih sayang, pengertian, mengikat namun tidak mengekang. Di kala menegur pun, ibarat memukul, adalah bagaikan pukulan sebiting sapu lidi, menyengat tapi tidak menyakitkan..

Sosok-sosok pengayom ibarat pohon beringin seperti inilah yang masyarakat rindukan. Tidak hanya bergelut di ranah pembahasan kitab dan penetapan hukum-hukum formal agama. Tetapi juga turut membaur bersama masyarakat, memberikan solusi bagi permasalahan mereka. Serta mau dan mampu membimbing masyarakat untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki, terutama potensi intelektual dalam bidang apapun, demi kemaslahatan hidup masyarakat itu sendiri. Sehingga, Rahmah (kasih sayang) yang dimaksudkan tidak hanya berrotasi di lingkup manusia sebagai naas, basyar, maupun insan, tetapi juga melingkupi orbit yang jauh lebih luas yakni Alam Semesta…

Senin, 06 Januari 2014

Sebab Hukum Bisa Kacau

Apa yang membuat aturan hukum kita kacau adalah hukum kita pakai range (kisaran), hukuman minimal sekian tahun, maksimal sekian tahun...... Ini adalah kelemahan PALING utama........

Range inilah yang merupakan celah kompromi hukum...... Pintu suap dan kerusakan hukum.......

Range akan menjadi ladang tawar menawar, wani piro...... Untuk menurunkan tuntutan-tuntutan, makin berani bayar mahal, makin diturunkan tuntutan hukum yang ada.......

Hukum itu mestinya "fixed", tidak boleh pakai range...... Seperti hukum islam, ia fixed, maling = potong tangan...... Tidakk ada range, misal potong jarinya saja dsb.....

Untuk menjamin keadilan dan menutup celah, hukum tidak boleh pakai range (kisaran) hukum min sampai max..... Harus fix, tetap.....

FK

Minggu, 05 Januari 2014

Dunia itu sebagian dari akhirat

Dunia adalah bagian dari akherat itu sendiri........ seumpama engkau menggoreskan pena, tatkala tinta itu menyentuh permukaan kertas, titik pertama yang terbentuk itulah dunia, lalu engkau menarik garis sepanjang panjangnya, garis itulah umpama akhirat.........

Oleh karenanya siapa mencari akhirat maka pasti dunia ikut/dapat, sebab dunia adalah bagian dari akhirat itu sendiri....... siapa yang mencari dunia saja, maka akhirat akan meninggalkannya.......

lalu dimana engkau meletakkan yang namanya seimbang, seimbang dunia akhirat......???...... yang seperti apa itu seimbang dunia akherat??

kalau mau main konyol2an kalau seimbang mestinya 12jam sehari untuk akherat, 12jam untuk dunia...... nyatanya yang baru 1 jam untuk akherat, 23 jam utk dunia, pada sudah merasa seimbang, seimbangnya dimana??.....

saya masih mumet sampai sekarang kalau ada orang bilang "harus seimbang dunia akherat"...... karena seimbang itu berat, secara waktu juga harus seimbang, 12jam jatah akherat...... mereka sendiri fikirannya seimbang itu yg bagaimana???


FK

Rabu, 01 Januari 2014

Silsilah Kitab Ushul Fiqih Mutakllimin

Kitab ushul fikih mulai dikarang dalam bentuk literatur oleh founding father madzhab syafi’iyah, imam as-Syafi’i (204 H) dengan judul ar-Risalah.[1] Generasi setelahnya kurang begitu menggairahkan untuk lebih meramaikan perdebatan usul fikih. Setelah kemunculan karya imam as-Syafi’i, generasi setelahnya seperti Ibn al-Qatthan (359 H) mengisi wacana usul fikih berbentuk komentar ar-Risalah, mengutipnya, dan menganulir pendapat yang berseberangan dengan sang imam as-Syafi’i.[2]

Masa antara imam as-Syafi’I sampai tahun empat ratusan muncul beberapa karya ulama mainstrean mutakallimin. Diantaranya,

a)      Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij (306 H). Beliau termasuk tokoh besar dalam madzh

kitabklasik255

ab syafi’iyah. Karangan ushul fikihnya ar-rodd ‘la idn dawud fi ibthol al-qiyas.

b)      Abu Bakar Muhammad Bin Ibrahim Bin Mundzir (306 H) dengan karya kitab itsbat al-qiyas dan ikhtilaf an-nas fi al-asma’ wa al-ahkam wa al-khosh wa al-‘amm.

c)      Abu Bakar as-Shoirofi (330 H). Dia dianggap orang paling alim dengan ilmu ushul setelah as-Syafi’i. dia mempunyai karangan yang tidak dimilki yang lain, diantaranya syarah ar-Risalah, al-bayan fi dalalil al-a’lam ‘ala ushul al-ahkam,  dan kitab al-ijma’.

d)      Al-Qadli Abu Al-Farj al-Maliki (331 H) memiliki karangan al-luma’

e)      Muhammad bin Sa’id as-Syafi’I al-Khowarizmi (343 H0 dengan karangan ushul fikih al-Hidayah

f)       Bakar bin Muhammad Bin Al-‘Ala Al-Qusyairy al-Maliki (344 H) dengan karangan usuhul fikih kitab al-qiyas, kitab ushul al-fiqh, ma’khodz al-ushul

g)      Abu al-Walid an-Nisaburi (349 H) dengan karya syarah risalah al-imam as-syafi’i

h)      Abu Hamid Ahmad Bin Basyar Bin Hamid (362 H) dengan al-isyraf ‘al al-ushul.

i)        Abu Bakar al-Qoffal as-Syasyi (365 H) dengan karya syarah ar-Risalah dan kitab ushul fikih (tanpa nama)

j)        Abu Bakar al-Abhari al-Maliki (375 H) karya kitab ushul fikih (tanpa nama) dan ijma’ ahli al-madinah

k)       Abu Bakar al-Jauzaqi (388 H) as- Syaibani (388 H) dengan karya syarah ar-Risalah

Pada masa ini para ulama ushul fikih membuat karangan ushul fikih dengan meneitikberatkan terhadap satu bahasan tertentu. Bahkan ada yang hanya membuat catatan kecil. Pada masa ini perkembangan ushul fikih hanya berkisar pada penjelasan ushul fikih sebelumnya yang dirasa sulit dipahami. Belum ada pembaharuan model ushul fikih baru.

Baru setelah itu muncul dua sosok pembaharu yang menduduki posisi hakim, Qadli Al-Baqillani (403 H) dan Qadli Abdul Jabbar (415 H). Dua tokoh ini punya kontribusi cukup besar untuk membentukan karakter khusus dalam karangan kitab usul fikih. Qadli Al-Baqillani ahli fikih madzhab maliki mempunyai kitab yang berjudul At-Taqrib Wa Al-Irsyad fi tartibi thuruq al-ijtihad.[3] Kitab ini diringkas dengan nama al-Irsyad al-Mutawassith dan al-irsyad as-syaghir. Menurut Ibn As-Subuki, kitab at-taqrib wa al-irsyad merupakan kitab yang komplit. Ibn As-Subuki pernah melihat kitab itu tinggal empat jilid saja. Salah pendapat, kitab itu berjumlah sampai dengan 12 jilid. Imam al-Haramin sebagai muridnya meringkas kitab gurunya dengan nama at-talkhis. Imam al-Juwaini atau al-Haramain (478 H) pernah berguru kepada beliau. Tidak sia-sia, di tangan al-Haramain, pembahasan usul fikih menjadi lain.Tidak seperti kitab ar-Risalah, karya al-Haramain melibatkan perdebatan ideologis yang mempunyai konsekuensi besar terhadap usul fikih. Al-Haramain mempunyai tiga karangan dalam ilmu usul fikih,

Pertama: matan mukhtashar. Kitab ini lebih terkenal dengan sebutan al-waraqat. Banyak sekali para pelajar tingkat dasar mengkaji kitab al-waraqot. Kitab ini punya daya pikat yang cukup luar biasa, sehingga banyak ulama setelahnya memberikan komentar [baca:syarah]. Sebut saja syarah al-Jalal al-Mahalli (864 H). Syarah ini diberikan catatan pinggir [baca:Hasyiyah] oleh ad-Dimyathi (1117 H) dan al-Khatib al-Jawi (1326 H) dengan nama Hasiyah An-Nafahat. Ulama’ yang memberikan komentar lagi di antaranya, Tajuddin al-Farkah as-Syafi’I (690 H),ibn Taymiyah, al-Mardini (871 H) dengan judul kitab al-Anjum az-Zahirat, ibn imam al-Kamiliyah (874 H), ibn Qawan al-Kailani (889 H) dengan judul kitab at-Tahqiqat syarah al-waraqat, al-Hattab dengan judul Qurroh Al-Ain,Ghayah al-Ma’mul karya ar-Ramli (957 H),

Sebagian ulama lain membuat nazam al-waraqat. Al-Umrithi (988 H), ulama’ yang pertama kali membuat bait nazam al-waraqat dengan judul Tashil At-Thuruqat. Nazam ini kemudian diberi komentar oleh Abdul Hamid (1335 H) dengan judul Lathaif Al-Isyarat. Muhammad Al-Maghribi (1340 H) juga memberikan sumbangsih terhadap karya al-Haramain. Beliau membaitkan al-waraqat sampai 99 bait, dengan nama sullam al-wushul ila ad-dloruri min ilm al-ushul. Lalu ia syarahi sendiri nazamnya dengan nama an-nushhu al-mabdzul liqiro’i sullam al-ushul.

