Tampilkan postingan dengan label Nasihat Bijak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat Bijak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Maret 2014

Kilauan Cahaya Di Tengah Perbedaan

Biasanya kita melihat pertentangan itu negatif dan kesamaan sebagai rahmat. Padahal perbedaan, pertentangan dan perlawanan itu sunnatullah. Dimana di dunia ini yang tidak ada pertentangan? Oleh karena itu, mulai sekarang rubahlah paradigma kita yang selalu melihat segala sesuatu dengan kaca mata, “harus sama, tidak boleh berbeda, berbeda berarti lawan yang harus dimusnahkan”. Allah SWT berfirman, “Seandainya Allah tidak menjadikan sebagian manusia sebagai penentang (lawan, oposisi, saingan, kompetitor) kepada sebagian manusia yang lain, niscaya bumi ini akan hancur lebur, akan tetapi Allah berkenan memberikan anugerah kepada alam semesta (dengan pertentangan itu)” QS :2;251.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan falsafah mendirikan rumah kemah. Rumah kemah akan berdiri tegak dan kuat menghadapi terpaan angin dikarenakan ada beberapa orang yang mau menarik tiang tengahnya keberbagai arah yang saling berlawanan. Coba bayangkan seandainya Anda mendirikan kemah, lalu demi persamaan, Anda dan teman Anda menarik tali temalinya kearah yang sama secara bersamasama, pasti roboh, bukan..!? Jadi, pertentangan, perbedaan dan persaingan bisa melahirkan kekuatan. Jangan negative thinking, itu kuncinya.

Ketatnya persaingan dalam dunia bisnis apapun, akan menguntungkan konsumen karena akan ada peningkatan kualitas dan penurunan harga, adanya sekelompok orang yang berdiri sebagai oposisi terhadap pemerintahan akan menguntungkan rakyat banyak yang tidak menjadi oposisi, karena pemerintah tidak akan berani melakukan kecurangan dan selalu hati – hati dalam membuat keputusan, kehadiran orang lain yang selalu mengkritik dan memusuhi kita, akan mendewasakan dan menjadikan kita lebih waspada serta menumbuhkan kreatifitas kita, kehadiran agama lain pada lingkungan Anda, bisa membangkitkan ghiroh (Spirit) dan militansi Anda kepada agama Anda. Walhasil, keseragaman dan monopili merugikan. Al Ghazali berkata, “bahwa diantara cara untuk memperbaiki dan mengenal diri adalah dengan mendengarkan segala cacian yang keluar dari mulut musuhmu“[1] Tanpa adanya pertentangan, lawan, kompetitor, dan pesaing, Anda tidak akan pernah maju karena akan serba santai, alon-alon asal kelakon, dan lama-lama mati.

Dengan kesadaran ini, Anda akan bisa bersikap manusiawi kepada lawan, penentang dan kompetitor Anda, bahkan bisa membiarkan mereka untuk tetap hidup karena menjadi sumber inspirasi untuk berinovasi. “Dan demikianlah, kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh yang terdiri dari dari setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin, antara sebagian dengan sebagian yang lain (bisa antara manusia dengan manusia, antara jin dengan jin atau antara manusia dengan jin) saling mengirim pesan (melalui sms, email atau facebook atau cara yang lain) dengan kata-kata yang indah sebagai tipu daya, dan seandainya Tuhanmu menghendaki (untuk menghentikan), niscaya mereka tidak melakukan hal tersebut, maka biarkanlah mereka itu dengan seluruh aksinya”. QS:6;112.

Imam Zamakhsyariy berkomentar, “bahwa Allah tidak menghabisi musuh-musuh para nabi itu, karena keberadan mereka akan memunculkan keteguhan dan kesabaran dalam diri para nabiNya, sekaligus menambah pahala dariNya”[2].

Ditengah-tengah komunitas muslim Madinah pada masa Rasulullah SAW, dikenal ada sekelompok orang munafik yang selalu menjadi duri dalam daging. Mereka ini berbaju muslim, beritual Islam, tetapi tujuannya lain. Bukankah selama ini kita menerima beberapa kelompok yang menempuh jalan berbeda asalkan tujuannya sama. Sedangkan orang munafik, menempuh jalan yang sama dengan tujuan yang berbeda. Bahayyya…! Mereka menjadi musuh dalam selimut, melaksanakan fungsi spionase terhadap kaum muslimin demi kepentingan kelompok-kelompok diluar Islam. Sangat berbahaya, karena sedemikian bahayanya, pernah ada seorang sahabat yaitu Umar bin Khattab yang mengajukan usul agar mereka ini dibunuh saja semua. Toh, Rasulullah sebenarnya mengetahui siapa saja mereka itu karena mendapatkan informasi langsung dari Allah SWT. Akan tetapi beliau tidak berkenan melakukannya seraya berkata, “nanti orang-orang akan berkata bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya”.[3] Satu sisi kehadiran orang-orang munafik ditengah-tengah kaum muslimin sangat berbahaya dan merugikan, akan tetapi dibalik itu terdapat permata yang amat berharga, yaitu lahirnya dinamisme sosial yang melahirkan semangat, gairah, kompetisi dan kreatifitas. Karena itulah beliau bersabda, “kami akan lembut kepada mereka dan bersahabat dengan mereka dengan sebaik mungkin selama mereka masih tinggal bersama kita”[4]. Walhasil, menghadapi lawan secara manusiawi.

