Tampilkan postingan dengan label CINTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CINTA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Maret 2014

Pasangan Halal Antara Yang Baik Dengan Yang Buruk

Siapa saja pasti mengharapkan, mengimpikan, dan bercita-cita ingin memiliki pasangan halal yang baik. ‘Baik’ di sini tidak berorentasi pada zhahirnya, semisal berupa harta, kedudukan, dan keelokan fisik, bahkan pintar atau alim pun juga tidak. Maksud ‘baik’ yang tepat dalam konteks ini adalah sifat atau karakter seseorang.

Kaya, kedudukan yang mapan atau tinggi, apalagi sekedar fisik yang ideal, semua ini bukanlah orentasi utama dalam memilih pasangan. Karena masing-masing tersebut bukan standart untuk dijadikan syarat ketika menentukan pasangan. Semua itu hanyalah formalitas dalam penilaian cinta. Jika ada yang menjadikan sebagai syarat, berarti orang tersebut sama sekali tidak memperhatikan syarat utama dalam memilih pasangan, yaitu “baik”.

Lalu bagaimana dengan pintar atau alim? Tunggu dulu! Pintar atau alim tidak bisa dijadikan standart bagi seseorang memiliki karakter atau sifat yang baik. Banyak orang alim atau pintar, tapi sifat atau karakternya tidak baik. Kendati demikian, pintar atau alim tetap menjadi salah satu bahan pertimbangan ketika menentukan pasangan.

Lantas seperti apa seseorang yang memiliki sifat atau karakter yang baik? Secara umum, ada beberapa sifat atau karakter seseorang dinobatkan sebagai orang baik, yaitu jujur, amanah, bertanggung jawab, penyabar, kebiasaannya baik, pemaaf, menerima apa adanya, peduli pada orang lain, dan tentu ibadahnya bagus, dan lain sebagainya. Dalam cinta, seseorang dianggap baik semisal penyayang, pengertian, perhatian, mau berkorban untuk orang yang dicintai, cara bicaranya lembut dan romantis, sikapnya ramah penuh kasih sayang, dan lain sebagainya.

Kurang-lebih begitulah gambaran orang baik. Orang yang tidak memiliki sifat atau karakter tersebut tentu dianggap orang tidak baik, bahasa antonimnya buruk, keji, jelek, jahat, bejat, atau diistilahkan dengan akhlak atau moralnya tidak bagus.

Ironisnya, ada orang dianggap tidak baik karena menjadi korban dari kesimpulan orang-orang yang didasarkan kepada beberapa fakta saja, cerita belaka, atau anggapan pribadi yang tidak berdasarkan apa-apa. Dari semua ini lalu disimpulkan bahwa orang tersebut tidak baik. Sebenarnya, orang tidak baik itu karena dua hal, bisa karena memang karakternya dan mungkin karena kondisi sekitar.

Jadi, kita jangan terlalu gampang menvonis orang lain tidak baik. Kita harus mempertimbangkan banyak hal. Mungkin, jika memang sifat atau karakternya, sulit juga kita maklumi. Tapi, jika ketidakbaikannya karena kondisi, ini yang perlu kita cuci. Artinya, ketika ada orang tidak baik karena kondisi sekitar, kita jangan langsung main hakim dengan menyatakan orang tersebut tidak baik. Orang yang seperti ini biasanya diungkapkan, “Sebenarnya dia baik, hanya saja karena beberap hal”. Semisal ada orang mencuri karena mendesak, pasti orang-orang akan mengatakan –khususnya orang yang mengerti-, “Orang ini baik, hanya saja karena dia lapar dan tidak memiliki uang, akhirnya dengan terpaksa dia mencuri.”

Rumus menobatkan “orang tidak baik” seharusnya begini, jika memang ada fakta, selidiki terlebih dahulu, kira-kira apa sebabnya, apa mungkin itu benar, dan apakah fakta itu memang kebiasaannya. Jika berupa cerita-cerita yang didengar dari mulut ke mulut, harus cerdas menilai cerita tersebut, jangan langsung mengambil keputusan, “orang itu tidak baik”. Dan, apalagi nilai ketidakbaikan orang lain hanya anggapan pribadi belaka, yang diukur dengan diri sendiri. Masih mending jika diukur dengan diri sendiri tanpa unsur apa-apa, khawatir diukur dengan penilaian sinis dan egois.

Oke! Kita kembali pada pembahasan “pasangan halal”. Dalam hal ini, ada tiga bagian, ada orang baik dengan yang baik, ada orang buruk dengan yang buruk, dan ada orang yang baik dengan orang yang buruk.

#Orang baik dengen yang baik

Menerima seseorang yang baik, siapa saja bisa. Karena memang itu yang dikehendaki dalam memilih pasangan. Merupakan suatu anugerah Allah jika kita baik mendapatkan pasangan yang baik pula. Namun, jangan pernah merasa baik ketika kita mendapatkan pasangan yang baik. Ketika kita merasa seperti itu, berarti kita masih belum baik. Kita cukup bersyukur saja, tidak perlu merasa apalagi disebarluaskan dengan ungkapan, “Pasanganku orang baik, lho”.

Ingat! Mungkin saja kita mendapatkan orang baik karena diri kita masih belum baik (sekedar merasa saja), sehingga harus ada orang lain untuk merubah kita menjadi yang baik. Jika kita memang baik, berarti orang baik yang menjadi pasangan kita akan menjadi penjaga kebaikan kita dan bahkan yang akan membuat kita lebih baik.

Jika kita memang ingin mendapatkan pasangan yang baik, kita jangan pernah merasa “baik”. Kita selalu berupaya saja menjadi yang terbaik, dengan menjaga ucapan, tingkah, kebiasaan, dan niat. Insyallah dengan begitu, kita akan diberikan pasangan yang baik dari Allah. Amin…

#Orang buruk dengan yang buruk

Nau’zdubillah. Semoga macam yang kedua ini tidak pernah terjadi. Jika terjadi, bagaimana kondisi kehidupan ini? Pasti kondisinya menjadi rusak dan gelap. Karena, jika satu keburukan dikumpulkan dengan keburukan yang lain lalu menyatu, akan menjadi keburukan yang besar dan kuat lalu menyebar luas. Semisal dalam satu keluarga, suami istri sama-sama buruk, lalu kedua orang tua ini mengkader anak-anaknya, cucu-cucunya, bahkan keturunannya menjadi buruk juga. Bayangkan apa yang akan terjadi dalam keluarga tersebut? Jika sampai ada banyak keluarga yang serperti itu? Gak kebayang bagaimana kondisi kehidupan ini. Na’udzubillah…

# Orang yang baik dengan yang buruk

Orang baik memdapatkan pasangan halal orang yang buruk. Atau, orang buruk mendapatkan pasangan halal orang yang baik. Untuk yang pertama pasti dianggap kerugian. Untuk yang kedua juga pasti dianggap keberuntungan.