Kedua: yang disumbangkan imam al-Haramain terhadap ilmu usul fikih adalah kitab at-talkhis. Kitab ini mengambil sumber dari kitab at-taqrib wa al-irsyad karangan al-Baqillani.

Ketiga: yang menjadi kontribusi besar dalam sejarah ilmu usul fikih adalah kitab al-Burhan. Kitab ini kebanyakan melansir dari beberapa pendapat gurunya, al-Baqillani. Gaya bahasa al-Burhan sangat unik dan memakai diksi kata yang kadang sulit dipahami. Karena itulah At-Taj As-Subuki menjuluki al-Haramain sebagai tukang teka-teki. At-Taj as-Subuki menganggap karangan al-Haramain ini memiliki tingkat kesulitan yang luar biasa. Ada dua ulama Malikiyah yang mem

78561

berikan komentar terhadap karya imam al-Haramain ini, abu abdullah al-Maziri (536 H) dengan kitabnya yang berjudul Kasyf Idloh Al-Mahshul Min Burhan Al-ushul dan al-Abyari (616 H) dengan judul kitab At-Tahqiq Wa Al-Bayan Fi Syarhi Al-Burhan.[4]

Qadli Abdul Jabbar teolog dan ahli fikih mu’tazilah memiliki karya tulis usul fikih yang berjudul al-‘Amd. Ia beruntung memiliki murid yang bernama Abu Al-Hasan Al-Bishri ahli fikih dan kalam (436 H). Ia mengomentari karya gurunya itu dengan judul kitab Al-Mu’tamad. Ia memberikan tambahan keterangan dan menyisipkan beberapa pendapat gurunya saat ia mengaji.

Kitab al-mu’tamad kemudian dikembangkan oleh Al-Qadli Abu Ya’la (458 H) dengan judul kiabnya al-‘Uddah.[5] Isi dari kitab itu terinspirasi dari dua kitab, al-Mu’tamad dan ushul al-Jashshosh. Al-Qadli Abu Ya’la mempunyai dua murid, abu al-Khotthob (510 H) yang mempunyai karya at-tamhid yang kebanyakan merujuk kepada kitab al-mu’tamad, dan Abu Al-Wafa’ Ibn Aqil al-Hambali (431-512 H) yang memiliki karya al-wadlih fi ushul al-fiqh. Ibn Aqil memiliki murid yang bernama Abu Al-Fath Ibn Barhan (479-518 H). Awalnya beliau mengikuti madzhab Hanbali, kemudian ia pindah ke madzhab Syafi’iyah. Ibn Barhan mempunyai guru al-Ghazali, as-Syasyi dan Ilkiya. Ia mempunyai karangan yang berjudul Al-Wushul Ila Al-Ushul. Kitabnya ini banyak kemiripan dengan kitab gurunya al-ghazali, al-mankhul dan kitab al-burhan karangan al-Haramain.

Imam Ghazali (505 H) mengarang kitab al-mustashfa dengan meramu dari beberapa kitab ushul fikih. Di antaranya karangan imam al-Haramain, al-Baqillani, Qadli Abdul Jabbar, dan Abu Al-Hasan Al-Bishri. Al-Ghazali meramu kitab-kitab karangan sebelumnya dengan sangat baik. Ia bisa memperpadat isi. Penjelasannya begitu runut dan materinya begitu sistematis. Kitab Al-Mustashfa dianggap kitab andalan dalam aliran Mutakallimin. Kitab ini tidak terlalu besar dan ringkas. Al-Mustashfa merupakan perpaduan antara dua kitabnya al-Mankhul dan Tahdzib al-Ushul.[6] Ilmu ushul fikih menjadi matang di tangan Al-Ghazali. Karena itulah ibn Khaldun menyatakan dalam kitabnya,

kitab terbaik di dalam aliran Mutakallimin adalah  kitab al-Burhan, Al-Mustashfa yang keduanya beraliran al-Asy’ary. Kemudian al-’Amdu dan syarahnya al-mu’tamad yang keduanya beraliran Mu’tazilah.

al-Baqillani menjadi starter karena al-Haramain dan al-Ghazali pernah berguru padanya. Lima tokoh tadi menjadi asas pokok bagi perkembangan ushul fikih selanjutnya. Al-Ghazali lah yang bisa meramu materi ushul fikih dari beberapa pemikiran pendahulunya dengan sangat baik dan sistematis. Ada beberapa ulama yang berhasil meresume karangan al-Ghazali ini. Dua orang berasal dari Malikiyah. [a] Abu Al-Walid ibn Rusyd Al-Hafid (595 H) dengan karangannya yang berjudul ad-Dloruri fi ilm al-Ushul. [b] ibn Rasyiq  (632 H) dengan karangannya lubab al-mahshul fi ilm al-ushul [c] Raudlah an-Nadzir karangan ibn Qudamah al-Hanbali (620 H ). Kitab ini dianggap sebagai karya yang banyak merujuk kitab al-Mustashfa. Kitab yang menjadi kitab standar madzhab Hanbali ini mendapat sambutan yang cukup meriah dikalangan madzhab al-Hanbali. Shofiuddin al-Hanbali (739 H) mengarang kitab dengan judul qawaid al-ushul mengikuti kontruksi konsep kitab raudlah an-nadzir. Kitab qawaid al-ushul juga sebagai resume terhadap kitabnya yang berjudul tahqiq al-amal. Kitab qawaid al-ushul ini kemudian diberi anotasi oleh Abdullah al-Fauzan dengan judul Taisir al-Wushul. Selain Shofiuddin al-Hanbali, ada ulama yang bernama Syamsuddin al-Ba’li yang meresume kitab Raudlah an-Nadzir. Syamsuddin al-Ba’li (709 H) memiliki murid yang bernama at-Thufi (716 H) yang juga meresume kitab Raudlah an-Nadzir dalam jangka waktu sepuluh hari.

Ada beberapa karangan yang lahir sebelum al-mustashfa dan setelahnya yang tidak mengakar pada karya-karya sebelumnya. Di antaranya,

Kitab al-faqih al-mutafaqqih karangan al-Hafidz al-Khatib al-Baghdadi (463 H). Kitab ini dianggap sebagai kitab pokok yang beraliran muhadditsin. Kitab ini dikontruks dari dua kitab, Ar-Risalah imam as-Syafi’i dan at-Tabshiroh karangan as-Syirazi (476 H). As-Syirazi, pengarang kitab al-Muhadzdzab menjadi tokoh besar dalam madzhab Syafi’iyyah. Kitab ushul yang pernah as-Syirazi karang setelah at-tabshirah adalah al-Luma’. Kitab al-luma’ ini kemudian diberikan anotasi oleh beliau sendiri dan oleh, [a] as-Syam’ani (489 H), ahli fikih Syafi’i yang dulunya bermadzhab Hanafi mempunyai karya Qawathi’ al-Adillah. Kitab ini dianggap kitab yang memberi sumbangsih besar dalam ushul syafi’iyyah. Kitab ini berisi kritikan terhadap madzhab mutakllimin madzhab hanafiyah. Secara khusus, kitab ini banyak mengkritik kitab karyanya ad-Dabbusi (430 H) dengan judul taqwim al-Adillah yang beraliran fuqaha’. [b] syarah al-Luma’ dengan judul at-tanqihat karya as-Suhrowardi (587 H).
Setelah al-Ghazali muncul dua sosok pembaharu dalam aliran mutakallimin. Mereka mampu memberikan anotasi dan eksplikasi yang cukup bagus. Mereka ialah al-Fakhru ar-Razi dan as-Saif al-Amudi.