___________________

[1] Al Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad, Ihya’ Ulumiddin, Juz III, hal. 63, Maktabah Usaha Keluarga Semarang.

[2] Al Zamakhsyariy, Mahmud bin Amr bin Ahmad, tafsir al Kassyaf, lihat tafsir pada surat al An’am ayat112

[3] alKhazin, Abu al hasan Ali bin Muhammad, lubab al ta’wil fi ma’ani al tanzil, lihat mengenai tafsir surat al Munafiqun.

[4] Al Khazin, ibid.

Cyber dakwah

Senin, 10 Maret 2014

Dunia Ini Hanya Tempat Lewat, Bukan Tempat Menetap

Kemarin ketika sedang berjalan menuju rumah seorang sahabat, mobil yang saya kendarai tiba tiba harus berhenti sejenak, terhenti oleh keranda yang membawa jenazah keluar dari gang menuju jalan raya dan mengharuskan semua kendaraan berhenti, sekedar memberi penghormatan terakhir dan ALLAH memang sedang menunjukan kepada semua pengendara bahwa suatu hari kita yang saat ini berada didalam kendaraan mewah ber-AC akan berada di keranda bertutupkan kain hijau bertuliskan “Innalillahi wa inna illaihi rajiun“, iya keranda yang menuju pemakaman itu suatu hari akan kita kendarai, siap tidak siap, suka tidak suka kematian pasti datang, artinya lagi memang di bumi ini kita hanya singgah, yang namanya singgah pasti tak lama, kalau kelamaan diusir sama yang punya tempat  :)

    Kemudian saya diam sejenak, menikmati keranda yang lewat didepan mobil sambil berpikir, jika saya hanya singgah didunia ini, kenapa saya dan banyak sekali manusia yang terpedaya indahnya, tercengang, terlena dengan segala kenikmatan sementara yang disajikan ditempat persinggahan ini, padahal ALLAH memberi menempatkan saya ditempat singgah ini plus diberikan bekal rejeki selama singgah pasti tujuannya agar saya siap melanjutkan perjalanan ke rumah yang sesungguhnya bukan malah bengong, kesasar dan menikmati persingaahan ini, betah lagi alias gak mau pulang

    Ah, how STUPID we are jika terpesona dengan sesuatu yang pasti kita tinggalkan…

Kembali saya merenung (bengong kali tepatnya ya De? he eh) :)  jika hidup ini adalah persinggahan sejenak saja maka  semestinya saya harus jadi tamu yang baik, tamu yang nurut apa kata siempunya rumah dan tamu yang tahu diri untuk bersiap siap beranjak pulang, gak betah ditempat singgah, terbayang bayang rumah yang sesungguhnya, seperti janji ALLAH bahwa di ujung perjalanan nanti ALLAH menyiapkan sebuah rumah yang sangat indah, yang dibawahnya mengalir air sungai, yang tamannya penuh dengan buah dan bunga bunga indah, yang teman saya nanti adalah lelaki tampan yang ketampanannya seribu kali diatas level tampan Nicholas Saputra, :)

Ah membayangkan saja saya sudah terkagum kagum indahnya hidup di rumah terakhir yang dijanjikan ALLAH  jika saya baik baik selama singgah, rumah terakhir bagi hamba hamba yang dicintai dan mencintai ALLAH tentunya, dan untuk sampai ketempat seindah ini tentu syaratnya tak mudah… beli apartment di Jakarta yang tanpa tanah saja syaratnya berderet apalagi rumah seindah rumah ALLAH, begitu bukan? :)

Jadi tempat persinggahan ini sesungguhnya gak ada apa apanya dibanding tempat yang dijanjikan ALLAH, namun saya  justru terpana dengan persinggahan sementara ini, dan lalu menganggap penampungan sementara ini abadi, dan sangat indah, melihat gubuk saya sangka istana bersama si dia yang saya cintai, padahal ini maksiat namanya berduaan dengan yang bukan mahrom saya, melihat kolam kecil saya sangka danau bahkan melihat kue serabi saya sangka martabak spesial, intinya terpana, terpesona, terlena kalau kata Ike Nurjanah :) hehehe…  saya menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang menerpa :)

Sekarang dengan kesadaran penuh bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan, saya TIDAK boleh terpesona, terlena apalagi tersesat dan tidak tahu jalan pulang, PARAH … sebagai tempat persinggahan yang segera akan saya tinggalkan, maka suka tidak suka saya harus menyiapkan bekal pulang, agar selamat sampai ditempat tujuan, karena yang ini sementara dan yang sana kekal, lebih baik gak terlalu nikmat disini tapi nikmat disana !!

Yuk, perbanyak bekal pulang, percaya deh disini tak seindah disana, rumah kita sendiri...