Hemmm… Sulit memang jika apa-apa diukur dengan rugi dan untung. Sebenarnya dalam hal pasangan, kaitannya dengan sabar dan syukur. Orang yang baik mendapatkan pasangan yang buruk adalah ujian yang harus dijalani dengan sabar. Sebaliknya, orang yang buruk mendapatkan pasangan yang baik merupakan anugerah yang harus disyukuri.

Sesungguhnya, harus dipahami bahwa orang baik itu ada yang sejak awal memang baik dan ada orang yang memiliki potensi untuk menjadi baik. Hal inilah yang sering kali tidak dipahami ketika mendapatkan pasangan yang tidak baik. Terlalu mendambakan yang terbaik sehingga hati tertutup untuk melihat orang yang memiliki potensi “baik”.

Akibatnya, ketika tidak mendapatkan pasangan yang baik, merasa doanya tidak dikabulkan atau merasa Allah tidak adil dengan dalih, “Aku ini baik, kok bisa mendapatkan pasangan yang tidak baik?”. Orang seperti inilah yang tidak baik, karena dalam dirinya masih ada kesombongan atau keangkuhan.

Semisal, seseorang yang rajin belajar, bersih-bersih, ibadah, dan selalu kerja keras, ternyata mendapatkan orang yang serba pemalas, malas belajar, orangnya jorok, ibadahnya juga males-malesan. Atau, seseorang yang penyabar, nerima apa adanya, bicaranya santun, sikapnya ramah, dan dermawan, ternyata mendapatkan pasangan pemarah, suka yang uwah, bicaranya nyerocos, sikapnya gak karuan, dan pelit. Hemmm…

Mungkin orang yang baik ditakdirkan mendapatkan yang tidak baik, karena Allah memiliki tujuan agar merubah dia menjadi baik, sebagaimana Allah mengutus Rasulullah di tengah-tengah orang Jahiliyah untuk merubah mereka. Artinya, orang baik tersebut adalah “Rasulullah” bagi pasangannya yang buruk, yang akan memberikan cahaya dan mengantarkan pada jalan Allah. Ungkapan lain, orang baik tersebut menjadi hidayah bagi pasangan yang buruk. Harus tetap husnuzhzhan pada takdir Allah. Husnunzhzhan merupakan “pelarian” yang tepat ketika kenyataan tidak sesuai dengan kehendak kita.

Rasulullah bersabda,

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَبَرَ عَلىَ سُوْءِ خُلُقِ امْرَأَتِهِ أَعْطَاهُ اللهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ مَا أَعْطَى أَيُّوْبَ عَلَى بَلاَئِهِ

“Barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan istrinya maka Allah swt. akan memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan Allah swt. kepada Nabi Ayyub as. atas cobaan yang diterimanya”.

وَمَنْ صَبَرَتْ عَلَى سُوْءِ خُلُقِ زَوْجِهَا أَعْطَاهَا اللهُ مِثْلَ ثَوَابِ آسِيَةَ امرَأَةِ فِرْعَوْنَ

“Dan barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan suaminya maka Allah swt. memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan kepada Asiyah istri Fir’aun”.

#Kisah tentang pasangan halal (istri atau suami) yang memiliki sifat dan karakter buruk

Tentang kisah Asiyah lengkapnya begini, ketika Nabi Musa as. mengalahkan para tukang sihir Fir’aun, keimanan Asiyah semakin mantap. Keimananya kepada Allah sebenarnya sudah lama tertanam di dalam hatinya, dan ia tidak menyatakan Fir’aun (suaminya) sebagai Tuhan. Begitu Fir’aun semakin jelas mengetahui keimanan istrinya, maka ia menjatuhkan hukuman kepadanya.

Kedua tangan dan kakinya diikat. Asiyah ditelentangkan di atas tanah yang panas, wajahnya dihadapkan ke sinar matahari. Manakala para penyiksanya kembali, Malaikat menutup sinar matahari sehingga siksaan itu tidak terasa. Belum cukup siksaan itu dilakukan Fir’aun, ia kembali memerintahkan algojonya supaya menjatuhkan sebongkah batu besar kedada Asiyah.

Manakala Asiyah melihat batu besar itu hendak dijatuhkan padanya, ia berdoa kepada Allah, “Rabbi, ibni ly ‘indaka baitan fil jannah” (Wahai Allah, Tuhanku, bangunkanlah untukku disisi-Mu sebuah gedung di Surga) (QS. At-Tahrim, ayat 11).

Segera Allah memperlihatkan sebuah bangunan gedung di surga yang terbuat dari marmer berwarna mengkilat. Asiyah sangat bergembira, lalu ruhnya keluar menyusul kemudian barulah sebongkah batu besar itu dijatuhkan pada tubuhnya sehingga beliau tidak merasakan sakit, karena jasadnya sudah tidak mempunyai nyawa.

Begitulah kisah seorang istri yang ternyata tetap sabar menjalani agamanya meski hidup bersama suami yang sama sekali tidak memiliki sifat dan karakter yang baik. Berikut ini cerita tentag suami yang bersabar atas keburukan istrinya.

Dalam kisah lain diriwayatkan bahwa, ada seseorang bermaksud menghadap Umar bin Khattab hendak mengadukan perihal perangai buruk istrinya. Sampai ke rumah yang dituju orang itu menanti Umar ra. di depan pintu. Saat itu, ia mendengar istri Umar mengomeli dirinya, sementara Umar sendiri hanya berdiam saja tanpa bereaksi.

Orang itu bermaksud balik kembali sambil melangkahkan kaki seraya bergumam, ”Kalau keadaan amirul mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku”. Bersamaan itu Umar keluar. Ketika melihat orang itu hendak kembali, Umar memanggilnya dan bertanya, ”Ada keperluan apa?”.

Orang itu menjawab, ”Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak mengadukan perihal istriku lantaran suka memarahiku. Tetapi begitu aku mendengar istrimu sendiri berbuat serupa, maka aku bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata, “Kalau kedaan Amirul Mukminin saja diperlakukan istrinya seperti itu, bagaimana halnya dengan diriku”.

Lalu Umar berkata kepadanya, ”Saudara, sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari istriku karena adanya beberapa hak yang ada padanya. Istriku bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu membuatkan roti untukku. ia selalu mencucikan pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku, padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tentram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan istriku. karena itu, aku menerimanya sekalipun dimarahi”.

Lelaki itu berkata lagi, “Amirul mukminin, demikian pulakah istriku?”

Umar menjawab, ”Ya, terimalah marahnya. Karena yang dilakukan istrimu tidak akan lama, hanya sebentar saja.”

Sabtu, 01 Maret 2014

Mengaji Cinta Agar Bersikap Dewasa

Kalau hanya gerbang dan tembok yang menjadi penghalang, saya kira kita tahu bagaimana cara menghadapinya, mengapa harus memberontak dan menentang dunia, jika kamu tidak mampu mendapatkan apa yang telah hilang dalam hidupmu..? Buat apa menggerakkan revolusi, jika dunia baru itu akan menjadi kegersangan emosional.

Setiap manusia pasti pernah merasakan jatuh cinta. Cinta yang hinggap akan mengalahkan dan melumpuhkan keegoan manusia. Keras kepala akan dikalahkan oleh cinta. Laki-laki akan tunduk pada titah sang pujaan hatinya layaknya sang Kleopatra.