Al-Fakhru ar-Razi (606 H) menelurkan karya ushul yang berjudul al-mahshul. Kitab ini merupakan resume dari kitab al-mustashfa dan al-mu’tamad. Resume ini bukan sekadar resume. Ia memberikan argumen baru dan kritikan terhadap pendapat yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Sepertinya ia ingin membentuk suatu bentuk pemikiran baru atau sintesa terhadap pemikiran sbelumnya. Kitab ini kemudian diresume lagi oleh dua al-Armawi. Kitab resume pertama berjudul al-hashil min al-mahshul karya murid ar-Razi sendiri, yaitu Tajuddin al-Armawi (653 H). Kitab ini menjadi bahan inspiratif bagi al-Baidlowi terhadap kitabnya al-Minhaj. Resume kedua: At-Tahshil Min Al-Mahshul karya Sirajuddin al-Armawi (682 H).
Ar-Razi juga menelurkan karya usul fikih dengan judul al-ma’alim yang kemudian dikomentari oleh ibn at-Tilmasi (644 H).

Tokoh pembaharu kedua ialah Saifuddin Al-Amudi (631 H) dengan karangannya yang berjudul al-ihkam fi ushul al-ahkam. Kitab ini merupakan resume dari kitab al-mustashfa dan al-mu’tamad. Kitab ini juga merujuk kitab al-mahshul karya ar-Razi. Sama dengan ar-Razi, beliau memberikan argumen-argumen baru, memberikan antitesa dan menetapkan madzhab. Sepertinya dari kitab ini, beliau ingin memberikan pemikiran ushul fikih baru dan menkontruks ushul fikih sebelumnya.

Al-Amudi dan juga ar-Rozi memiliki resume terhadap karya mereka sendiri. Resume al-Muntakhob karya ar-Razi dan muntaha as-sul karya al-Amudi. Anehnya, al-Amudi mengarang Al-Ihkam dan Al-Muntahanya pada saat menginjak umur delapan puluh tahun.

Nama kitab dua tokoh ini sama dengan nama-nama kitab yang mendahuluinya. Nama Al-mahshul sama dengan kitab al-mahshul karya ibn Al-Arabi Al-Maliki (543 H). Kitab ini sebagian besar merupakan materi dari kitab al-mankhul min ta’liqat al-ushul karya gurunya al-Ghazali. Karya al-Amudi yang berjudul al-Ihkam sama dengan kitab karya Ibn Hazm Adz-Dzahiri (456 H) yang berjudul al-ihkam fi ushul al-ahkam.

Shofiuddin al-Hindi (715 H) murid Sirojuddin Al-Armawi mencoba mengkolaborasikan dua kitab al-mahshul dan al-ihkam dengan nama nihayah al-wushul. Kemudian kitab ini diringkas sendiri dengan nama al-Fa’iq.

Setelah ar-Razi dan al-Amudi, muncul lagi dua tokoh pembaharu, Ibn al-Hajib (646 H) dan al-Baidlowi (685 H). Ibn Hajib sendiri merupakan murid dari al-Amudi. Ia meresume karya gurunya al-Ihkam dengan nama muntaha as-sul wa al-amal fi ilmay al-ushul wa al-jadal. Kitab ini lebih terkenal dengan nama mukhtashor al-kabir. Kitab ini kemudian diresume lagi dengan nama mukhtashor al-muntaha. Kitab inilah yang kemudian terkenal dan menyebar. Kedua, al-Baidlowi yang meresume karya al-Armawi al-hasil—ringkasan dari kitab al-Mahshul—dengan judul kitab minhaj al-ushul.

Setelah terbukunya karya al-Baidlowi dan Ibn Hajib muncullah karya-karya lain yang memberikan anotasi atau penjelasan terhadap dua kitab ini. Karya ibn Hajib diberikan anotasi oleh ‘Adlududdin Abdurrahman al-Iji (756 H). Syarah al-Iji ini kemudian diberikan catatan pinggir atau hasyiyah oleh Sa’duddin at-Taftazani al-Hanafi (793 H). As-Sayyid as-Syarif al-Jurjani (816 H) juga memberikan catatan pinggir terhadap mukhtashor ibn hajib. Kitab lain yang memberikan anotasi terhadap karya ibn Hajib ialah Abu ats-Tsana’ Syamsuddin al-Asfahani (749 H). Kemudian al-Babarti al-Hanafi (786 H) dengan judul kitab ar-rudud wa an-nuqud. Kitab ini sengaja dikarang untuk membangun ushul madzhab Hanafiah. Kitab ini juga sekaligus menolak pendapat-pendapat Al-Amudi, Ibnu Hajib dan Al-Baidlowi. Al-Babarti juga memiliki karangan berjudul at-taqrir yang menjadi syarah al-ushul karya al-Bazdawi. Kitab ar-rudud wa an-nuqud karangan al-Babarti memiliki nama yang sama dengan kitab yang dikarang Syamsuddin al-Karmani (786 H), yang menjadi murid langsung al-Iji. Dalam kitab al-Kasyfu ad-Dzunun misalnya, karya al-Karmani ini malah disebut sebagai karangan al-Babarti. Kitab ar-rudud wa an-nuqud karya al-Karmani merupakan syarah dari kitab mukhtashor ibn al-hajib. Kitab mukhtashor ibn hajib menurutnya merupakan kitab ushul terbaik. Syarah terbaik menurutnya adalah syarah yang dikarang gurunya al-Iji atau lebih terkenal dengan nama al-adldu.

Syamsuddin ibn al-Muflih (763 H) menelurkan karangan yang berjudul ushul al-fiqh yang kebanyakan terinspirasi dari mukhtashor ibn al-hajib. Karangan ini kemudian diringkas oleh ibn al-Laham al-Ba’li (803 H). Alauddin al-Mardawi (885 H) yang memiliki karya tahrir al-manqul wa tadzhib ilm al-ushul, kebanyakan mengambil sumber dari ibn al-Muflih dan ibn al-Hajib. Tahrir al-manqul ini kemudian ia berikan anotasi juga dengan judul kitab at-tahbir syarah at-tahrir.

Minhaj al-ushul karya al-Baidlowi juga banyak diberikan anotasi para penerusnya. Muridnya Fakhruddin al-Jarbardi (746 H) dengan judul as-siraj al-wahhaj. Al-Asnawi (772 H) juga memberikan anotasi terhadap karya al-Baidlowi dengan judul zawaid al-ushul dan juga nihayah as-sul. Syarah al-Asnawi kemudian dikoreksi oleh ulama’ kontemporer, semisal Muhammad Abu An-Nur Zahir dengan judul ushul al-fiqh. al-Muthi’i al-Hanafi (1354 H) mufti Mesir memberikan catatan pinggir terhadap karya al-Asnawi yang diberi judul sullam al-wushul syarah nihayah as-sul.

Al-Jazari (716 H) juga ikut ambil andil untuk memberikan syarah kitab al-minhaj yang ia beri judul mi’raj al-wushul. Al-Badhasyi (772 H) juga memberikan anotasi terhadap karya al-Baidlowi dengan judul Manahij al-Ushul.

Zainuddin al-Iraqi (806 H) menazamkan karya al-Baidlawi ini dengan nama an-najmu al-wahhaj. Anaknya, Waliyuddin al-Iraqi (826 H), kemudian memberikan syarah nazam ayahnya dengan judul al-ghaits al-hami’.

Tajuddin as-Subuki (771 H) memiliki syarah terhadap karangan ibn al-Hajib dan al-Baidlawi, yaitu Rof’u al-hajib syarah mukhtashor ibn al-hajib dan al-ibhaj syarah dari kitab minhaj al-ushul. Al-Ibhaj merupakan hasil karya ayahnya Taqiyuddin as-Subki. Sayang, takdir telah mengakhiri langkahnya untuk menyusun karya tersebut. Beruntung, ia memiliki anak yang produktif mengarang tulisan. Tajuddin as-Subki kemudian mengarang karya yang luar biasa. Kitab ringkas, padat dan holistik yaitu, jam’u al-jawami’. Kitab ini merupakan kitab yang disarikan kurang lebih seribu kitab.[7]

Karya ini banyak menarik antusiasme para pakar ushul untuk memberikan syarah, resume dan nazam. Az-Zarkasyi (794 H) misalnya memberikan anotasi jam’u al-jawami’ dengan judul tasynif al-masami’. Tasynif al-masami’ secara estafet disyarahi lagi oleh Waliyuddin Al-Iraqi dengan nama al-ghaits al-hami’ syarah jam’u al-jawami’.

Ibn Qasim al-Abbadi memberikan syarah juga terhadap jam’u al-jawami dengan judul al-ayat al-bayyinat ala indifa’ au fasad ma waqafat ‘alaihi mimma auroda ‘ala jam’u al-jawami.

Syarah jam’u al-jawami yang dianggap sempurna adalah al-badru at-tholi’ karangan Jalaluddin al-Mahalli. Syarah al-Mahalli ini kemudian dikasih catatan pinggir oleh al-Bannani (1198 H). Al-‘Atthor (1250 H) juga memberikan catatan pinggir yang kebanyakan merujuk karya ibn Qasim al-Ubbadi (880 H). As-Syarbini (1326 H) kemudian juga memberikan catatan dan komentar terhadap karya al-Bannani. Catatan dan komentar lain juga dilakukan oleh al-Maliki (1367 H).