Jumat, 28 Februari 2014

Menyikapi Fitnah

Korelasi fitnah dengan komunikasi

Sebagai manusia yang sehari-hari tidak akan pernah lepas dari komunkiasi dengan orang-orang di sekitar, tentu -kadang – terjadi komunikasi yang tidak baik dan sportif. Hidup di tengah-tengah suatu komunitas, lingkungan, atau masyarakat, yang di dalamnya beraneka ragam karakter manusia, sudah pasti terjadi komunikasi yang sering diselewengkan. Dari karakter manusia yang bermacam-macam dan tidak akan lepas dari kmunikasi dengan orang-orang, di saat itulah fitnah timbul ke permukaan dan merambah di tengah-tengah komunitas, lingkungan, dan masyarakat.

Ketika fitnah muncul dan menyebar dari satu mulut ke banyak telinga, lalu menjadi menu pebicaraan sehari-hari di kerumunan orang-orang, di saat itu seseorang yang menjadi korban akan mengalami komunikasi yang buruk. Dia sulit berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, seolah-seolah dirinya telah menjadi orang yang hina atau menjadi sampah masyarakat. Merasa tidak nyaman menjalin komunikasi dengan orang-orang sekitarnya.

Fitnah memang lebih kejam dari pada pembunuhan. Mungkin, pembunuhan hanya menghilangkan nyawa seseorang, kemudian orang yang dibunuh –fisik dan segala yang berhubungan dengan dirinya- tidak ada, hilang seiriang nafas terakhirnya berhembus. Namun, kekejaman fitnah akan menghilangkan kehormatan, nama baik, martabat, dan kemuliaan seseorang. Orang yang menjadi korban fitnah memang tidak kehilangan nyawa, namun baginya, dia merasa kehilangan nafas kehidupan di tengah-tengah masyarakat, dia merasa ditelanjangi di hadapan banyak orang, dia merasa wajahnya dilempari kotoran, bahkan –jika hatinya tidak kuat- dia merasa putus asa. Sesuatu yang berhubungan dengan dirinya, semuanya menjadi buruk.

Memahami faktor dan orang-orang yang menyebarkan fitnah

Fitnah yang tersebar pasti muncul dari mulut orang-orang yang ada di sekitar. Bahkan, –kadang tidak disangka- orang yang menjadi dalang tersebarnya fitnah adalah orang-orang terdekat. Namun, sebelum merasa ruwet dan mengvonis siapa yang menjadi dalang penyebaran fitnah, perlu dan penting untuk diketahui dan memahami faktor dan karakter orang-orang tersebut.

Orang-orang yang berada di sekitar kita, masing-masing memiliki karakter yang bermacam-macam. Ada orang yang berkarakter iseng membicarakan kejelekan orang lain dan ada orang yang hobi menjelek-jelekkan dan bahkan membuat isu untuk menfitnah.  Orang yang berkarakter seperti ini, sebenarnya tidak perlu dihiraukan, karena jika dihiraukan kita akan menjadi ruwet. Biarkan saja, toh nanti dia akan berhenti sendiri. Orang lain yang mendengarnya pun akan memaklumi dan tidak percaya dengan omongannya. Orang lain akan menganggap orang tersebut memang karakternya begitu.

Ada juga orang yang sangat tidak perlu dihiraukan, yaitu orang-orang yang ikut-ikutan menyebarkan fitnah. Orang yang seperti ini biasanya terpengaruh oleh kondisi atau orang-orang di sekitarnya. Tentu, dia ikut-ikutan menfitnah tanpa tahu tentang apa dan siapa yang difitnah. Jadi, untuk apa menghiraukan orang yang melakukan sesuatu tanpa dasar apa-apa? Cukup maklumi saja.

Salah satu juga yang harus dipahami ketika fitnah muncul adalah orang-orang yang memiliki kepentingan. Tidak jarang ada orang menfitnah karena ada kepentingan, baik kepentingan untuk dirinya atau kepentingan untuk menjatuhkan orang yang difitnah. Fitnah semacam ini yang rawan sangat kejam. Fitnah yang muncul karena memang karakter sebagaimana di atas, mugkin tidak terlalu bahaya. Fitnah yang membayakan adalah fitnah karena kepentingan. Fitnah ini biasanya menggunakan strategi jitu untuk menyebarkannya, sehingga seolah fitnah yang menyebar benar-benar nyata.

Selain itu, ada faktor yang tidak kalah penting untuk dipahami. Yaitu kondisi atau posisi seseorang yang difitnah. Semisal kondisi seseorang yang sedang beruntung, sukses, atau bahagia. Ketika ada orang yang tidak suka atau benci pada orang yang beruntung, sukses atau bahagia tersebut, orang yang benci akan menghilangkan dan menghancurkan keburuntungan, kesuskesan dan kebahagiaan itu, dengan berbagai cara termasuk menfitnah.

Semisal juga, seseorang yang memiliki posisi strategis, kedudukan yang mapan, atau martabat yang tinggi. Ketika ada orang yang tidak suka atau benci, dia akan berusaha menjatuhkan juga dengan berbagai cara, tidak lain termasuk menfitnah. Lebih-lebih orang yang benci itu berkepentingan untuk menggati kedudukan orang yang difitnah, tentu akan lebih semangat menyebarkan fitnah.