Cinta mengajari manusia untuk bersikap dewasa.

Cinta mengajari manusia untuk berkreasi, melakukan evaluasi diri, saling menghargai, saling menyayangi, saling membenahi, tidak saling meninggi, saling memberi motivasi, melakukan transformasi diri, mengenal sang Ilahi, tidak saling menghakimi, tidak saling mendhalimi, berempaty, tidak saling menghianati.Cinta mengajari manusia untuk menjadi manusia sejati, yang berideologi, dan beridentitas diri yang berjiwa Qur’ani.

Sang puitis Gibranis juga berpartisipasi mengapresiasikan cinta dalam ungkapannya

Cinta merupakan sebuah esensi yang alami pada diri manusia. juga merupakan pengalaman-pengalaman histories. Setiap perjalanan hidup selalu dibimbing oleh prinsip cinta. Cinta sering kali melakukan keselarasan hidup. Bahkan kadang menjadi penyebab rusaknya kehidupan. Namun senantiasa cinta selalu membawa untuk memelihara dunia. Dalam kedamaian dan keabadian. Sebuah cinta sangat membutuhkan ketulusan. Cinta mengajarkan seluruh makhluk hidup terutama penuntun bagi manusia. Cinta yang disertai ketulusan adalah…..Suatu cinta yang bebas dari api pengharapan tersembunyi. Cinta juga sangat tidak mengenal ruang dan waktu

Cintailah kasihmu yang sekadarnya. Yang tidak mendahulukan emosi akibat rasa cinta yang berlebihan. Karena cinta seperti itu akan berdampak fatal terhadap kejiwaan seseorang.

Cinta yang berlebihan akan merubah yang bathil menjadi hak.

Cinta yang berlebihan akan merubah cara pandang seseorang ke arah kecondongan.

Cinta yang belebihan akan merubah sikap tidak pantas, menjadi pantas bahkan mengambil jalan pintas hanya untuk sebuah penyatuan.

Kasihmu juga manusia biasa. Dia juga akan mengalami kebosanan seperti yang kamu rasakan. Dia juga akan mengalami sedikit keraguan. Jadi untuk apa dalam bercinta, kamu terlalu berlebihan, entar kalau salah satu diantara kalian berpaling, apakah akan terjadi saling menyalahkan..dan merasa dirugikan..? ingat cinta tidak mengajari kalian bersikap seperti itu. Cinta tidak patut disalahkan, kalianlah pemegang kunci utama dan sebagai pemain drama yang dituliskan sang novelis alam raya.

[Kesungguhan dalam beramal sholeh karena dimotivasi rasa rindu untuk berjumpa dan memandang wajah kekasihnya dengan hati yang total, pasrah, dan terfokus hanya kepada Tuhannya].

(Klassikal)

Bagaimana jadinya ketika bisikan hasrat telah mencapai puncak grafiknya..?

tak ada satupun argument yang mampu memberikan jawaban.

Sebab adakah bahasa pikiran yang sedikit saja

mau mengerti satu dimensi kegelisahan

yang keberadaannya jauh dititik tertinggi dari perasaan manusia..?

Rabu, 26 Februari 2014

Kenali Calon Pasangan Lebih Dalam

Jika hubungan pernikahan tanpa didasari cinta, maka ketentraman dalam rumah tangga sulit diraih. Menjalani hidup bersama orang yang tidak dicintai hanya akan membuat kita merasakan hampa, gersang, dan usang. Sedikit pun rasa bahagia tak dapat dirasakan, justru penyesalan yang terus menyala.

Rasanya memang sulit, jika harus menikahi seseorang sedangkan kita tidak ada perasaan cinta atau kecenderungan yang membuat kita ingin menikahinya, meskipun kriteria yang lain sudah terpenuhi.

Tentang hal tersebut dapat direnungkan dalam penyataan hadits berikut,

قَالَ مُسَدَّدٌ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ ، حَدَّثَنَا عَاصِمٌ الأَحْوَلُ ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الله ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ ، قَالَ : خَطَبْتُ جَارِيَةً مِنَ الأَنْصَارِ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم ، فَقَالَ لِي : رَأَيْتَهَا فَقُلْتُ : لاَ فَقَالَ : اذْهَبْ فَانْظَرْ إِلَيْهَا ، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَوَالِدَيْهَا ، فَنَظَرَ أَحَدُهُمَا إِلَى صَاحِبِهِ ، فَقُمْتُ ، فَخَرَجْتُ ، فَقَالَتِ الْجَارِيَةُ : عَلَيَّ بِالرَّجُلِ قَالَ : فَرَجَعْتُ ، قَالَ : فَرَفَعَتْ نَاحِيَةَ خِدْرِهَا ، وَقَالَتْ : إِنْ كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم أَمَرَكَ أَنْ تَنْظُرَ فَانْظُرْ ، وَإِلاَّ فَإِنِّي أُحَرِّجُ عَلَيْكَ أَنْ تَنْظُرَ قَالَ : فَنَظَرْتُ إِلَيْهَا فَتَزَوَّجْتُهَا ، فَمَا تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً كَانَتْ أَحَبَّ إِلَيَّ ، وَلاَ أَكْرَمَ عَلَيَّ مِنْهَا.

Hadits di atas menjelaskan, suatu saat pernah ada sahabat Rasulullah yang ingin menikahi seorang wanita dan Rasulullah menanyakan kepadanya, “Apakah kamu sudah melihatnya” dan ketika sahabat itu mengatakan belum, maka Rasulullah menyuruhnya kembali dan melihat dulu wanita tersebut.

Dari peristiwa tersebut, ada satu pertanyaan, mengapa Rasulullah meminta sahabat itu untuk melihat wanita yang akan dinikahinya? Jawaban yang memungkinkan adalah untuk menumbuhkan perasaan yakin dan tak ada penyesalan setelahnya.

Artinya memiliki kecenderungan hati kepada wanita yang akan dinikahi juga dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung pernikahan itu sendiri. Saya sendiri setuju akan hal itu, meskipun di sini bukan selalu bermakna rasa cinta tapi memiliki alasan lain yang menguatkan untuk menikahi seseorang, seperti perasaan nyaman atau suka dan cocok dengan pasangan yang akan dinikahi memang hal yang penting.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ada seorang wanita yang menolak dikawinkan ayahnya. Lalu ia mengadukan hal itu kepada Nabi. Setelah Nabi mendengar aduan perempuan tersebut, Nabi menginginkan ia merelakan apa yang dilakukan ayahnya (mengawinkan dia dengan laki-laki yang ia tidak kehendaki). Beberapa kali Nabi memujuk ia sampai tiga kali. Ketika Nabi melihat ia masih tetap pada pendiriannya (tidak mau kepada laki-laki yang dipilih ayahnya), Nabi bersabda, “lakukanlah apa yang engkau kehendaki”. Tetapi kemudian wanita itu berkata, “saya perkenankan apa yang dilakukan ayah, tetapi saya ingin agar para ayah itu tahu bahwa mereka tidak punya hak apa-apa dalam masalah ini”

Hadits di atas menceritakan tentang seorang perempuan dan ayahnya yang sama-sama memiliki kehendak. Perempuan itu berkehendak untuk memilih cinta sesuai kehendak hatinya. Sementara ayahnya berkehendak agar anaknya menikah dengan laki-laki yang menjadi pilihannya. Memang sulit bahkan mustahil menentukan pilihan yang sama-sama berkehendak, apalagi kehendak cinta yang berlawanan dengan kehendak orang tua. Begitulah tradisi yang sering kali terjadi dalam percintaan, khususnya percintaan ala Siti Nurbaya.