Ulama’ yang meringkas jam’u al-jawami adalah Zakariya Al-Anshari (926 H) dengan nama lubb al-ushul. Kemudian karya ini dia anotasi sendiri dengan nama ghoyah al-wushul.

Ulama’ yang menciptakan nazam jam’u al-jawami ialah al-asymuni (900 H) dengan nama al-badru al-lami’ dan as-Suyuthi (911 H) dengan nama kitab al-kaukab as-sati’. Nazam as-Suyuthi ini juga beliau komentari sendiri. Ulama modern yang mencoba mensyarahi nazam karya as-Suyuthi adalah Muhammad al-Hasan al-Khadim dengan nama al-kaukab as-sati’.

Terbukunya tiga kitab ringkas karangan Ibn Al-Hajib, Al-Baidlowi dan Ibn As-Subki ini membuat karya madzhab mutakallimin terbukukan secara sempurna.

Setelah itu, ada kitab ushul fikih karangan Badruddin Az-Zarkasyi dengan nama al-bahru al-muhith. Kitab ini materinya sangat banyak. Al-bahru al-muhith mengkompilasikan beratus-ratus kitab dalam beberapa jilid. Kitab mampu menjelaskan masalah dengan gamblang dan dengan bahasa yang sedikit ringan.

Setalah era az-Zarkasyi, muridnya al-Barmawi (831 H) membuat nazam alfiyah yang bernama an-nubdzah al-alfiyyah fi al-ushul al-fiqhiyyah. Nazam ini kemudian ia syarahi sendiri dengan judul al-fawaid as-saniyah. Kebanyakan syarahnya ini mengutip dari kitab al-bahru al-muhith. Alfiyah al-barmawi ini kemudian disyarahi oleh al-mardawi dengan nama kitab at-tahbir syarah at-tahrir. Karangan ini menjadi syarah kitab al-Mardawi sendiri dengan judul at-tahrir. Al-Futuhi (972 H) kemudian membuat resume kitab at-tahrir. Kemudian resume ini beliau berikan anotasi sendiri dengan nama al-mukhtabar al-mubtakir syarah al-mukhtashor. Kitab ini lebih dikenal dengan nama syarah al-kaukab al-munir.

Murid al-Barmawi, ibn imam al-Kamiliah (874 H) memberikan syarah yang panjang atas kitab minhaj al-ushul karya al-Baidlowi dengan kitab yang berjudul al-wushul ila minhaj al-ushul. Kemudian kitab ini diringkas sendiri oleh beliau. Ringkasan inilah yang kebanyakan beredar di kalangan pelajar.

Imam as-Syaukani (1255 H) mengarang kitab irsyad al-fuhul yang kebanyakan juga merujuk pada kitab al-bahru al-muhith karya az-Zarkasyi. Kemudian muridnya yang bernama Shadiq Hasna Khan(1307 H) yang merupakan murid langsung As-Syaukani dengan nama ikhtishar irsyad al-fuhul fi hushul al-ma’mul.

Inilah rantai silsilah kitab aliran mutakallimin. Mutakallimin kebanyakan bermadzhab syafi’iyah, sebagian malikiah dan Hanabilah. Sedikit sekali madzhab hanafiah yang mengikuti pola madzhab ini.

oleh : Kholilur Rohman ringkasan dari risalah Muhammad Al-A’dzomi
silsilah kitab ushul fikih سلسلة المصادر

[1] Selain ar-Risalah, imam as-Syafi’I memiliki karangan dalam bidang ushul fikih, a. ibthol al-istihsan b. jima’ al-ilmi c. ikhtilaf al-hadits d. kitab al-qiyas

[2] Setidaknya ada lima ulama yang memberikan anotasi karya ar-Risalah pada masa awal-awal a. Imam Abu Bakar as-Shoirofi (330 H). b. Abul Walid an-Nisaburi (349 H) c. Al-Qaffal As-Syasyi al-Kabir (365 H) d. abu Bakar al-Jauraqi (388 H) e. abu Muhammad al-Juwaini/ ayah Imam al-Haramain (438 H)

[3] Kitab yang lahir dari tangan beliau di antaranya, amali ijma’ ahli al-madinah, at-tamhid fi ushul al-fiqh, al-muqni’ fi ushul al-fiqh

[4] Selain dua ulama’ tadi, ada As-Syarif Abu Yahya Zakariyya Bin Yahya Al-Hasani Al-Maghrabi Yang memberikan anotasi kitab al-burhan. Materi syarah kebanyakan kompilasi dari syarah al-Maziri dan al-Abyari

[5] Selain kitab al-uddah, terdapat kitab ushul fikih yang beliau karang, yaitu, mukhtashor al-‘uddah, al-kifayah, dan mukhtashor al-kifayah

[6] Ada kitab ushul yang beliau karang yaitu syifa’ al-ghalil fi bayani syibh wa al-mukhil wa maslik at-ta’lil

[7] Dalam persolan dikotomi antara ahlu al-hadits dan ahl ar-ra’yi, imam subuki berupaya mendamaikan kedua aliran ini. Ketika ahl al-hadits yang yang berpegang teguh pada al-qur’an dan as-sunnah berhadapan dengan ahl ar-ro’yu, tajuddin as-subuki mengupayakan kompromi dengan prinsip ahl ar-ro’yi yang berpegang teguh pada ra’yu. Menurutnya, tidak selamanya analisis nalar berseberangan dengan nash karena untuk memahami nash sendiri butuh nalar. Untuk itu dikotomi ahl ar-ra’yi dan ahl al-hadits perlu dihilangkan tanpa harus terjadi perpecahan dikalangan umat islam. menurut ulama ushul fikih, pemikiran ini diwarisi sejak zaman ibn al-hajib, al-amudi, dan ar-razi. Dalam upaya mendamaikan dua kelompok ini, as-subuki mengarang jam’u al-jawami.

http://mahad-aly.sukorejo.com/2013/11/eksplorasi-genealogi-kitab-ushul-fikih-aliran-mutakallimin/

Senin, 18 November 2013

Dibalik Dhoroba Zaiun 'Amron

Kenapa sih nama amrun harus ada wawu di depan huruf ro nya,
Kalian bingung kan gmana ceritanya, hehee..
..jgn bingung, karena kali ini saya bakal bercerita, lengkap dengan nash yang ada dalam ktb nya.. hehee..

Cerita ini diambil dari kitab
النظرات للشيخ مصطفى لطفي بن محمد لطفي المنفلوطي المتوفى ١٣٤٣ هجرية بمصر

Dalam jilid 1 halaman 307 di ceritakan
أراد داود باشا أحد الوزراء السالفين في الدولة العثمانية أن يتعلم اللغة العربية فأحضر أحد علماءها
سأل شيخه يوما ما الذي جناه عمرو من الذنوب حتى استحق أن يضربه زيد كل يوم ويقتله تقتيلا ويبرح به هذا التبريح المؤلم
وهل بلغ عمرو من الذل والعجز منزلة من يضعف عن الانتقام لنفسه وضرب ضاربه ضربة تقضى عليه القضاء الأخير
سأل شيخه هذا السؤال وهو يتحرق غيظا وحنقا ويضرب الأرض بقدميه
فأجابه الشيخ : ليس هناك ضارب ولا مضروب
وإنما هي أمثلة يأتي بها النحاة لتقريب القواعد من أذهان المتعلمين
فلم يعجبه هذا الجواب
فغضب عليه وأمر بسجنه
ثم أرسل إلى نحوي آخر فسأله كما سأل الأول فأجابه بنحو جوابه فسجنه كذالك
ثم مازال يأتي بهم واحدا بعد واحد حتى امتلأت السجون وأفقرت المدارس
وأصبحت هذه القضية المشئومة الشغل الشاغل له عن جميع قضايا الدولة ومصالحها
ثم بدا له أن يستوفد علماء بغداد فأمر بإحضارهم فحضروا وقد علموا قبل الوصول إليه ماذا يراد بهم
وكان رئيس هؤلاء العلماء بمكانة من الفضل والحذق والبصر بموارد الأمور ومصادرها
فلما اجتمعوا في حضرة الوزير أعاد عليهم السؤال بعينه
فقال داود الوزير ما هي جنايته
فقال له إنه هجم على اسم مولانا الوزير واغتصب منه الواو فسلط النحويون عليه زيدا يضربه كل يوم جزاء وقاحته وفضوله
يشير إلى زيادة واو عمرو وإسقاط الواو الثانية من داود في الرسم
فأعجب الوزير بهذا الجواب كل الإعجاب