Sikap bijak ketika fitnah muncul dan menyebar

Memang terasa geram, telinga panas, hati mendidih ketika ada orang menfitnah. Jika tidak kuat maka kemarahan akan memuncak lalu menjadi tindakan yang ganas untuk membalas orang yang menfitnah. Namun, bagi bagi orang yang memiliki hati yang kuat, sebesar apapun fitnah yang menimpa dirinya, keistiqamahan untuk bersikap bijak tidak akan berubah menjadi  kemarahan yang kemudian bertindak keras dan kasar.

Sebaiknya, ketika ada orang membicarakan kejelekan kita ataupun menfitnah kita, kita jangan sampai mencari-cari atau menyelidiki siapa yang berbicara demikian, karena hal itu akan mengakibatkan kita menjadi su’uzhan pada orang-orang. Akibatnya, orang-orang yang ada di sekitar kita menjadi obyek penyelidikan kita, sehingga pikiran kita menjadi sensitif-negatif. Di saat bertemu dengan orang-orang, dalam pikiranna menduga seraya berkata, “Mungkin orang ini yang menjelek-jelekkan saya”, atau “Jangan-jangan orang ini yang menfitnah saya”. Setelah orang yang diselidiki ditemukan, -jika hati kita lemah-, kita akan benci atau malah bisa dendam pada orang tersebut.

Lebih baiknya lagi, ketika ada orang membicarakan kejelekan kita atau menfitnah kita, kita sikapi dengan bijak, dengan cara jadikan pembicaraan itu sebagai koreksi bagi diri kita. Mungkin saja sikap atau ucap yang timbul dari kita memang ada yang salah, sehingga orang-orang membicarakannya. Jika memang sikap atau ucap kita tidak salah, kita jadikan sebagai ajang belajar –atau ujian- untuk lebih bersabar menahan emosi dan menerima sikap orang-orang dalam berkomunikasi dan berinteraksi.

Kita jangan sibuk menyelidiki orang yang membicarakan kejelekan kita atau yang menfitnah kita. Karena hal itu akan hanya membuat diri kita menyimpan benci dan dendam. Kita sibukkan saja dengan menyelidiki sikap atau ucap kita, kira-kira sikap dan ucap yang mana yang salah atau jelek. Jika memang ada, kita sadari lalu perbaiki. Jika memang tidak ada, anggap saja itu sebagai ujian dalam menjalani hidup. Orang-orang yang menjadi mulia di sisi Allah, semuanya pasti melalui atau menempuh ujian berupa fitnah. Jadi, ketika kita difitnah, -insyaallah- kita calon orang yang mulia di sisi Allah, asal kita menyikapi dengan bijak dan ikhlas menjalaninya.

Dan, kita jangan merasa heran dengan orang yang benci pada kita, dan dia menjelek-jelekkan atau menfitnah kita. Karena mata (orang) yang benci pada kita, setiap apa yang muncul dari diri kita, semuanya tampak terlihat jelek baginya, apalagi memang ada yang salah dari diri kita, justru itu yang dicari-cari oleh mata yang benci untuk kemudian disebarluaskan. Orang yang benci pada kita akan senang jika kita salah. Jika kita benar, dia akan semakin benci pada kita. Begitulah orang yang memelihara kebenciannya. Na’udzubillah

Bait-bait Kepasrahan terhadap fitnah

Jika ada yang mencari orang yang paling bejat

Maka tak perlu ke mana-mana

Akulah orang yang paling bejat

Jika ada yang menanyakan siapa orang yang paling bodoh

Maka tak perlu bingung untuk mencari jawabannya

Karena hanya akulah orang yang paling bodoh

Jika ada yang merasa berdosa

Maka buang saja perasaan itu

Karena tidak ada selain diriku yang paling berdosa

Jika ada yang merangkai kata untuk menjelek-jelakkan diriku

Maka percuma saja kata-kata itu diucapkan padaku

Karena tak ada kata yang mampu mengungkapkan kejelekanku

Aku lebih jelek dari semua kata yang bermakna jelek

Jika ada yang bersemangat menghina diriku

Maka percuma saja semangat itu diwujudkan

Karena sekuat apapun hinaan itu,

masih tetap kalah dengan kehinaan diriku sendiri

Jika ada yang hobi menfitnahku

Maka percuma saja fitnah itu disebarkan

Karena siapa saja sudah tahu siapa diriku

Jika masih ada yang memujiku

Berarti itu omong kosong

Jika masih ada yang menganggap diriku baik

Berarti itu kesalahpahaman

Jika ada yang bertanya tentangku

Lebih baik aku mengaku “setan”

Dari pada mengaku siapa aku sebenarnya

Selasa, 07 Januari 2014

Abadikan Kebaikan Dengan Melupakannya

Tulisan ini bercerita tentang sisi lain berbagi kebaikan Berbagi kebaikan itu memang sangat indah apalagi jika kita sanggup melupakan kebaikan-kebaikan yang telah kita berikan kepada orang lain itu sangatlah indah bahkan upah dari kebaikan itu nanti pada saatnya sangatlah berlipat dari apa yang pernah kita bagi bagikan, bahasa sekarangnya “Indah pada saatnya”.

Mari berbagi kebaikan karena sang pencipta Alloh subhanahu wata’ala agar kita takan pernah merasa rugi,tapi lain halnya jika kita berbuat baik karena mengharap balas budi atau berharap kebaikan kita di balas dengan kebaikan yang setimpal bahkan kebaikan yang lebih dari yang kita berikan pastinya akan kecewa saat orang yang kita baik tak kunjung membalas kebaikan kita, sikap seperti itu hanya akan menyesakkan hati merusak jiwa dan membuat kita kecewa yang berlarut larut.

jika kita masih terluka dan kecewa berarti kita belum ikhlas,dan berbuat kebaikan hanya mengharap sesuatu dari manusia.

karena sifat fikiran dan hati manusia itu selalu berubah-ubah setiap detiknya saat ini baik belum tentu besok, cobalah kita mengikhlaskan semua yang kita perbuat dan kita bagikan kepada sesama semata mata karena perintah Alloh SWT;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :  مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَأَ      فِي عَمَلِهِ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa  yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya. (Riwayat Muslim)

Maka berbuat baiklah kepada makhluk merupakan cara untuk mendapatkan kecintaan Allah Ta’ala dan selalu meluruskan niat dalam rangka mencari ilmu dan ikhlas di dalamnya agar tidak menggugurkan pahala sehingga amalnya dan kesungguhannya tidak pernah sia-sia. Hati tidak akan tersentuh, oleh kepura-puraan, acting belebih lebihan, hati hanya bisa disentuh oleh ketulusan yang tanpa pamrih.

Sebagai penutup mari kita segarkan kembali (refresh) ingatan kita tentang 3 mental manusia;

    Mental pahlawan; Berani mengorbankan dirinya untuk kebaikan orang lain
    Mental pedagang ; Berani berjuang atau berkorban asal mendapatkan balasan (laba) yang setimpal.
    Mental Penjahat ; Berani mengorbankan orang lain untuk kebaikan diri sendiri.

Selasa, 31 Desember 2013

Status Dan Koment Kita Di Facebook Bisa Merusak Iman?

Artikel ini terinspirasi dari artikel berikut : "Kenalilah Yang Merusak Iman Kita". diartikel itu disebutkan 2 perkara yang merusak (membatalkan) iman, yaitu :

1. Ragu dengan syari’at yang datangnya dari Nabi Muhammad S.A.W

2. Benci terhadap agama (syari’at) nya Nabi Muhammad

Lalu, apa hubungannnya dengan facebook?

Sebenarnya bukan facebooknya yang sedang dibahas, melainkan status atau komentar kita di halaman wall facebook, disana ada potensi yang mengarah kepada 2 hal yang bisa merusak iman seperti disebutkan diatas.

Contohnya seperti apa?

Ada seorang kawan yang menulis status “dosa dan maksiat adalah perbuatan yang diancam siksa neraka” kemudian jempol pun bermunculan dari teman-temannya, komentar datang bertubi-tubi, ada yang Cuma nulis like, setuju, tapi ada dua komentar yang menarik untuk disimak, ada satu temannya menuliskan komentarnya begini “ah .. benarkah? Apa kamu sudah membuktikannya? … xixixixixixixi”. Ada juga yang koment begini “wah.. di neraka malah enak broo … kumpul sama artis-artis  cantik … hehehehehe.”

Sepintas komentar ini biasa saja, mungkin maksudnya becanda, tapi kalau kita kembali melihat 2 hal yang merusak iman diatas, apakah kalimat seperti ini tidak termasuk meragukan atau membenci syari’at Islam yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW?  Yang jelas kalimat-kalimat yang jelas-jelas meremehkan syari’at besar kemungkinannya masuk kategori perkara yang membatalkan iman.

Ada yang berkilah, “niatnya kan Cuma becanda”.  Saya akan menjawab, “oke sekarang kamu saya pukul kepalamu dengan sekeras-kerasnya, niat saya bukan memukul tapi memijit.” Apakah kamu bisa menerima dan menganggap pukulan saya itu sebuah pijitan berdasarkan niat saya?

Penutup

Ini bukan pendapat yang menganggap facebook haram atau membatalkan iman, tapi status dan komen kita yang harus kita jaga, facebook hanya satu contoh kasus, banyak media-media yang rentan merusak iman, termasuk ucapan kita sehari-hari. salah satu cara untuk terhindar dari bahaya becanda yang bisa merusak iman adalah dengan cara mengetahui perkara-perkara yang membatalkan iman. becanda tidak ada larangan, tapi jangan sampai bercanda dengan hal-hal yang berhubungan dengan syari’at Alloh.

Kamis, 31 Oktober 2013

Angan2 Kosong

banyak orang yang menginginkan namun jarang yang mau memulainya | banyak orang yang inginkan surga namun masih nyaman dengan dosa

banyak ingin pasangan salih namun enggan memantaskan jiwa | banyak yang ingin pernikahan barakah namun memulai dengan yang nista

banyak yang ingin berilmu namun tak mau belajar | banyak yang ingin berhasil namun enggan untuk bersabar

banyak yang berdoa pada Allah namun tak berhenti maksiat | banyak yang enggan bersyukur padahal berlimpah nikmat

duhai jiwa yang terlalu banyak keinginan | sudahkah engkau dekat pada Tuhan | sedang kau tahu hanya Dia-lah yang mengabulkan?

duhai jia yang berpanjang asa | pantaskah dirimu berharap | sementara Allah tak engkau indahkan?