Pemahaman lain dari hadits tersebut, Rasulullah tidak memaksa seseorang yang memang sama sekali tidak memiliki keinginan (suka, cinta, dan sayang) untuk menikah dengan orang yang tidak dikehendakinya. Artinya, Rasulullah juga mempertimbangkan perasaan seseorang yang kosong dari rasa suka dan cinta. Karena itu, Rasulullah bersada:

اذْهَبْ فَانْظَرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

Pernyataaan Rasulullah di atas menjelaskan, bahwa ketika ada orang hendak menikah, maka dia harus mengetahui siapa seseorang yang akan dia nikahi. Karena hal demikian itu lebih patut mengekalkan hubungan pernikahan.

Rasulullah menyuruh orang yang hendak menikah untuk mengetahui seseorang akan dinikahi dengan menggunakan fi’il amar “انظر” tidak menggunkan fi’il amar “ر”. Kedua fi’il amar tersebut –secara umum- memiliki makna yang sama, yaitu melihat. Tapi –secara khusus- kedua lafad tersebut memiliki perbedaan yang signifikan. Fi’il amar “ر” digunakan untuk makna melihat sesuatu untuk diketahui, tapi upaya mengetahuinya tidak dituntut untuk lebih dalam. Artinya, yang penting tahu. Sementara, fi’il amar “انظر”. Upaya mengetahui sesuatu itu dituntut agar lebih dalam. Artinya, obyek yang dilihat harus benar-benar diketahui secara dtail.

Dengan demikian, pemahaman hadits tersebut, menjelaskan bahwa kita harus benar-benar-benar mengetahui, memahami dan mengerti seseorang yang hendak kita nikahi, demi mencari kecocokan yang kemudian menumbukan rasa suka, cinta bahkan sayang.

Untuk memahami seseorang, tentu tidak hanya sekedar melihatnya saja, apalagi mencukupkan satu kali perjumpaan. Oleh sebab itu, hadits di atas menggunakan fi’il amar “انظر”. Makna lafad tersebut tidak hanya melihat, tapi juga berpikir dan merenungkan. Tentu ketika kita berpikir dan merenungkan membutuhkan waktu yang cukup lama, guna memperoleh hasil yang maksimal dan meyakinkan. Lebih-lebih dalam hal menumbuhkan rasa suka, cinta dan sayang. Itu sangat membutuhkan proses yang lebih lama.

Proeses penjajakan pada seseorang untuk memahami dirinya (kepribadiannya) dan lalu menumbuhkan rasa cinta. Bukti adanya cinta bisa diketahui dari komentmen untuk setia sampai jenjang pernikahan dan bahkan sampai mati. Jika hanya sekedar bersenang-senang sesaat, itu tindakan birahi yang bejat.

Jika ada yang mengatakan menjalin cinta itu haram, maka sebenarnya yang dihukumi bukan cintanya, tetapi menghukumi aktifitas yang dilakukannya. Aktifitas birahi yang dibungkus seolah didasari rasa cinta dan sayang. Padahal tidak. Karena dengan adanya jalinan cinta bisa menumbuhkan kasih sayang, akan menjadikan orang yang akan menjalani rumah tangga tidak memiliki beban hati, batin dan pikiran, karena dengan cinta semuanya menjadi pasrah. Jika sudah pasrah, apapun yang terjadi pada keluarganya akan dijalani dengan sabar dan bersukur.

Dengan begitu, ibadahnya tidak akan terganngu, justru akan lebih istiqamah dan khusyuk. Begitulah yang dikehendaki Nabi, kenapa beliau menuyuruh sahabat yang hendak menikah harus melihat lalu memperthatikan perempuan itu, karena agar setelah menikah tidak ada penyesalan yang mengakibtakan kehidupannnya tertekan dan kemudian pernikahan itu tidak menjadi ladang pebuatan dosa.

Karena, jika pernikahan itu membuat seseorang menyesal, hidupnya akan penuh dengan kebimbangan yang kemudian mengakibatkan rawannya pertengkaran, penganiyaan, pengkhianatan, penyiksaan, dan perselingkuhan. Na’udzubillah.

Kamis, 06 Februari 2014

KEHADIRAN CINTA

Cinta tak memerlukan mata untuk melihat....
karena tanpa mata kita masih bisa merasa akan hadirnya....

Dia ada saat bahagia
Atau pun saat terluka...

Jantung berdegup menahan gejolak
Saat senyumnya hadir menjelma...

Dia ada di setiap langkah
Dia ada di setiap detak nadi...

Namun kadang cinta...
Mampuh membuat luka di dada
Menorehkan perih yang begitu menyiksa..

Sabtu, 01 Februari 2014

Kau tak perlu tau Surat Cintaku

Pada malam yang sunyi ini disertai nyanyian jangkrik di belakang kamarku dan suara kodok yang saling bersahutan, aku telah menulis surat cinta untukmu sebanyak dua buah. Isinya sama, tentang cinta yang sia-sia. Namun, surat-surat ini tak akan kuberikan padamu. Cukup kutulis saja tentang perasaanku itu. Aku tak ingin kau mengetahuinya terlebih untuk membacanya. Selain juga karena adanya larangan dari pesantren untuk berhubungan dengan lain jenis. Selanjutnya, surat-surat ini akan kubuang. Aku hanya berharap suatu saat ada orang yang menemukan kemudian ia membaca dan membuangnya kembali, sampai berkali-kali, sampai surat-suratku tak terbaca dan menyatu dengan bumi. Kalau ini terjadi, bagiku sudah cukup aku bermimpi, aku pernah menjadi kekasihmu.

Surat Pertama

Pagi-pagi sekali aku beranjak dan bersemangat untuk menaruh surat yang telah aku buat agar tidak ketahuan seorangpun, terlebih Pak Satpam yang istiqomah menjaga tempat dimana tempat tersebut akan menjadi sasaran suratku. Surat yang pertama selanjutnya kutaruh di suatu tempat tersebut yang di istilahkan oleh ikhwan santri sebagai Gerbang Putri, tempat di mana pertama kali dengan tak disengaja aku menatap wajahmu yang begitu bersinar. Tempat yang menjadi saksi pertemuan kita. Aku ingat, saat itu air hujan gerimis jatuh menimpa jilbab indahmu itu.

Saat kutaruh surat Ini aku membayangkan orang yang menemukan suratku adalah anak-anak yang tengah ikut orang tuanya mengirim putri-putrinya. Saat anak itu menemukan surat ini, ia pasti akan bergembira, mengharap apa yang terisi di dalam amplop warna pink itu adalah uang. Anak itu akan berteriak, “Aku menemukan uang…!”.