وقال لرئيس العلماء :أنت أعلم من أقلته الغبراء وأظلته الخضراء فاقترح علي ما تشاء
فلم يقترح عليه سوى إطلاق سبيل العلماء المسجونين
فأمر بإطلاقهم وأنعم عليهم وعلى علماء بغداد بالجوائز والصلات

Di ceritakan : daud basya seorang gubernur dr daulah usmaniyah,ingin belajar bahasa arab,
Lalu dia menghadirkan salah seorang ulama dr ulama2 di negrinya,
Suatu hari dia bertanya kpd guru nya,
"apa kesalahan si amrun sampai2 si zaid memukul nya tiap hari"
"apakah amrun punya kedudukan lbh rendah dr zaid sehingga zaid bebas memukulnya,menyiksanya dan amrun tdk bs membela dirinya"
Si gubernur menanyakan ini smbil menghentakkan kakinya ke tanah smbl marah2,

Lalu gurunya menjawab :"tidak ada yg di pukul ,tdk ada yg memukul wahai gubernur,ini cuma permisalan saja yg di buat ulama nahwu supaya memudahkan untuk bljar ilmu lugat itu"
Lalu jwbn ini tdk memuaskan gubernur td,dan ia marah lalu ia penjarakan guru nya td,
Kmdyn ia menyuruh orang mencari ulama nahwu yg lain,lalu ia tanya kpd mereka spt pertanyaan itu,dan mereka jwb dgn jwbn spt ulama yg pertama td,
Lalu mereka jg terpenjara,satu per satu ulama negri itu tdk bs memuaskan gubernur dgn jwbn nya,akhirnya penuh lah penjara dan sunyi lah madrasah2 dr guru2 pengajar di karenakan ulamanya semua terpenjara,
Kejadian ini menjadi pembahasan dmana2 dan bgaimana mencri jalan keluarnya,
Kmdyn ia utus utusan untk menjemput para ulama2 ahli bahasa di bagdad lalu di hadirkan di hadapan nya,
Akhirnya pimpinan ulama yg paling alim dr para ulama bagdad ini berani maju menjawab pertanyaan gubernur td,
Maka gubernur daud bertanya :apa kesalahan amrun sehingga slalu di pukul zaid ?
Maka ulama td menjwb :
Kesalahan amrun adalah krn ia telah mencuri huruf waw yg seharusnya itu milik anda wahai gubernur,
Sambil ulama td meisyaratkan adanya huruf waw di kalimat amrun stlh ro,dan huruf waw yg saharusnya ada 2 di kalimat daud trnyata cuma ada 1,
Maka para ulama nahwu menguasakan si zaid untuk slalu memukul amrun,sbagai hukuman atas perbuatan nya itu,
Maka sangat puaslah gubernur dgn ini jwbn,dan memuji ulama td,
Lalu gubernur menawarkan hadiah,apa saja yg kamu kehendaki silahkan sebutkan,
Lalu ulama td menjawab : aku cuma minta agar para ulama yg anda penjarakan di bebaskan semuanya,
Maka gubernur mengabulkan nya,akhirnya para ulama itu bebas semuanya dr penjara,
Dan ulama2 dr bagdad td di beri hadiah skaligus diberi uang transport dan diantar kmbali ke negri mereka.

#'Alã kulli hãl

Jumat, 01 November 2013

Makna Sujud

Sesungguhnya orang yang sujud memiliki hati selembut kapas dan seharum kasturi,

1. Sujud mengandungi nilai persaudaraan. Semua mukmin bersujud tanpa membedakan warna kulit, kedudukan, kekayaan dan nasab. Sehingga sujud dapat menguatkan ikatan hati sesama mukmin. Seorang Raja sanggup menundukkan dirinya yang selama ini ditaat dan dihormati semata-mata kerana beriman kepada Allah yang Maha Berkuasa. Seorang yang kaya raya dan berpangkat sama menghinakan diri seperti si miskin ketika ia berada di hadapan Tuhannya. Kerana sujud persaudaraan akan terjalin dan kekuatan umat akan tertegak di bumi Allah ini..

2. Sujud mengandungi nilai pembersihan jiwa. Firman Allah Taala yang artinya “Dan mereka menyungkurkan muka sambil menangis sehingga mereka bertambah khusyu’. (Surah Al-Isra’: 109), Sesiapa yang bersujud maka ia telah menundukkan hatinya kepada Allah dan menyerahkan jiwa raganya kembali kepada Allah. Sesiapa yang menangis dan menyesali segala perbuatanannya kemudian ia sujud merendahkan dirinya kepada Allah dan kembali bertaubat kepadanya maka Allah SWT menggugurkan dosa-dosanya seperti bergugurannya daun-daun kering diatas tanah. Sabda Baginda SAW:.

3. Sujud mengandungi nilai membalas budi. Dia mengakui nikmat Allah yang dikaruniiakan kepada dirinya, dia bersyukur dengan meletakkan dahinya ke tanah di hadapan Allah yang Maha Pemberi Rezeki. Dia amat bergantung harap kepada Tuhannya untuk keselamatan dirinya di dunia dan akhirat. Hasbunallah wani’mal wakiil.

4. Sujud mengandungi nilai kemenangan. Dalam sujud seorang mukmin mengisytiharkan kemenangan ke atas syaitan sehingga membua tsyaitan menangisi perbuatan orang mukmin itu..

5. Sujud mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Sabda baginda SAW: ”Sedekat-dekat hamba kepada Allah iaitu ketika ia bersujud. Maka perbanyakkanlah berdoa.”

Sujud merupakan ubat kepada manusia yang mengalami penyakit iaitu:

1. Sakit bongkak dan sombong. 5 penyebab sombong:,
1) Wajah
2) harta
3) kuasa
4) ilmu
5) nasab,

Hendaknya orang yang berpenyakit ini menginsafi asal kejadian dirinya, Firman Allah Taala:”Dari tanah itulah kami menjadikan kamu dan kepadanya kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (Taha ayat: 55)

Maka perbanyaklah bersujud kepada Allah dan memohon ampunan kepadanya agar sisa hidup tidak terbuang sia-sia...

KAIDAH FIQIH

Amar Dan Kaidah-Kaidahnya
الأ مــر هــو طــلــب ا لــفــعــل مــن لأ عــلى ا لى ا لأ د نى
Amar adalah tuntutan melakukan pekerjaan dari orang yang derajatnya lebih tinggi kepada orang yang derajatnya lebih rendah.

BentukBentuk Amar

Fiil Amar contohnya : : QS 17 : 79
Fiil Mudhori yang didahului lam amr contohnya : QS 65 : 7
Lafad-lafad قــضىكــتــب – و جــبفــر ض
Isim Fiil Amar عــلــيــكــم
Masdar pengganti fiil contohnya : ا حـــســا نـا contohnya : QS 2 : 83
Kalam Khobar bermakna Insya contohnya : QS 2 : 228

Makna Amar selain makna perintah
1. Boleh contohnya : QS 2: 60
2. Ancaman contohnya : أ عــمــلـو ا مـا شــئــتــم
3. Sunah contohnya : :24 : 33
4. Petunjuk contohnya : QS 2 : 282
5. Memuliakan contohnya : 15 : 46
6. Menyamakan contohnya : QS 52 : 16
7. Penghinaan QS 2 : 65
8. Melemahkan QS 2 : 23
9. pernyataan terhadap nikmat ( imtinan ) contohnya : QS 6: 142
10. Penciptaan contohnya : 36 : 82
11. Penyerahan ( tafwid ) QS toha : 72
12. Mendustakan 2: 111
13. sedih ( talhif ) 3: 119
14. permohonan ( doa ) 2 : 201
15. Permintaan biasa contohnya : . mainlah kerumahku
16. angan-angan ( tamanni ) contohnya : memohon semoga muda kembali
17. sopan santun contohnya : hadits agar makan makanan yang letaknya dekatdengan tempat duduk.

Kaidah-Kaidah Amr
ا لأ صــل فى ا لأ مــر لـلــو جـو ب
Asal dalam perintah menunjukan arti wajib

ا لأ صــل فى ا لأ مــر لـلــو جـو ب و لا تـد لّ عـلى غـيـره ا لأ بــقــر يــنــة
Asal dalam perintah menunjukan arti wajib` kecuali adadalil yang memalingkanya.

ا لأ صــل فى ا لأ مــر لأ يــقــتـضى ا لــتــكــرا ر
Asal dalam perintah tidak menghendaki pengulangan

ا لــحــكــم يــد و ر مــع ا لــعــلّـة و جـو دا و عــد مـا
Hukum itu berkisar pada : ada atau tidak adanya illat

ا لأ صــل فى الأ مــر لا يــقـتـضى ا لــفــو ر
Asal dari perintah tidak menunjukan segera.