Rabu, 23 Oktober 2013

Pesan Habib M al-Kaaf

BAGI-BAGI ILMU...

Jangan baring ketika azan, nanti jenazah kita berat."
Rasulullah S.A.W bersabda "Sebarkan Walaupun
Daripada Sepotong Ayatku..

Jangan berkata-kata semasa azan, agar lidah tidak kelu menyebut shahadah ketika sakaratul maut..

5 perkara orang Islam patut tahu berkenaan dengan kesehatan.
Al-Quran ada mengajar kita menjaga kesehatan dengan membuat amalan seperti berikut :

1. Mandi pagi sebelum subuh atau sekurang-kurangnya sejam sebelum matahari naik.
Air sejuk yang meresap ke dalam badan bisa mengurangkan lemak yg terkumpul. Kita bisa lihat orang yg mengamal mandi pagi kebanyakan badan nya tidak gemuk.

2. Rasulullah SAW mengamalkan minum segelas air sejuk (bukan air es) setiap pagi.
Mujarabnya, Insya Allah jauh dari penyakit (susah kena penyakit).

3. Waktu sholat Subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya semenit selepas membaca doa).
Ia bisa mengelak dari sakit pening atau migrain.
Ini terbukti oleh para saintis yg membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud.
Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir ke ruang tersebut.

4. Dalam kitab juga ada melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut.
Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama ayam. Dikhawatirkan akan cepat mendapat penyakit.
Ini terbukti oleh saintis yang menemukan dimana dalam badan ayam mengandungi ion + ve, manakala dalam ikan mengandung ion-ve, jika dalam suapan ayam bercampur dengan ikan maka terjadi tindak balas biokimia yang terhasil yg bisa merusak USUS kita.
Orang yahudi suka memakan ikan tanpa bercampur dengan makanan bercampur ayam.

5. Nabi juga mengajar kita makan dengan tangan kanan dan bila habis hendaklah menjilat jari.
Begitu juga ahli sains telah menemukan bahwa ENZYME banyak terkandung di celah jari, yaitu 10 kali lipat terdapat dalam air liur. (Enzyme sejenis alat percerna makanan, tanpanya makanan tidak terurai).

Sabda Nabi Ilmu itu milik Allah, barangsiapa menyebarkan ilmu demi kebaikkan Insya Allah, Allah akan menggandakan 10 kali lipat kepadanya.

Cara senang utk dapatkan pahala
walaupun sesudah mati,,,:

�� Pasang kipas di surau/masjid
walaupun 1, setiap kali orang pakai,
anda dpt pahala walau sesudah mati.

 Derma kursi roda di RS, setiap kali pasien gunakan,
anda akan dpt pahala.

 Beri baju kpd orang , setiap kali
org pakai , anda dpt pahala.

 Beri makanan kpd org , anda
dpt pahala selagi makanan itu
mnjadi darah daging nya.

�� Menyampaikan ilmu yg bermanfaat, selagi mereka mengamalkan pahala anda tetap ada.

�� Berbagi pesan ini kpd orang banyak ��. Walaupun 1 tolong
bagikan kpd org, anda akn dpt pahala sbb anda telah berdakwah
utk sampaikan ilmu.
InsyaAllah yg penting keikhlasan karena Allah semata ...

7 kalimat yg harus di biasakan..

1.Bismillahirrahmannirrahim-Setiap hendak melakukan sesuatu.

2.Alhamdulilah-Setiap habis melakukan sesuatu.

3.Astagafirullah-Jika melakukan sesuatu yg buruk.

4.InsyaAllah-Jika ingin melakukan sesuatu pada masa yg akan dtg.

5.Laa hawla walaaquwwata illaah billaah-Bila tidak dpt melakukan sesuatu yg agak berat/melihat hal yg buruk.

6.Innalillahi wainna ilaihi rojiun-Jika melihat/menghadapi musibah atau menerima kabar kematian.

7.Lailaha illallah-Bacalah siang dan malam sebanyak-banyaknya.

Ada 2 pilihan utk anda :

1. Biarkan saja tulisan ini tanpa bermanfaat utk org lain.

atau
2. Anda sebarkan kepada semua kenalan anda.

Rasulullah bersabda,
"Barangsiapa yg menyampaikan 1 ilmu saja dan ada org yg mengamalkannya,maka walaupun yg menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala..

Amiiin yaa Robbal alamin... 

Semoga bermanfaat

Senin, 14 Oktober 2013

Belajar Dari Wajah

K.H. Abdullah Gymnastiar

Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : "Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?" karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.

Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.

Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.

Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW - bila ada orang yang menyapanya - menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat. Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!

Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah.***

Bila Selalu Mengingat Mati

K.H. Abdullah Gymnastiar

Sehalus-halus kehinaan di sisi ALLOH adalah tercerabutnya kedekatan kita dari sisi-Nya. Hal ini biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang jauh dari meningkat, atau bahkan malah menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya, tidak bertambah pula ilmu yang dapat membuatnya takut kepada ALLOH, bahkan justru maksiat pun sudah mulai dilakukan, dan anehnya yang bersangkutan tidak merasa rugi. Inilah tanda-tanda akan tercerabutnya nikmat berdekatan bersama ALLOH Azza wa Jalla.

Pantaslah bila Imam Ibnu Athoillah pernah berujar, "Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa habis tandas tidak tersisa". Demikianlah yang terjadi bagi orang yang tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Karenanya jangan pernah permainkan nikmat iman di hati ini.

Ada sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya di forum ini ada hikmah yang bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu nampak begitu rajin beribadah, saat shalat tak lepas dari linang air mata, shalat tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk berjamaah ke mesjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Karenanya diantara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang rekan tersebut.

Sayangnya begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah. Biasanya kehilangan shalat tahajud menangis tersedu-sedu, "Mengapa Engkau tidak membangunkan aku, ya ALLOH?!", ujarnya seakan menyesali diri. Tapi lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadual tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju mesjid, tapi akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika azan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat di rumah saja.

Begitupun untuk shalat sunat, biasanya ketika masuk mesjid shalat sunat tahiyatul mesjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah, hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. "Kalau datang terlambat, maka ketika pulang aku tidak boleh terlambat lagi, pokoknya harus duluan!" Pikirnya.

Saat akan shalat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan di rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan. Bahkan pergi ke majlis ta'lim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah hilang.

Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan keuatan ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai mengeras.

Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercerabut satu persatu, maka inilah tanda-tanda sudah tercerabutnya taupiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. Apalagi ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang keyakinannya kepada ALLOH. Inilah yang disebut suul khatimah (jelek di akhir), naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau akhirnya seperti ini.

*** Ada lagi sebuah kisah pilu ketika suatu waktu bersilaturahmi ke Batam. Kisahnya ada seorang wanita muda yang tidak bisa menjaga diri dalam pergaulan dengan lawan jenisnya sehingga dia hamil, sedangkan laki-lakinya tidak tahu entah kemana (tidak bertanggung jawab). Hampir putus asa ketika si wanita ini minta tolong kepada seorang pemuda mesjid. Ditolonglah ia untuk bisa melakukan persalinan di suatu klinik bersalin, hingga ia bisa melahirkan dengan lancar. Walau tidak jelas siapa ayahnya, akhirnya si wanita ini pun menjadi ibu dari seorang bayi mungil. Sayangnya, sesudah beberapa lama ditolong, sifat-sifat jahiliyahnya kambuh lagi. Mungkin karena iman dan ilmunya masih kurang, bahkan ketika dinasihati pun tidak mempan lagi hingga akhirnya dia terjerumus lagi. Demikianlah kisah si wanita ini, ia kembali hamil di luar nikah tanpa ada pria yang mau bertanggung jawab.

Lalu ditolonglah ia oleh seseorang yang ternyata aqidahnya beda. Si orang yang akan membantu pun menawarkan bantuan keuangan dengan catatan harus pindah agama terlebih dulu. Si wanita pun menyetujuinya, dalam hatinya "Toh hanya untuk persalinan saja, setelah melahirkan aku akan masuk Islam lagi". Tapi ternyata ALLOH menentukan lain, saat persalinan itu justru malaikat Izrail datang menjemput, meninggalah si wanita dalam keadaan murtad, naudzhubillah.

*** Cerita ini nampaknya bersesuaian pula dengan sebuah kisah klasik dari Imam Al Ghazali.

Suatu ketika ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi muazin di sebuah menara tinggi di samping mesjid. Kebetulan di samping mesjid itu adapula sebuah rumah yang ternyata dihuni oleh keluarga non-muslim, diantara anak-anak keluarga itu ada seorang anak perempuan berparas cantik yang sedang berangkat ramaja.

Tiap naik menara untuk azan, secara tidak disengaja tatapan mata sang muazin selalu tertumbuk pada si anak gadis ini, begitu pula ketika turun dari menara. Seperti pepatah mengatakan "dari mata rurun ke hati", begitulah saking seringnya memandang, hati sang muazin pun mulai terpaut akan paras cantik anak gadis ini. Bahkan saat azan yang diucapkan di mulut Allahuakbar-Allahuakbar, tapi hatinya malah khusyu memikirkan anak gadis itu.

Karena sudah tidak tahan lagi, maka sang muazin ini pun nekad mendatangi rumah si anak gadis tersebut dengan tujuan untuk melamarnya. Hanya sayang, orang tua si anak gadis menolak dengan mentah-mentah, apalagi jika anaknya harus pindah keyakinan karena mengikuti agama calon suaminya, sang muazin yang beragama Islam itu. "Selama engkau masih memeluk Islam sebagai agamamu, tidak akan pernah aku ijinkan anakku menjadi istrimu" ujar si Bapak, seolah-olah memberi syarat agar sang muazin ini mau masuk agama keluarganya terlebih dulu.