Ibunya yang melihat amplop berwarna pink itu akan merebutnya sambil berbohong, “Kau masih tidak boleh membuka amplop itu. Amplop ini isinya surat, bukan uang…!”.

Dengan cemberut anak itu menyerahkan apa yang baru ditemukannya.

Isinya surat apa, Bu?”, anak itu bertanya setelah ibunya selesai membuka dan membaca suratku ini.

Cinta

Apa itu cinta, Bu?”

Kau belum boleh tahu, Nak.”

“Kalau begitu apakah boleh aku minta kertas-kertas yang isinya cinta itu, Bu!”

“Untuk apa?”

“Membuat pesawat kertas untuk mainan.”

“Bagus itu, biar Ibu yang membuatkan.”

Jadilah tulisan-tulisan cintaku menghias sayap, tubuh, dan kepala pesawat kertas mainan itu. Pesawat kertas itu dilempar ke sana-ke sini, terbang kian-kemari, sampai akhirnya terdampar di ranting pohon jambu di depan gerbang putri.

“Sudah mari kita pulang, Nak. Memang pantas nasib pesawat kertas itu di sana. Biar hancur oleh hujan…!”

Aku terhenyak mengembangkan lamunanku. Betapa sia-sia aku menulis surat cinta untukmu, Salsabila. Ternyata perasaan cintaku tak bisa menaklukan orang lain.

~~o0o~~

Surat Kedua

Setelah surat yang kedua ini kumasukkan dalam amplop putih dan kutulis buat Salsabila, sama seperti surat pertama. Tapi, pada suratku yang kedua aku sengaja memasang fotoku, sedangkan yang pertama tidak. Aku titipkan surat itu pada anak-anak tetangga yang sekolah tiap pagi ke komplek putri untuk diletakan di bawah beranda WISMA santri putri yang ramai dikunjungi santri putri bersama adik mereka saat dikirim.

Sepuluh menit kemudian, setelah aku menitipkan surat itu dengan imbalan permen, aku menduga surat itu telah berhasil diletakkan di bawah beranda WISMA. Aku membayangkan adik kecil yang imut yang pernah aku kasik permen saat dia ke koperasi untuk membelikan kitab buat mbaknya, yang akan menemukan surat ini.

“Ada surat, Mbak!”, anak kecil itu berteriak pada Mbaknya.

“Sini, biar aku yang membuka, kamu masih kecil tidak boleh membaca surat.”

“Memangnya itu surat apa, Mbak?”

“Ini pasti surat cinta.”

“Surat cinta itu apa, Mbak?”. Santriwati berusia belasan tahun itu tak membalas pertanyaan adiknya. Ia membaca dengan cermat surat itu.

“Isinya apa, Mbak?”

“Kau belum boleh mengerti.”

“Tapi, itu foto siapa, Mbak?”. Anak kecil itu terus mem-borbardir pertanyaan kepada Mbaknya.

“Mbak tidak tahu, apa adik mengenal orang ini?”

Anak kecil itu mengerutkan keningnya.

“Apakah kau mengenalnya?”

“Iya, aku mengenalnya. Orang itu pernah memberikan permen ke aku waktu membeli kitabnya Mbak di koperasi putra. Tapi, aku tidak tahu dia itu siapa…!”

“Itu namanya kamu tidak mengenal, Bloon”.

Anak kecil itu nyengir dihina Mbaknya.

“Tapi, Mbak. Boleh aku menjadikan surat ini sebagai perahu kertas…!”, pinta anak itu.

Diberikannya surat itu pada adiknya. Kemudian anak kecil itu secepat kilat melipat-lipat kertas itu menjadi perahu. Dilabuhkannya perahu kertas itu beserta fotoku pada kolam di samping WISMA santri putri.

“Hore…, perahunya berjalan,” anak kecil itu berteriak girang sambil menepuk-nepukkan tangannya ke kolam agar perahu tersebut tetap berjalan. Tapi, tidak berapa lama kemudian perahu kertas itu hanyut dan akhirnya tenggelam.

“Mbak, perahunya hanyut tenggelam. Kenapa, ya?”

Pertanyaan anak kecil itu seakan-akan nyata dan mengagetkan lamunanku. Ah, Salsabila, betapa nasib cintaku ditakdirkan hancur. Terus apa yang masih kutunggu darimu, Salsabila. Aku tahu kalau kita sudah tidak bisa bersatu, karena ku tahu bahwa kau sudah menjadi milik orang lain. Tapi, kenapa aku masih berharap akan datangnya sebuah keajaiban. Terkadang masih ada hasratku untuk menolak kenyataan itu. Saat itu anganku akan menghadirkanmu yang tiba-tiba datang dan mengatakan padaku, “Apa yang terjadi pada kita bukanlah takdir…!”

Senin, 13 Januari 2014

Surga Akan Dipenuhi Para Pecinta

HADITS CINTA
Versi shohih bukhari, juz II hal.200 “Bab Manaqibul Umar bin khattab ra”.

Imam bukhari mendapat hadits ini dari Sulaiman bin harb dan Hammad bin zaid.
Keduanya mendapatkan hadis ini dari Tsabit dan dari Anas bin malik ra.

Anas bin malik bercerita: Sesungguhnya ada seorang lelaki yang bertanya kepada baginda nabi Muhammad saw tentang hari kiamat.

Ia bertanya begini: ”Kapankah hari kiamat itu terjadi?”

Nabi balik bertanya: Memang apa yang kau siapkan untuk menyambutnya?”

Si lelaki itu menjawab: Tidak adaKecuali aku sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya saw.

Nabi berkata: Engkau kelak akan bersama orang yang engkau cintai !!

Anas bin malik ra meneruskan ceritanya dengan berkata: Tidaklah ada kebahagiaan yang pernah kami rasakan seperti kebahagiaan ini, yaitu mendengar ucapan nabi saw yang berbunyi: Engkau kelak akan bersama orang yang engkau cintai !!

Lanjut Anas bin malik ra: ”Saya mencintai nabi saww, Abu Bakar dan Umar. Saya berharap kelak bisa bersama mereka dengan modal CINTA-ku ini terhadap mereka, kendati amal ku tak seperti amal mereka.
--------------------------------------------------------------
Masya Allah
Subhanallah
Bagaimana dengan anda?

Sudahkan anda benar benar mencintai Allah swt?
Sudah terbalaskan cinta anda oleh-Nya?
Bertepuk sebelah tangan, atau justru perbuatan anda membuat Dia murka?

Berapa besar cinta anda kepada baginda nabi Muhammad saw?
Kepada sayyidina Abu bakar ra?
Kepada sayyidina Umar bin Khattab ra?
Masih dalam taraf wajar atau berlebihan?
Atau biasa biasa saja?

Apa modal anda untuk menghadapi hari kiamat nanti?

Mari kita menggapai surga dengan CINTA !!!