ا لأ مــر بــا لــشــيـئ أ مــر بــو ســا ئــلــه حـكــم ا لــمــقــا صــد
Perintah kepada sesuatu menjadi perintah padaperantaranya. Dan perantara itu hukumnya sama dengan yang dimakasud

مـالأ يــتــم ا لــو ا جــب ا لا بـه فــهــو و ا جــب
Tidak akan sempurna suatu kewajiban kecuali dengan sesuatuyang lain, maka sesuatu yang lain itu pun hukumnya menjadi wajib.

ا لأ مــر بــا لــشــيئ نــهــي عـن ضــدّ ه
Perintah terhadap sesuatu merupakan larangan darisebaliknya.

ا لأ مــر بــعـد ا لــنـهـى يــفــيــد ا لأ بــا حــة
Perintah yang jatuh setelah adanya larangan hukumnyaadalah boleh.

Kaidah NAHI (larangan)

ا لــنـهـي هـو طــلـب ا لــكــفّ عـن فــعــل مـن ا لأ عــلى ا لى ا لأ د نى
Larangan adalah tuntutan untuk meninggalkan perbuatan dariorang yang lebih tinggi derajatnya kepada yang rendah.

Bentuk – Bentuk nahi

Fiil nahi 17 : 32
Fiil mudori 56 : 79
lafal-lafal larangan حـرم – ا حــذ ر – ا تــر ك – خـطـر – نـهـى – د ع – ذ ر

Makna Nahi selain larangan
1) Makruh contohnya : hdits larang solat dikandang onta
2) Harapan, doa 2 : 286
3) Petunjuk 5 : 101
4) Menghibur ( I’tinas ) 9: 40
5) Angan-angan 32: 12
6) Biasa ( iltimas ) contohnya : jangan main kesana
7) Menjelaskan suatu akibat. Contohnya : menganggap mati orang jihad fisabililah 3 :169
Menjelaskan ( tanbih ) contohnya : jangan melarang jika engkau mengerjakan

Kaidah kaidah NAHI

ا لأ صــل فـى ا لــنــهـى لـلــتــحــر يــم
Asal pada larangan menunjukan arti haram

ا لــنــهــى عـن ا لــشــيـئ أ مــر بــضــد ه
Larangan terhadap sesuatu berarti perintah kebalikannya.

ا لأ صــل فـى ا لــنــهــى يــقــتــضـى ا لــفــســا د مــطــلــقـا
Asal larangan akan mengakibatkan kerusakan secara mutlak

ا لأ صــل فـى ا لــنــهـى يــقــتــضـى ا لــــتـكــر ا ر مـطــــلــقــا
Asal dalam larangan menghendaki adanya pengulanganseanjang masa.

‘AM ( UMUM )
ا لـعـا م هـو ا لـلــفـظ ا لـمـسـتــغـر ق لـجـمـيـع مـا يـصـلـح و ضـع و ا حـد د فـعـة

‘Am adlah lafal yang menujukan pengertian umum yangmencakup satuan-satuan ( afrad) yang ada dalam lafal itu tanpa pembatasanjumlah tettentu.

Menurut jumhur ulama, ‘amm dibangun dari khas. Oleh karenaitu khas lebih kuat dari ‘am. Maka ‘am dapat digugurkan ketika ditemukan khas.Sedangka khas tidak dapat digugurkan dengan adanya ‘amm.

Lafal-Lafal Yang menujukan ‘AMM

كــلّ يشى جــمــيــع
ا ل تــعــر يــف ا لــجــنــس ” ا لــبــيـع يـنــقـل ا لـمــلـكــيّــة لــفـظ ا لـمأأفـر د مـع

lafal jama yang dimakrifatkan dengan alif lamtarif jinsi.
lafal mufrod da jama yg dimakrifatkan dg idofat contohnya: و ا مـا بــنـعـمــة ر بـك

isim – isim maushul
isim-isim isyarat
isim –isim istifham
Isim nakiroh yang dinafikan contohnya : لا هـجـر ة بــعـد ا لــفــتـح

KAIDAH ‘AM

ا لـعـمـو م لا يـتصـو ر ا لأ حــكت م
Keumuman itu tidak mengambarkan suatu hokum.

ا لـمـفـهـو م لـه عـمـو م
Makna yang tersirat itu mempunyai bentuk umum.

ا لـمـخـا طـب يـد خـل فى عـمـو م خـطـا ب
Orang yang memerintahkan sesuatu masuk ke dalam pemerintah tersebut.

ا لـعـبـر ة بـعـمـو م ا لـلـفـــظ لا بــخـصـو ص ا لــسـبــب
Suatu ungkapan itu berdasarkan keumuman lafal, bukan kekhususan sebab.

ا لــعـمـل بـا لــعــا م قـبـل ا لـبـحـث عـن ا لـمـخــصّــص لا يـجـو ز
Mengamalkan lafal yang bersifat umum sebelum ada pengkhususantidaklah diperbolehkan.

عــمـوم ا لــعـا م ســمــو لــيّ و عـمـو م ا لــمــطــلــق بــد لــي ّ
Keumuman itu bersifat menyeluruh, sedangkan keumuman mutlak itu bersifat mengganti atau mewakili.

KHAS ( KHUSUS )

ا لـلــفـظ ا لـذ ى يـد لّ عـلى مـعـنى و ا حــد
lafal yang menunjukan makna tertentu.

ADA 2 JENIS TAKHSHIS

1) Takhshih Muttasil (bersambung)

Syarat contohnya : 2 : 228

Sifat 4 : 92

Goyah (maksud, tujuan) contohnya : . 5:6

badal ba’du min kulli contohnya : : haji bagi yang mampu

hal (keadaan) contohnya : larangan saat ketika mabuk 4 : 43

Dzorof makan dan zaman. Contohnya : masa zakat fitrah jadi sodakoh setelah sholatid.

2) Takhsih Munfasil (terpisah)

mentahsis qur’an dengan qur’an 2: 228 dengan 65 : 4

mentakhsis qur’an dengan sunah contohnya : warisan 4 :11 dengan kafir dan pembunuh

mentakhsis sunah dengan qur’an contohnya : hadits wudu dengan tayamum 4:43

sunah ditakhsis dengan sunah. contohnya : zakat tani 10 % dengan tidak wajib sebelum lima wasak

qur’an atau hadits ditakhsis dengan qiyas contohnya : hukum dera bagi pezna 100 kali 24 : 2 dengan qiyas hamba sahaya 50 kali.

qur’an ditakhsis dengan akal contohnya : wajib haji 3 :97 anak kecil dan orang gila tidak wajib.

hadits ditakhsis dengan mafhum (makna tersirat) contohnya: zakat satu kambing dari 40. hanya kambing diluar kandang mencari makan sendiri, tapi yang dikandang /dipelihara tidak wajib ( HR Bukhari )

penghususan dengan problem nyata karena darurat hukumnya boleh. Contohnya : Abdurahman bin Auf dan zubair boleh pakai sutera karena penyakit gatal.

Mutlaq dan Muqoyyad

Adalah lafal yang menujukan sesuatu yang tidak terbatas.

ا لــمــطــلــق هــو ا للــفــظ ا اــخــا ص لـم يــقــيـّــد بــقــيــد لــفــظــيّ يــقــلّــل شــيــو عــه
Mutlaq adalah suatu lafadz tertentu yang tidak terikat oleh batasan lafadz yang mengurangi keumumannya.

ا لـــمــقــيّــد هـو ا للــفــظ ا لــخــا ص قــيّــد لــفــظــيّ يــقــلّــل شــيــو عــه
Muqayyad adalah lafadz tetentu yang dibataasi oleh batasan lafadz lain yang mengurangi keumumannya.

ا لـمـطـلـق عـلى ا طــلـقــه مـا لـم يــقـم د لــيـل عـلى تــقــيــد ه
Hukum mutlaq ditetapkan berdasarkan kemutlakannya sebelum ada dalil yang membatasinya.

ا لــمـقــيـد بـا ق عـلى تــقــيــيـد ه مـا لـم يــقـم د لـيــل عــلى ا طــلا قــه
Lafal muqayyad tetap dihukumi muqayyad sebelum ada bukti yang memutlakannya.

ا لــمــطــلـق لا يــبـقـى عـلى ا طــلا قــه ا ذ ا يـقـو م د لـــيـل عــلى تــقــيـيـد ه
Lafal mutlak tidak boleh dinyatakan mutlak jika telah ada yang membatasinya.

ا لــمـقــيـد لا يـبـقـى عـلى تـقـيـيـد ه ا ذ ا يـقـو م د لـــيـل عـلى ا طـــلا قــه
Muqayyad tidak aka tetap dikatakan muqayyad jika ada dalil lain yang menunjukan kemutlakannya.