Berpikir keraslah sang muazin ini, hanya sayang, saking ngebetnya pada gadis ini, pikirannya seakan sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Hingga akhirnya di hatinya terbersit suatu niat, "Ya ALLOH saya ini telah bertahun-tahun azan untuk mengingatkan dan mengajak manusia menyembah-Mu. Aku yakin Engkau telah menyaksikan itu dan telah pula memberikan balasan pahala yang setimpal. Tetapi saat ini aku mohon beberapa saat saja ya ALLOH, aku akan berpura-pura masuk agama keluarga si anak gadis ini, setelah menikahinya aku berjanji akan kembali masuk Islam". Baru saja dalam hatinya terbersit niat seperti itu, dia terpeleset jatuh dari tangga menara mesjid yang cukup tinggi itu. Akhirnya sang muazin pun meninggal dalam keadaan murtad dan suul khatimah.

*** Kalau kita simak dengan seksama uraian-uraian kisah di atas, nampaklah bahwa salah satu hikmah yang dapat kita ambil darinya adalah jikalau kita sedang berbuat kurang bermanfaat bahkan zhalim, maka salah satu teknik mengeremnya adalah dengan 'mengingat mati'. Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal, padahal kita sedang berbuat maksiat, zhalim, atau aniaya? Tidak takutkah kita mati suul khatimah? Naudzhubillah. Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar kita dalam memelihara iman di relung kalbu ini. Artinya kalau ingin meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, maka selalulah ingat mati.

Dalam hal ini Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah keluar menuju mesjid. Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yangsedang mengobrol dan tertawa. Maka beliau bersabda, "Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis."

Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita seakan punya rem yang kokoh dari berbuat dosa dan aniaya. Akibatnya dimana saja dan kapan saja kita akan senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat. Begitupun ketika misalnya, mendengarkan musik ataupun nyanyian, yang didengarkan pasti hanya yang bermanfaat saja, seperti nasyid-nasyid Islami atau bahkan bacaan Al Quran yang mengingatkan kita kepada ALLOH Azza wa Jalla. Sehingga kalaupun malaikat Izrail datang menjemput saat itu, alhamdulillah kita sedang dalam kondisi ingat kepada ALLOH. Inilah khusnul khatimah.

Bahkan kalau kita lihat para arifin dan salafus shalih senantiasa mengingat kematian, seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Dan seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah r.a. bahwa ketika kematian menjemputnya, ia berkata, "Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya ALLOH, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu."

Akhirnya, semoga kita digolongkan ALLOH SWT menjadi orang yang beroleh karunia khusnul khatimah. Amin! ***

Minggu, 13 Oktober 2013

Jangan Mencaci

mencaci orang lain itu seperti meludah ke langit | tidak mengena kecuali ke wajah sendiri

mencaci maki itu tiada ada untungnya | bila cacianmu benar tiada menambah kemuliaanmu | bila cacianmu salah hancurlah kehormatanmu

mencaci orang lain tak menunjukkan kelemahannya | tapi jelas menunjukkan kelas dan kelemahanmu

yang mencari ridha Tuhannya | tak risau dengan kata manusia

jika kita berbuat baik lalu mendapati kawan yang tidak suka | setidaknya kita jadi tahu mana yang layak dikawani dan yang mana yang tidak

Laa Taghdhob (Jangan Benci) !!

abaikan saja orang-orang yang membencimu | waktumu dinanti oleh mereka yang mencintaimu

jangan sampai ruang hatimu penuh disesaki rasa iri dan benci | hingga-hampir hampir tak menyisakan ruang untuk yang dicintai

untuk apa memendam kekesalan? | kita menderita dia tertawa | kita sengsara dia ceria  :D

lebih baik memendam rindu? | dia tertawa kita bahagia | dia ceria kita sempurna :D

Jangan Berperasangka Buruk

bila sudah prasangka buruk yang dikedepankan | sampai kapanpun tak mencapai kebenaran

karena prasangka itu cenderung mengkhayal dan menambah-nambah | merangkai cerita baru demi pembenaran bukan kebenaran

prasangka itu pintu masuk syaitan dan awal musibah | musibahnya bagi diri juga ditimpakan pada yang lain

prasangka itu ranah anggapan bukan kenyataan | ada di ranah pembenaran bukan kebenaran

bila prasangka buruk sudah mendahului menguasai akal dan hati | percuma penjelasan ribuan paragraf karena prasangka sebabkan tuli

prasangka menutup pintu kebenaran dan barakahnya ilmu | asyik masyuk dalam kabar burung dan anggapan belaka

ada ribuan kebaikan diluar sana yang bisa diterima | namun bila sudah berprasangka engkau buta

berprasangka baiklah tentang dirimu | tentang diri kita dan tentang mereka | berprasangka baiklah kepada Allah

bila itu kewajiban dakwah maka sampaikan dengan kebaikan | bukan mengusik dengan prasangka dan penghakiman

bila prasangka buruk kita pada saudara Muslim ternyata benar | tutuplah aibnya agar Allah tutupi pula aib kita kelak di akhirat

tidak ada kebaikan pada prasangka buruk dengan saudara | salah atau benar prasangka buruk kita tetap celaka