I LOVE YOU FULL :)

Selasa, 07 Januari 2014

Rindu Yang Berpahala

Ketika rindu mendera

Kegalauan pun menyiksa

Namun, ibadah akan menjadi cahaya

"Rindu ini selalu memaksa langkahku untuk menuju ke arahmu"

Begitulah apa yang dirasakan oleh seseorang yang dilanda cinta. Ketika kehadiran saling berjauhan, hanya rasa rindu yang dia rasakan. Semakin jauh dan semakin lama jarak dan waktu memisahkan, maka semakin kuat rindu mendera.

Rasa rindu pasti selalu memaksa langkah kaki untuk berjumpa dengan orang yang dirindui. Kehendak rindu hanya ingin menuanaikan perjumpaan dalam simpuh kebersamaan. Lalu, saling mengadukan rindu dengan bercengkrama dalam ruang romantisme yang mencipta simbol-simbol kasih-sayang.

Bayangan bagi seseorang yang didera rindu tak lain -memang-mencipta ruang romantisme yang terhiasi dengan bunga-bunga imajinasi yang berwarna-warni. Kemudian, berkehendak menjadikan bayangan itu berwujud nyata, senyata impian rindu.

Bagi mereka yang tak mampu melawan kehendak rindu, akan gampang terpengaruh untuk mewujudkan bayangan itu. Sehingga, selalu saja ingin menunaikan perjumpaan. Rasanya, semua waktu ingin dijadikan kesempatan hanya untuk menciptakan kebersamaan. Ini bagi mereka yang tidak cerdas mengendalikan perasaan.

Namun, bagi mereka yang mampu melawan kehendak hati, ketika kerinduan memaksa langkahnya untuk menuju ke arah seseorang yang dirindui, dia tidak gampang terpengaruh untuk mengikuti kehendak rindu. Dia tetap mengendalikan perasaannya, meski bayangan-bayangan romantisme kebersamaan tergambar dalam benaknya. Dia selalu menjaga langkahnya agar tidak gampang terpengaruh oleh ajakan rindu.

Memang, ketika cinta semakin dalam sementara kehadiran saling berjauhan, kerinduan akan selalu dan semakin kuat mendera hati. Ketika rindu kuat mendra, hati dan perasaan pasti gelisah dan kegalauan pun menyiksa. Namun itu akan menjadi kenikmatan hati disaat kita mampu mengendalikan perasaan dengan cara berdzikir dan berdoa. Saat rindu meminta langkah kita untuk menuju pada ruang kehadiran bersama, kita harus menahannya dengan ingat kepada Allah. Allah pasti akan membuat hati kita merasakan kenikmatan yang tiada tara dalam kerinduan.

Rindu yang mulia dan berpahala adalah rindu yang diam-diam saling mendoakan. Mentautkan rindu dengan berdzikir, bershalawat, dan berdoa. Insyaallah dengan begitu, kita akan menemukan jalan yang terbuka luas untuk melangkahkan cinta menuju rido Allah.

Sajadah menjadi tempat pengaduan rindu. Dzikir menjadi ungkapan untuk melampiaskan kerinduan. Doa menjadi media untuk memohonkan hati agar selalu tertaut dengan orang yang dirindui, dan terikat dengan rahmat-Nya.

Kita harus menjadikan rindu sebagai motivasi dan inspirasi untuk melaksanakan ibadah. Jadikan rindu sebagai wasilah untuk meraih rido Allah. Salah satu tanda cinta karena Allah adalah ketika rindu mendera, kita kembalikan hati kepada Allah dengan cara bersujud, berdzikir, dan berdoa.

Menikmati rindu dengan cara beribadah merupakan kemuliaan yang pasti mendapatkan tempat yang istimewa di sisi Allah. amin…

AKU JUGA TAU

ﻛﻨﺖ ﻋﺎﺭﻓﺔ، ﺇﻧﻚ ستبعدني
ﻛﻨﺖ ﻋﺎﺭﻓﺔ، ﺇﻧﻚ ﺃﻧـــــﺎﻧﻲ،

Aku tau bahwa kau akan menjauhiku. Aku tau betul bahwa kau memang egois

ﻛﻨﺖ ﺑﻀﺤﻚ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻲ ﻳﻤﻜﻦ، ﺃﻟﻘﻰ ﻓﻴﻚ ﺁﺁﺁﻩ، ﻓﺮﺣﺔ ﺯﻣـــــﺎﻧﻲ،

Aku menertawakan diriku sendiri, karna telah beranggapan bahwa aku akan menemukan kebahagiaan hidupku bersamamu

ﻣﺎ ﺑﻘﻮﻟﺶ ﻗﻠﺒﻚ ﺑﻌﻨﻲ ﻟﻴﻪ؟ ﻣﺎ ﺑﻘﻮﻟﺶ ﻟﻴﻪ ﺧﺪﻋـــــﺘﻨﻲ؟

Aku tak sudi bertanya pada hatimu; kenapa ia mengecewakanku. Aku juga tak sudi bertanya padamu; kenapa kau berpaling dariku

ﺑﻘﻮﻝ ﻟﻘﻠﺒﻲ ﺭﺣﺖ ﻟﻴﻪ، ﻟﻘﻠﺒﻪ ﻋﻤﺮﻩ ﻣﺎ ﺍﺣﺒـــــﻨﻲ؟

Tapi aku yang harus bertanya pada hatiku sendiri; kenapa kau (hatiku) mengharapkan kedamaian dari hati dia, yang selama ini tak pernah mencintaiku

ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ، ﻛﻨﺖ ﺣﺎﺳﺔ، ﺇﻥ ﻗﻠﺒﻚ ﻣﺶ ﻣﻌـــــﺎﻳﺎ،

Sejak semula, aku merasa bahwa hatimu enggan bersamaku

ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ، ﻛﻨﺖ ﺑﺎﻋﻤﻞ ﻧﻔﺴﻲ، ﻣﺶ ﻓﺎﻫﻢ ﺍﻟﺤـــــﻜﺎﻳﺔ،

Sejak semula, aku berpura-pura seolah aku tak faham dengan semua yang terjadi

ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ، ﻛﺎﻥ ﻏﺮﺍﻣﻲ ﻛﺬﺑﺔ ﺣﻠـــــﻮﺓ،

Sejak semula, asmaraku ini adalah kebohongan yang terasa indah

ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ، ﻛﻨﺖ ﺩﺍﺋﻤﺎ، ﺑﺎﺟﺮﻱ ﻭﺍﻫﺮﺏ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻬـــــﺎﻳﺔ،

Sejak semula, aku selalu menghindar dan berlari dari kenyataan akan akhir kisah cintaku ini
ﻭﻫﻲ ﺫﻱ ﺍﻟﻨﻬـــــﺎﻳﺔ

Dan inilah akhir dari semuanya

ﻣﺎ ﺑﻘﻮﻟﺶ ﻗﻠﺒﻚ ﺑﻌﻨﻲ ﻟﻴﻪ؟ ﻣﺎ ﺑﻘﻮﻟﺶ ﻟﻴﻪ ﺧﺪﻋـــــﺘﻨﻲ؟

Aku tak sudi bertanya pada hatimu; kenapa ia mengecewakanku. Aku juga taksudi bertanya padamu; kenapa kau berpaling dariku

ﺑﻘﻮﻝ ﻟﻘﻠﺒﻲ ﺭﺣﺖ ﻟﻴﻪ، ﻟﻘﻠﺒﻪ ﻋﻤﺮﻩ ﻣﺎ ﺍﺣﺒـــــﻨﻲ؟

Tapi aku harus bertanya pada hatiku sendiri; kenapa kau (hatiku) mengharapkan kedamaian dari hati dia, yang selama ini takpernah mencintaiku

Senin, 30 Desember 2013

Apa itu Cinta ?