ا لــمـطــلـق يـحـمـل عـلى ا لـمـقـيـّتد ا ذ ا ا تّــفــقـا فى ا لــســبـب و ا لــحـكــم
Mutlak dibawa ke mukoyyad jika sebab dan hukumnya sama.

ا لـمــطــلـق يـحــمــل عــلى ا لــمــقــيـد ا ن ا خــتــلـفـا فى ا لــســبـب
Mutlak itu dibawa ke mukoyyad jika sebabnya berbeda

ا لـمــطــلــق لا يــحــمـل عـلى ا لــمــقــيــد ا ذ ا ا خــتــلـف فى ا لــحــكـم
Mutlak itu tidak dibawa ke mukoyyad jika yang berbedahanya hukumnya

ا لــمــطــلـق لا يــحــمـل عـلى ا لــمــقــيــد ا ذ ا ا خـــتــلـفـا فى ا لــســبــب و ا لــحــكــم
Mutlak itu tidak dibawa ke mukoyyad jika sebab dan hukumnya berbeda

MANTUQ ( YANG TERSURAT ) DAN MAFHUM (YANG TERSIRAT )

Mantuq adalah lafal yang kandungan hukumnya tersurat didalam apa yang diucakan.

Mafhum adalah lafal yang kandungan hukumnya ada dibalikarti mantuq

مــاد لّ عــلــيــه ا لـلــفــظ فى مــحــلّ ا لــنّــطــق

Manthuq adalah sesuatu yang ditunjukan oleh lafadz sesuaidengan yang diucapkan

مــاد لّ عــلــيــه ا لـلــفــظ لا فى مــحــلّ ا لــنّــطــق

Mafhum adalah sesuatu yang ditunjukan oleh lafadz, bukanarti harfiyyah yang diucapkan

Mafhum terbagi 2 :

mafhum muwafaqoh yaitu menetapkan hukum dari maknanya yang sejalan atau sepadan dengan makna yang tersurat. Contohnya : khomar itu haram maka semua yang memabukan hukumnya haram.

Mafhum Muwafaqoh terbagi 2 :

fahwal khitab
yaitu apabila yang tersirat lebih utama dari yang tersurat.

Contohnya : QS 17 :23 menyebut "AH" saja dilarang, apalagi memukul. 17 : 32 jangan mendekati zina. Mafhummuwafaqoh fahwal khitab nya adalah mendekati zina saja diharamkan, apalagi melakukannya.

Lahnul Khitab,
yaitu apabila yang tidak diucapkan (tersirat) sama hukumnya dengan yang diucapkan (tersurat).

Contohnya : memakan harta anak yatim 4 : 9. mafhummuwafaqoh lanhul khitab nya contohnya : dengan membakar, atau merusaknya.

mafhum mukhalafah adalah menetapkan hukum kebalikan dari hukum mantuqnya

Mafhum mukhalafah terbagi:

mafhum dengan sifat
contohnya : . hadits zakat kambing, maka mafhummukhalafahnya adalah binatang yang dikandangin, diberi makan tidak wajib zakat.

mafhum dengan goyah
contohnya : . 2 : 187 mafhum mukhalafahnya apabila fajard atang, maka hentikan makan dan minum, artinya puasa dimulai.

mafhum dengan syarat
contohnya : . 65: 6, mafhum mukhalafahnya adalah jika istri yang ditalak tidak hamil, maka mantan suami tidak harus memberi nafkah.

mafhum dengan bilangan
contohnya : . 24 : 4, mafhum mukhalafahnya tidak boleh mendera.

مــفــهـوم ا لــمــو ا فــقــة حــجــة

Mafhum muawafakoh ( makna tersirat yang sesuai ) dapat dijadikan hukum.

MUJMAL DAN MUBAYYAN

Mujmal adalah lafal yang mencakup kemungkinan segalakeadaan dan hukum yang terkandung di dalam lafal tersebut. Ia bersifat globaldan menyeluruh sehinga membingungkan dan tidak dapat diketahui secara jelasmaksudnya tanpa danya mubayyan ( penjelas )

Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan, “"afal yang pengertiannya tidak dapat dipahami dari lafal itu sendirin apabila tidak ada qarinah yang menjelaskannya"

ا لــمــجــمــل هــو ا للــفــظ ا لــذ ي لا يــد لّ بــصــيــيــغـتــه عــلى ا لــمــر ا د

Mujmal adalah lafadz yang sighotnya tidak menunjukan apa yang dimaksud ( tidak jelas )

ا لــمــبــيــّـن هــو ا للــفــظ ا لــذ ي يــد لّ بــصــيــيــغـتــه عــلى ا لــمــر ا د

Mubayyan adalah lafadz yang sigotnya jelas menunjukan apa yang dimaksud.

تــأخــيــرا لـبـــيــا ن عــن و قـــت ا لــحــا جـة لا يــجــو ز

Mengakhirkan penjelasan pada saat dibutuhkan tidak dibolehkan.

تــأخــيــرا لـبـــيــا ن عــن و قـــت ا لـــخــطــا ب يــجــو ز

Mengakhirkan penjelasan pada saat diperintahkan hukumnya boleh.

MURADIF (SINONIM) DAN MUSYTARAK (HOMONIM)

ا لـلــفـظ ا لــمــتـعــد د لــمـعــنى و ا حــد ا

murodif adalah dua kata atau lebih, satu arti

ا لـلـــفـظ ا لــذ ى يــد ل عــلى مـعــنـيـن ا و ا كــثـر

musytarak adalah satu kata mempunyai dua arti atau lebih

أ يــقــا ع كل مــن ا لــمــر ا د فــيــن مــكا ن ا لا خــر يــجــو ز ا ذ ا لــم يــقـم عــلــيــه طــا لــع شــر عــيّ

Mendudukan dua muradif pada tempat yang lain (mempertukarkannya) itu diperbolehkan jika tidak ada ketetapannya.

أ ســتــعــمــا ل ا لــمــشــتــر ك فى مــعــنـيــه ا و مــعــا نــيــه يــجــو ز

Penggunaan Musytarak menurut makna yang dikehendakiataupun untuk beberapa maknanya itu diperbolehkan.

ZAHIR DAN MUAWWAL / TAKWIL

Zahir adalah lafal yang menunjukan arti secara langsungdari nas itu sendiri, tanpa memerlukan qarinah (penyerta) lain yang datang dari luar untuk memahami maksudnnya. Oleh karenanya lafal zahir tidakmemungkinkan adanya takhshis, takwil, dan naskh.

Takwil adalah memalingkan arti zahir kepada makna lain yang memungkinkan berdasarkan dalil / bukti.

ا لــفــر و ع يــد خــلــه ا لــتــأ و يــل ا تــفــا قــا

Masalah cabang dapat dimasuki takwil berdasarkan contohnya: sensus.

ا لأ صــو ل لا يــد خــلـه ا لــتــأ و يــل

Masalah ushuludin (aqidah) tidak dapat menerima takwil.

NASAKH DALAM NAS

ر فــع ا لــشــا ر ع حــكــمــا شــر عــيّــا بــد لــيــل مــتــر ا خ
Naskh adalah membatalkan pelaksanaan hukum dengan hukum yang datang kemudian.

ا بــظــا ل ا لــعــمــل بــا لــحــكــم ا لــشــر عــىّ بــد لــيــل مــتــر ا خ عــنــه
Naskh adalah membatalkan pengamalan sesuatu hukum syuara’dengan dalil yang datang kemudian.

ا لــقــطــعــى لا يــنــســخــه ا لــظــنّ
Dalil qath’I tidak dapat dihapus dengan dalil zanni.

مـالا ت ا لأ فــعــا ل مـقـصـو د ة و مـعـتـبـر ة
Ukuran sesuatu perbuatan tergantung kepada tujuan

مـالا يــتـمّ ا لـو ا جـب ا لا بـه فـهـو و ا جــب
Sesuatu yang menjadikan kewajiban sempurna karenanyaadalah wajib

د ر أ ا لـمـفــا ســد مــقـــد م عــلى جــلـب ا لــمــصــا لــح
Mencegah kerusakan lebih diutamakan dari mencari kebaikan

ا لــر خــص لا تــنــا ط بــا لـمــعــا صــى
Kemudahan tidak dikaitkan dengan maksiat

ا اــعــبــر ة فى ا لـعـقــو د بــا لـمـقــا صــد و ا لــمــعــا نـى لا بـا لا لــــفـــا ظ و ا لــمــبــنى
Perkara yang dianggap dalam akad-akad adalah berdasarkankepada maksud dan iniat, bukan dengan lafadz dan perkataan.

مــاحــرم أ خــذ ه حــر م أ عــطــا ؤ ه
Sesuatu yang diharamkan mengambilnya, diharamkanmemberinya

مــاحــرم أ ســـتــعــمــا لـه حــر م أ تــخــا ذ ه
Perkara yang haram menggunkannya, haram mengambilnya

مـنا ســتــعــجـل شــيــئـا قــبــل أ و ا نــه عــو قــب بــحــر مــا نــه
Barang siapa yang bertindak cepat terhadap sesuatu sebelumwaktunya, maka dibalas dengan sebaliknya.

ا ذ ا ا جــتــمــع ا لــحــلا ل و ا لــحــر ا م غــلــب ا لــحــر ا م
Apabila berkumpul halal dengan haram, maka yang dimenangkanadalah yang haram

ا لــضــر ر يــز ا ل شــر عــا
Bahaya harus dilenyapkan menurut syara
Contohnya : memelihara diri dari merokok

ا لــضــر ر لا يــزا ل بــا لــضــرر
Bahaya itu tidak boleh dilenyapkan dengan bahaya.
Contohnya : Memakan manusia karena lapar

يــحــتـمــلا لــضــرر ا لــخــا ص لــد فــع ا لــضــر ر ا لـــعــا م
Ditangguhkan bahaya khusus demi menolak bahaya umum.
Contohnya : Pembunuh harus dibunuh mengamankan jiwa-jiwa yang lain.
Tangan pencuri dipotong demi menyelamatkan harta manusia.

يــرتــكــبأ خــفّ ا لــضــرر يــن لا تّــــــقــا ء أ شــدّ هـــمــا
Yang lebih ringan diantara dua bahaya bisa dilakukan demi menjaga yang lebih membahayakan.
Contohnya : seorang suami boleh di tahan ( bui) apabilamenengguhkan memberi nafkah istrinya.
Seorang istri boleh ditalak karena bahaya, dan suami tidakmemberi nafkah kepadanya
Meninggalkan syarat sholat lebih ringan dari pada meninggalkan shalat.

ر فـــع ا لــضــرر مــقــدّ م عــلى جــلــب ا لــمــنــا فــع
Menolak bahaya didahulukan dari pada menarik keuntungan
Contohnya : Seorang pemilik dilarang mengelola hartamiliknya apabila membahayakan orang lain.
Orang puasa, makruh berkumur dan menghisap air kedalamhidung secara berlebihan

ا لــضــرو رت تــبــيــح ا لــمــحــظــو ر ا ت
Keterpaksaan dapat diperkenankan melakukan hal-hal yangdilarang.
Contohnya : . Orang yang sangat lapar terpaksa harusmemakan bangkai , kalau tidak membahayakn orang lain. Orang yang enggan membayarhutang bias diambil hartanya tanpa ijin dia.

ا لــضــرور ا ت تــقــدّ ر بــقــد ر هــا
Keterpaksaan itu diukur menurut tingkat keadaannya.
Contohnya : . Orang yang dalam kedaan terpaksa tidak bolehmemanpaatkan sesuatru yang haram kecuali sekedar dapat menahan lidah.

Hukum rukhsoh menjadi gugur karena telah hilang sebabnya.

ا لــمــشــقــة تـــجــلــب ا لــتــيــســيــر

Kesulitan menuntut adanya kemudahan.
Contohnya : Semua rukhsoh dari Allah untuk membuatseorang dan meringankan beban mukalaf dengan adanya 7 Sebab, yaitu :
1. Bepergian
2. Sakit
3. Paksaan
4. Lupa
5. Tidak tahu
6.umumul bala (gangguan umum)
7. Kekurangan

ا لـــحــر ج شــر عــا مــر فــو عــا
Kesempitan menurut syara bias ditiadakan dan diterima.
Contohnya : Saksi wanita dalam hal tidak bias dilakukanlaki-laki cacat dan buta.

ا لــحــا جــة تــنــز ل مــنــز لــة ا لــضــر و را ت فــى ا بــا حــة ا لـــمــحــظــو ر ا تـــ
Kebutuhan itu bias menduduki tingkatan keterpaksaan dalamkebolehan memeroleh sesuatu yang haram

KAIDAH ISTISHAB

مـايـثـبـتبـالـيــقــيـنلا يـزو ل بــا لـشــّــكّ
Apa yang ditetapkan oleh sesuatu yang meyakinkan, makatidak dapat dihilangkan dengan sesuatu yang meragukan.

ا لأ صــل بـــقـا ء مـا كا ن عـلى مـا كا ن حــتىّ يــثـبـت مـا يــغـيــره
Asal sesuatu adalah ketepan yang telah ada menurut keadaansemula sehingga terdapat suatu ketetapan yang mengubahnya.

ا لأ صــل فى الأ شـــيـاء ا لأ بــا حـة
Hukum asal segala sesuatu adalah boleh

ا لأ صــل فى الأ شـــيـاء ا لأ بــا حـة حــتى يــد ل ا لــد لــيـل عـلى تــحــر يــمــهــا
Hukum sesuatu pada asalnya adalah boleh sehingga ada dalilyang mengharamkannya.

ا لأ صــل فى ا لأ نــســا ن ا لــبــرا ء ة
Asal pada manusia adalah bebas

بهاالصلاحوالفسادللعملالنيةشرطلسائرالعمل
An niyatu sartun lisairil ‘amal biha sholaku wal fasadulil’amal
(Niat itu adalah syarat bagi semua amalan dalam ibadahdengan niat akan diketahui baik & buruknya amalan).

في جلبِها والدرء للقبائح الدِّينُ مبني على المصالح
Ad dinu mabniyun ‘ala masholihi fi jalbiha wa dar iililqobaiihi
(Agama ini bangun untuk kebaikan dan maslahat dalampenetapan syariatnya dan untuk menolak kerusakan)

يُقدَّمالأعلىمن المصالحِ فإذا تزاحم عدد المصالحِ
Jika dalam suatu masalah bertabrakan antara manfaat satudengan yang lainnya maka di dahulukan & diambil manfaat yang paling besar /tinggi

وضدُّهتزاحمُالمفاسدِفارْتَكِبالأدنىمن المفاس
wadhidduhu tazakumul mafasiddi fartakabu adna minalmafasidi
Adapun lawannya jika bertabrakan antara mudharat satudengan yang lainya maka diambil mudharat yang paling kecil dan ringan

ن قواعد الشريعة التيسير في كل أمر نابه تعسير م و
wamin qowai’idis sari’atit taisiru fi kulli amrin naabahuta’sir
Dan termasuk qaidah syari’ah adalah mudah dalam setiapperkara sebagai ganti dari kesulitan ( kesusahan )

وليسواجببلااقتدارولامُحَرَّممع اضطرار
Walaisa wajibun bilaa iqtidarin walaa muharomun ma’aadhdhoror.
Tidak menjadi kewajiban jika tidak mampu mengerjakan dantidak ada keharaman dalam keadaan darurat ( bahaya )

وكلمحظورمع الضرورة بقدر ما تحتاجه الضرورة
Wa kullu mahthurin ma’ad dhorurohi bi qodri maa tahtaajuhuad dhorurotu
Setiap hal yang dilarang itu di bolehkan jika dalamkondisi yang darurat, tetapi sesui dengan kadar yang dibolehkan saja untukmenghilangkan darurat itu.

وترجعالأحكاملليقينفلايزيلالشكُلليقين
Wa turja’ul ahkamu lillyaqini falaa yuziilus sakkulillyaqini
Dan dikembalikan hukum itu kepada yang diyakini dankeraguan tidaklah membatalkan keyakinan itu.

والأصلفي مياهنا الطهارة والأرض والسماء والحجارة
wal aslu fi miyahinaa at thohaarotu wal ardhu was sama’uwal hijaarotu
Hukum asal air tanah, langit dan batu adalah suci.

الأصلفي الأبضاع واللحوم والنفس والأموال التحريم
al aslu fil abdho’i wal luhuumi wan nafsi wal amwaali attahrim
Hukum asal dalam hal perkawinan ( kemaluan ), daging hewandan jiwa/nyawa dan harta adalah haram.

والأصلفي عاداتنا الإباحة حتى يجيء صارف الإباحة
Wal aslu fi ‘aadaatinal ibaahati hatta yajii u soorifulibahah
Dan hukum asal dalam kebiasaan ( adat istiadat ) adalahboleh saja sampai ada dalil yang memalingkan dari hukum asal.

في العبادات التحريم الأصل
Al aslu fil ibaadati at tahrim
Hukum asal ibadah adalah haram.

الوسائلتعطىأحكامالمقاصد
al wasailu tu’thii ahkamul maqosid
Semua sarana suatu perbuatan hukumnya sama dengantujuannya ( perbuatan tersebut ).

الإقرار حجة قاصرة
Al ‘Iqrooru Hujjatun Qoo Shiroh
Pengakuan adalah Sebuah Hujjah yang Terbatas