Mereka yang tidak menyukainya, menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.

Tuhan yang Maha Mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita. Kadang Ia melukai hati, supaya nikmatNya tertanam dalam.

Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan dibaliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang terbaik.

Mengapa menunggu?
Karena walau pun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walau pun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses percarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kita ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota jakarta tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan,
Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama. Dan penantian kita tidaklah sia-sia.
Walaupun  menunggu membutuhkan banyak hal -iman, keneranian dan pengharapan- penantian menjanjikan suatu hal yang tidak dapat seorang pun bayangkan.

Pada akhirnya, Tuhan dalam segala nikmatNya meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.

Kamis, 26 Desember 2013

Laki-Laki Sejati

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar,
Tetapi dari kasih sayangnya pada orang di sekitarnya

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang,
Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya,
Tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi bangsa

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat bekerja,
Tetapi dari bagaimana dia dihormati di dalam rumah

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,
Tetapi dari hati yang ada dibalik itu

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja,
Tetapi dari komitmennya terhadap wanita yang dicintainya

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari barbel yang dibebankan,
Tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci,
Tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang dibaca.

- So Jangan Sampai Salah Memilih Yach !! -

Love = Waiting 4A Bus

Cinta itu sama seperti orang yang sedang menunggu bis.
Sebuah bis datang, dan kamu bilang
"Wah... terlalu penuh, sumpek, bakalan enggak bisa duduk nyaman neh ! Aku tunggu bis berikutnya aja deh."

Kemudian bis berikutnya datang.
Kamu melihatnya dan berkata,
"Aduh bis nya kurang asyik nih, nggak bagus lagi... nggak mau ah.."

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

Bis ke empat berhenti di depan kamu.
Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,
"Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku."
maka kamu membiarkan bis ke empat itu pergi.

Waktu terus berlalu,
kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.

Ketika bis kelima datang,
kamu sudah tak sabar,
kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.
Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis.
Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju !
Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.

Moral dari cerita ini:
Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya.
Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita.
Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia. Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon'. tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita.
Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju.

Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat. tapi kamu masih bisa berteriak 'Kiri' ! dan keluar dengan sopan.
Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu.
Daripada kita harus berjalan kaki sendiri menuju kantor, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti,
kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai,
dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu,
kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu,
agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya.
karena menemukan yang seperti itu adalah seuatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti bagi dirimu sendiri dan bagi dia.

Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu? :)

Selasa, 29 Oktober 2013

Cintaku Seperti ilmu Tajwid

Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah.. hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar...

Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billaghunnah.. terlihat tapi dianggap tak ada..

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar.. jelas dan terang...

Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawy.. maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta..

Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain.. melebur jadi satu...

Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil... paling panjang di antara yang lainnya...

Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qolqolah kubro... terpantul-pantul dengan keras...

Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab.. ditandai dengan dua hati yang menyatu...

Sayangku padamu seperti mad thobi'i dalam quran... buanyaaakkk beneerrrrr....

semoga dalam hubungan kita ini kayak idgham bila ghunnah ya.. cuma berdua, lam dan ro'...

Layaknya waqaf mu'annaqoh... engkau hanya boleh berhenti di salah satunya, dia atau aku?

Meski perhatianku ga terlihat kayak alif lam syamsiah... cintaku pdmu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas...

Kau & aku seperti Idghom Mutaqooribain... perjumpaan 2 huruf yang sama makhrojnya tapi berlainan sifatnya...

Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim... terhenti sempurna diakhir hayat...

Sama halnya dgn Mad 'aridh.. dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu...

Layaknya huruf Tafkhim.. Namamu pun bercetak tebal di fikiranku..

Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro' saja.. begitu juga aku yang hanya untukmu..

Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu.. seperti mad aridh lissukun...

Minggu, 20 Oktober 2013

JODOH

Apakah JODOH kita sudah ditentukan atau kita yang memilih??
Menjadi duda atau janda itu juga takdir yang ditentukan sblum lahir??
========================================

Kenapa terlalu sibuk mengurusi urusan Allah.......... hidup ini terlalu indah, untuk apa sibuk mempertanyakan jodoh, sedang sesuatu itu selalu ada titi wancinya sendiri.......... tak pernah repot bilamana sdah waktunya untuk disatukan, akan dipertemukan dan diberi kecocokan dalam hati........ lalu bersatu itulah jodoh. pun demikian tak ada yg abadi, akan terpisah karena cerai atau mati nantinya.......

Bagiku yg terpenting bagi lelaki adalah menjaga "bibitnya" dengan cara, menjaga makanannya agar tak termakan barang yang "kotor", menjaga kemaluannya, menjauhi zina, dan berusaha selalu memperbaiki diri dan membersihkan hati....... dengan demikian, bilamana memang bibit itu kelak berguna, besar harapan tumbuh menjadi anak yang berkualitas baik dan unggul.......

yang terpenting bagi wanita adalah, menjaga rahimnya, dengan menjaga makanannya dari barang kotor, menjaga kemaluannya dan berusaha senantiasa membersihkan hatinya.

bibit sperma terbaik dan rahim terbaik itu dipersiapkan, adalah agar kita tidak menjadi jalan lewat setan, yaitu anak2 yang bakalan membawa kerusakan dimuka bumi kelak.........

Terlepas sperma dan rahim itu dipakai atau tidak nantinya, itu masalah belakangan, yang jelas utamanya adalah menjaganya, karena lebih baik tidak punya jodoh dan keturunan sama sekali daripada harus menghasilkan/menjadi jalan lewat setan kelak, yaitu anak2 yang membawa kerusakan......

Itu bagi saya pribadi, karena saya tak mau jadi jalan lewat setan kelak. Kalau sampai ada sperma yang keluar dari diriku, mestilah dengan kualitas terbaik. Kalaulah ada anak2 yang membawa kerusakan dimuka bumi kelak, biarlah lewat sperma orang lain saja........ Seperti itulah semestinya, kita cukup berusaha menjaganya, lelaki menjaga bibitnya, wanita menjaga rahimnya. soal jodoh, MASA BODOH saja, ada atau tidak ada, tak berpengaruh lagi........

FK

Rabu, 16 Oktober 2013

MENGGALAU :)

menggalau yang belum pasti jadi suami atau istri itu rugi 2x | korban perasaan dan buang-buang waktu juga duit

manggilnya "mamih" "papih" | yaela.. (=_=) | ketahuan banget nggak seriusnya, ketahuan banget masih bocah

biar agak Islami shalatnya di-imamin, bedua berdampingan | amplop dah (=_=) | abis shalat kecup tangan kening #hopeless #TepokJidatTetangga

beraninya panggil "abi" "ummi" doang | atau "ana uhibbuki fillah" doang | kalo berani bawa tuh ke @PenghuluNikah| itu baru lelaki

pantes aja cewek sekarang pada diabet | doyan makan janji manis sih #UdahPutusinAja

pacaran "ayah" "bunda" | udah nguras laut aja sana.. (=_=); #nohope

kalo yang udah nikah manja itu sosweet | yang pacaran manja itu sepet (=_=) hehe..

merajuknya istri itu imut-imut | merajuknya pacar itu amit-amit hehe..

udah deh, yang syar'i aja Allah kasih nikmat masyaAllah enaknya | ngapain masih nyari yang maksiat pake maksa lagi hehe..

Senin, 14 Oktober 2013

Pacaran Berpahala

Konsep Pacaran Islami. Adakah ? ••

Manusia adalah makhluk sosial yang mendambaka n hidup damai dan harmonis sehingga sangatlah normal bila manusia mengalami ketertarikan dengan lawan jenisnya. Motivasi untuk bisa mengenal karakter, menyamakan pandangan hidup dan alasan lainnya seringkali dijadikan dalih pembenaran untuk melakukan PACARAN bahkan beberapa pemikir ada yang sedikit peduli dengan kelestarian norma-etik sosial sehingga merumuskan konsep "Pacaran Islami"

Bagaimana sebenarnya konsep Islam mengatur hubungan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta ?

Allah SWT berfirman dalam AlQuran

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)" (QS. 3:14).

Dalam redaksi ayat diatas dijelaskan bahwa dalam diri manusia memang telah ditanam benih-benih CINTA yang suatu waktu bisa tumbuh seketika saat menemukan kecocokan jiwa.

CINTA dalam Islam tidak dilarang karena ia berada diluar wilayah kendali manusia bahkan CINTA merupakan anugerah yang harus di syukuri dengan mengekspresikan dan membinanya sesuai norma-etik syariat. Islam denga universal ajarannya telah mengatur seluruh hubungan manusia baik secara vertikal (Hablun min Allaahi) maupun horizontal (Hablun min An Naasi) tak terkecuali hubungan sepasang anak manusia yang sedang dirundung ASMARA. Istilah pacaran secara harfiyah tidak dikenal dalam Islam, karena konotasi dari kata-kata ini lebih mengarah pada hubungan pra-nikah yang lebih intim dari sekedar media saling mengenal. Islam menciptakan aturan yang sangat indah dalam mengatur hubungan lawan jenis yang sedang yang sedang jatuh cinta yaitu dengan konsep Khitbah.

Khitbah adalah sebuah konsep 'Pacaran Berpahala' dari dispensasi agama sebagai media yang legal bagi hubungan lawan jenis untuk saling mengenal sebelum memutuskan menjalin hubungan suami-istri. Konsep hubungan ini sangat dianjurkan bagi seorang yang telah menaruh hati kepada lawan jenis dan bermaksud untuk menikah akan tetapi hubungan ini harus tetap terbingkai dalam nilai-nilai keshalehan sehingga kedekatan hubungan yang bisa menimbulkan potensi fitnah berarti sudah diluar konsep ini.

Nikah dalam Islam bukanlah sekedar untuk singgahan hasrat seksual tetapi merupakan peristiwa sakral yang mempertemu kan dua katagoris berbeda dalam satu bahtera tanggung jawab, hak dan kewajiban untuk bersama membina dan mengarungi MAGHLIGAI CINTA menyambung estafet kehidupan dimasa mendatang. Nikah merupakan ibadah yang dianjurkan agama demi menjalin kebahagiaan bersama dalam kehidupan bahkan sampai hidup lagi.

Sedemikian sakralnya makna pernikahan maka khitbah merupakan konsep urgen untuk menjembatani kemungkinan akan terjadinya kekecewaan di kedua belah pihak sebelum terjadi ikrar nikah. Lantaran proporsi fundamental khitbah hanya sebagai langkah yang merupakan sarana tahap saling mengenali maka legalitas kedekatan hubungan dalam konsep ini hanya sebatas memandang wajah dan dan telapak tangan karena rahasia fisik dan kepribadian seseorang sudah bisa dimonitor dan di sensor melalui aura wajah dan telapak tangan.

Berikut beberapa Hadits Nabi yang memperkenankan melihat wanita yang dikhitbahi dalam batas-batas tertentu :

* “Seorang wanita datang menemui Rasulullah SAW lalu berkata: “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menyerahkan diri saya kepada Anda! Rasulpun mengangkat pandangan kepadanya dan mengamatinya dengan saksama. Kemudian beliau menundukkan pandangan. Mengertilah wanita itu bahwa Rasulullah SAW tidak berminat kepada dirinya, maka iapun duduk. Kemudian bangkitlah seorang lelaki dari sahabat beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah, jika Anda tidak berminat maka nikahkanlah ia kepada saya” (H.R Al-Bukhari, Muslim dan An-Nasa'i)

* “Suatu saat saya berada di sisi Rasulullah SAW, lalu datanglah seorang lelaki mengabarkan kepada beliau bahwa ia ingin menikahi seorang wanita Anshar.

Rasulullah berkata kepadanya: “Apakah engkau sudah melihatnya?” “Belum!” katanya. Beliau berkata: “Kalau begitu temui dan lihatlah wanita Anshar itu karena pada mata mereka terdapat sesuatu.”

(H.R Ahmad dan Imam Muslim)

* “Jika salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka bila ia bisa melihat sesuatu daripadany a yang dapat mendorong untuk menikahinya hendaklah ia melakukannya.” (H.R Abu Dawud dan Al-Hakim)

Lebih dari itu dalam "Pacaran Berpahala" ini juga diperkenankan duduk dan berbincang-bincang bersama sepanjang tidak sampai bernuansa khalwah (berduaan) , seperti dengan disertakan pihak ketiga yang bisa melindungi dari fitnah karena Makhtubah (baca pacar) bagaimanap un masih berstatus Ajnabiyyah (wanita lain) yang sedikitpun belum berlaku hukum suami-istri.

Jadi konsep dalam Islam dalam mengatur hubungan hubungan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta bukan dengan hubungan tanpa batas atau pacaran islami yang diawali dengan "Basmalah" dan di akhiri dengan "Hamdalah" melainkan hubungan yang di bingkai dengan nilai-nilai pekerti luhur dan dihiasi dengan Fitrah Keindahan (baca : Keshalehan)

Wa Allaahu A'lamu bi As-Shawaabi

Referensi : Hasyiyah Al-Jamal 4/120, Fath Al-Mu'iin 3/298, Al-Fiqh Al-Islaami 9/6507, Tafsiir Al-Qurthuby 6/340

Minggu, 13 Oktober 2013

Hakikat Cinta

Cinta adalah bagian dari fitrah, orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat.

Hikam:

"Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik." (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)

"Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita. Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali.

Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja.

Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan. Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran, harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka.