Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Maret 2014

Belajar Harus Dengan Rasa Cinta

Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.

“Habib, saya mau pulang saja.”

Lho, kenapa?” tanya beliau.

Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu. Sayaminta izin mau pulang.”

Jangan dulu. Sabar.”

Sudah Bib. Saya sudah empat tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih baik saya menikah saja.”

Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.”

Sudah bib. Saya menghafalkan setengah mati. Tidak hafal-hafal.”

Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai. Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.

Ini surat siapa?” tanya Habib.

Owh, itu surat ibu saya.”

Bacalah!”

Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.

Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.

Sudah.”

Berapa kali?”

Satu kali.”

Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”

Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. Bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.”

Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.

Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” kataHabib dengan pandangan serius.
Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal. Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi.
Beliau mengatakan;
ﻷﻧﻚ ﻗﺮﺃﺕ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﺃﻣﻚ ﺑﺎﻟﻔﺮﺡ ﻓﻠﻮ ﻗﺮﺃﺕ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﻧﺒﻴﻚ ﺑﺎﻟﻔﺮﺡ ﻟﺤﻔﻈﺖ ﺑﺎﻟﺴﺮﻋﺔ
Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal. ”

Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses. Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghapalkannya. Bagi para guru/pengajar, jangan mudah mengkambing hitamkan kemampuan otak siswa dalam lemahnya menerima pelajaran. Mungkin anda tidak berhasil menanamkan Virus Cinta di hati mereka.

Selasa, 25 Februari 2014

MARAH DAN PUTUS ASA

Alkisah, seekor ular memasuki gudang tempat kerja tukang kayu di sore hari. Kebiasaan si tukang kayu, membiarkan sebagian peralatan kerjanya masih berserakan dan tidak merapikannya.

Nah ketika ular itu berjalan kesana kemari di dalam gudang, tanpa sengaja ia merayap di atas gergaji.

Tajamnya mata gergaji, menyebabkan perut ular terluka. Tapi ular beranggapan gergaji itu menyerangnya.

Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali.

Serangan itu menyebabkan luka parah di bagian mulutnya.

Marah & putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya untuk mengalahkan musuhnya.

Ia pun membelit kuat gergaji itu. Maka tubuhnya terluka amat parah dan akhirnya ia pun mati..

Kadangkala, di saat kita marah, kita ingin melukai orang lain. Tapi sesungguhnya tanpa disadari, yang dilukai adalah diri kita sendiri.

Mengapa? Karena perkataan dan perbuatan di saat marah adalah perkataan dan perbuatan yang biasanya akan kita sesali di kemudian hari..

Mari, kita sama-sama belajar untuk tidak marah (atau setidaknya mampu meredakan marah) terhadap situasi buruk yang mungkin kita alami.

Sabtu, 01 Februari 2014

Dimensi Inspirasi Dalam Isro M'iroj Nabi

IsraMi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad saw. dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam. Karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Peristiwa IsraMi’raj sendiri terbagi dalam dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra’, Nabi Muhammad saw.”diberangkatkanoleh Allah dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj, Nabi Muhammad dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sinilah beliau mendapat perintah langsung dari Allah untuk menunaikan salat lima waktu.

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena selain sebagai momen diwajibkannya shalat, juga tidak ada nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Nabi Muhammad SAW sedih.

Kaum yang tidak percaya pada isrami’raj

Namun, bagi kaum Quraisy saat mendengar kabar IsraMi’raj Nabi Muhammad, mereka menganggap itu suatu ketidakmungkinan. Karena tidak ada yang menjadi saksi mata peristiwa IsraMi’raj. Selain itu, mereka beranggapan tidak mungkin bisa menempuh perjalanan dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa lalu dinaikkan ke langit menunju ke Sidratul Muntaha hanya dalam satu malam saja.

Padahal kalau saja kaum Quraisy mau mempercayai apa yang mereka sebut denganketidakmungkinanitu, maka bukan tidak mungkin akan mendapat sebuah hidayah. Sayangnya, kaum Jahilliyah pada saat itu masih tetap bersikukuh dengan pendirian mereka. Sehingga mereka pun hanya mendapatkan kerugian di dunia. Seperti Al-Hikmah, “Orang yang paling gila sesungguhnya adalah orang yang meremehkan Tuhannya.”

Meremehkan kekuasaan Tuhan, itulah yang kaum Quraisy lakukan ketika menyebut Isra Mi’raj sebagai suatu ketidakmungkinan. Mungkin kaum Quraisy lupa diri bahwa yang menciptakan mereka adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana yang tertuang dalam Q.S. Az Zariyat ayat 56, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku.”

Dalam Isra Mi’raj, untuk pertama kalinya ibadah shalat lima waktu diperkenalkan. Dan sebagai seorang muslim, patut dan wajib mengerjakannya. Karena Shalat adalah sarana kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan doa selesai Shalat pula, kita bisa memohon untuk hal-hal yang bagus seperti menjadi pandai, pintar, kaya dan sebagainya. Akan tetapi perlu juga diketahui, kita tidak bisa menjadi sesuatu yang kita impikan kalau hanya Shalat atau berdoa saja tanpa berusaha dan bekerja keras. Sebagaimana yang tertuang dalam Q.S. Ar-Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Dimensi Inspirasi

Dengan berusaha dan bekerja keras disertai doa yang tulus, kita bisa memujudkan impian yang tidak mungkin menjadi mungkin. Karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya bisa menjadi mungkin atas seizin Allah SWT. Contohnya seperti peristiwa Isra Mi‘raj. Peristiwa yang dianggap tidak mungkin, bohong dan bual oleh kaum Quraisy. Mereka menganggap tidak mungkin melakukan perjalanan semalam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Tapi mereka lupa Allah SWT bisa menciptakan cahaya, udara dan lubang hitam. Maka Allah SWT pun pasti juga bisa membuat peristiwa Isra Mi’raj. Untuk itulah, kita jangan suka mengatakan tidak mungkin pada sesuatu yang dikerjakan sendiri atau orang lain.

Katatidak mungkinsering kita ucapkan ketika sedang berusaha mewujudkan impian. Karena terkadang, kita masih susah membedakan antara impian dan khayalan. Padahal impian dan khayalann itu memang berbeda. Seperti kata Ibnu Al Qoyyim, “Perbedaan antara impian dan khayalan adalah bahwa khayalan melibatkan kemalasan, dimana seseorang tidak berusaha ataupun berjuang (untuk yang dia lakukan). Impian, akan melibatkan seorang berjuang, usaha dan tawakal. Yang pertama, ibarat berharap tanah akan membajak dan menanam sendiri untuknya. Sedang yang kedua, benar-benar membajak, menanam, berharap tanaman tumbuh.”

Impian harus terus kita pelihara. Tidak lupa disirami dengan doa dan dipupuk melalui usaha dan kerja keras, Maka akan berbuah hasil yang bagus. Seperti kata Andrea Hirata, “Kuberi tahu satu rahasia padamu kawan, buah yang paling manis dari bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya.” Dalam perjalanan menggapai impian, tentu saja ada banyak rintangan dan halangan. Contohnya adalah menemui kegagalan.

Ketika menemui suatu kegagalan, kita pasti akan mempunyai pemikiran, “Kita sudah gagal, tidak mungkin lagi mewujudkan impian ini.” Padahal itu sepenuhnya tidak benar. Kalau kita yakin tidak ada yang tidak mungkin dalam mewujudkan impian maka, kita harus membuang jauh pemikiran itu. Kita harus terus berusaha sekuat tenaga untuk terus maju mewujudkan impian. Seperti kata Andrie Wongso, “Orang yang gagal yang berani menatap kegagalan dengan kepala tegak, siap belajar dan berusaha, berusaha dan belajar lagi, bangkit dan bangkit lagi adalah mereka yang sudah siap menjadi dewasa dan sukses secara utuh.”

Setiap orang memiliki peluang untuk sukses. Tapi tindakan untuk menjadi sukses itu yang berbeda-beda. Terkadang ada orang yang ingin sukses secara cepat dengan menghalalkan segala cara. Ada pula orang yang ingin sukses dengan usaha dan kerja keras disertai doa. Sayangnya, kebanyakan orang sudah menyerah ditengah jalan sebelum bisa meraih kesuksesan. Padahal sebagaimana yang dikatakan Thomas Alfa Edison, “Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.”

Saat menyerah dalam usaha meraih kesuksesan, kita merasa tidak mungkin lagi berusaha dan berhenti. Padahal kalau saja kita mau mempertimbangkan kembali untuk mencoba lagi. Lalu kembali menyakini kesuksesan itu akan diraih, kesuksesan pasti ada ditangan. Seperti kata Kazuo Inamori, “Kita tidak dapat berjuang meraih sesuatu yang tidak kita yakini.”

Yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam mewujudkan impian sehingga bisa sukses memang tidak mudah. Selalu saja ada pihak-pihak yang mengatakan bahwa apa yang kita lakukan itu tidak mungkin dan tidak akan berhasil. Sudah seharusnya, kita tidak terlalu memperdulikannya. Teruslah berusaha dan jangan menyerah. Seperti kata Napoleon Bonaparte, “Tidak ada yang mudah tapi tidak ada yang tidak mungkin.”

Patut direnungkan, tidak ada yang tidak mungkin untuk bisa diraih oleh manusia di dunia ini. Buktinya, pada jaman dulu orang hanya bisa bermimpi untuk terbang tapi sekarang, orang benar-benar bisa terbang dengan menggunakan pesawat. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada jaman dulu. Begitu pula, dulu orang-orang hanya bermimpi bisa ke bulan. Sekarang, itu bukan lagi sebuah mimpi. Masih banyak lagi contoh yang dipakai untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kuncinya, usaha dan kerja keras disertai doa kepada Allah SWT. Maka, insyaallah semua mungkin terjadi. Sungguh Allah SWT Maha Mengetahui Segala Sesuatu.

Siapa saja bisa bermimpi Nabi

Seluruh umat muslim pasti memiliki harapan besar untuk bertemu dan melihat Nabi Muhammad, meskipun itu di dalam mimpi. Saking besar harapan itu, banyak usaha yang dilakukan agar bisa melihat atau bertemu Nabi. Ironisnya, untuk bisa bertemu dan melihat Nabi dalam mimpi atau langsung, tidak sembaranng orang yang bisa mengalami hal itu.

Alasan memiliki harapan bertemu dan melihat Nabi adalah, karena jika harapan itu menjadi kenyataan, seseorang yang mengalaminya akan merasakan betapa bahagianya bisa bertemu Nabi, dan iman pun menjadi bertambah kuat. Seseorang yang tidak memiliki harapan itu, sungguh dia sangat merugi bahkan bisa dikatan imannya sangat lemah.

Tentang mimpi bertemu Nabi, ada beberapa kisah yang bisa kita jadikan pelajaran. Semisal, dikisahkan bahwa ada seorang gadis kecil yang berusia 8 tahun, ia mangaku pernah bermimpi beliau SAW. Dalam mimpinya ia melihat sosok laki-laki berjubah putih dengan mengenakan surban hijau. Laki-laki itu meraih tangan kecilnya dan membawanya terbang ke langit. Ditengah-tengah perjalannya ia dihadiahi kerudung pink dan mahkota kecil. Indahnya lagi, beliau sendiri yang memasangkan mahkota itu di atas kepala mungilnya. Sebelum meninggalkannya, laki-laki itu sempat berkata “ana rasulullah” (saya rasulullah).

Diceritakan pula, bahwa ada seorang yang tidak banyak ibadah, namun ia memiliki rasa rindu, dan cinta yang mendalam serta istiqomah dalam membaca shalawat. Dalam mimpinya ia sempat berdialog sambil makan bersama Nabi SAW. Sebelumnya, beliau memang pernah masuk kedalam mimpinya dan hanya mengatakan “ana rasulullah”. Namun, setelah lama tak bermimpi, ia bermimpi lagi dan dalam mimpinya ia berdialog dan makan bersama beliau SAW. Subahanallah,,,

Juga ada cerita yang bersumber dari seseorang yang tidak disangka akan bermimpi beliau SAW. Orang yang tidak mamiliki ilmu agama (tidak pintar ilmu agama). Dalam mimpinya ia melihat Rasulullah SAW memanggilnya dan berkata “ana rasulullah”. Spontan ia terkejut dan terbangun dari alam mimpinya. Ia pun menangis karena tak pernah menyangka akan diberi anugerah terindah, melihat beliau SAW meski dalam mimpi.

Dari ketiga cerita diatas, disimpulkan bahwa orang yang bermimpi Nabi SAW tidak harus banyak ibadah, atau pintar ilmu agama. Karena tak jarang orang awam yang seringkali bermimpi Rasulullah SAW, sementara bagi orang ‘alim (pintar agama) dan banyak ibadah adalah sebaliknya. Hal ini sebagaimana ungkapan Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Simth yang dikutip dalam kitab Al-Fawaidul Mukhtarah dan dikarang oleh Al-Habib Ali bin Hasan Baharun.

Terkait hal ini, ulama’ wahabiyyah menyangkal sekelompok ummat yang melihat Nabi SAW dengan pernyataannya, “sesungguhnya mereka telah berdusta karena aku berdakwah selama empat puluh tahun namun, aku belum pernah melihat beliau SAW”. Dari sini dapat disimpulkan bahwa untuk bermimpi ataupun melihat sosok Ibn Abdillah SAW tidak dibutuhkan ‘alim (pintar agama) terlebih banyak ibadah.

Tidak butuh menjadi ‘alim (pintar agama) atau biasa disebut ulama’ atau kiai, maksud kata ini adalah menepis dugaan orang-orang bahwa yang bisa bertemu Nabi itu hanya seorang ulama’ atau kiai. Dan maksud dari kata “tidak perlu banyak ibadah” bukan berarti mengurangi ibadah, apalagi ibadah-ibadah yang wajib. Maksud tepatnya adalah, seorang yang juga melaksanakan ibadah-ibadah yang wajib, dia juga melakukan istiqamah yan bisa mengantarkan dirinya bertemu Nabi dalam mimpi.

Sebenarnya, untuk mendapatkan anugerah terindah, bermimpi Nabi SAW, tidak sulit jika ada kemauan yang tertanam dalam jiwa. Dengan memperbanyak shalawat kepada beliau akan dengan mudah kita mewujudkan angan-angan bermimpi beliau SAW menjadi nyata. Setiap baris shalawat merupakan panggilan cinta dan sayang untuk beliau, sehingga setiap kali kita bershalawat beliaupun akan hadir dekat dengan kita. Maka, beruntunglah bagi orang-orang yang banyak bershalawat karena sejatinya ia begitu teramat dekat dengan kekasihnya SAW. Dan kedekatan tersebut akan melahirkan ketenangan batin tersendiri yang tak pernah didapat sebelumnya.

Ada banyak macam shalawat. Mulai dari yang terpendek (اللهم صل عليه و على اله) hingga yang panjang semisal shalawat ibrahimiyah. Menurut sebagian ulama’, barang siapa yang ingin bertemu Rasulullah SAW, maka hendaklah ia membaca shalawat ibrahimiyah sebanyak 1000x. Namun, bagi kita yang belum mampu, sebaiknya membaca shalawat yang pendek saja, yang penting istiqomah.

Banyak shalawat saja juga tak cukup. Sebab, jika banyak bershalawat namun tak disertai dengan  rasa cinta dan rindu yang mendalam dan kuat maka, tak kan mungkin pula ia akan bermimpi apalagi bertemu dengan beliau  SAW. Disamping itu, ia juga harus memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta dengan sesama. Dengan begitu, pintu gerbang menuju bermimpi nabi SAW akan terbuka lebar.

Sebagai umatnya yang turut akan dibanggakan kelak di hari kiamat, tidak wajar jika tidak mencintai pemimpinnya. Nah, melakukan semua sunnah beliau SAW dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang merupakan bentuk rasa cinta kita kepada sang penyejuk hati dan penenang jiwa. Dan membaca shalawat kepada beliau merupakan sunnah. Orang yang paling dekat kedudukannya kelak di hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca shalawat kepada Nabi SAW. Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan beliau SAW, “paling dekatnya kedudukan ummatku disisiku pada hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.”

Untuk itu, mari kita berlomba-lomba untuk menuju gerbang bermimpi nabi SAW agar tak hanya sekedar menjadi mimpi belaka, tapi merupakan kisah nyata yang bersejarah dalam hidup kita. Semoga dengan niat ini, Allah selalu membimbing kita dengan inayahNya, amin.

Dan perlu diingat, bahwa bermimpi Nabi tidak harus seorang kiai atau ulama’, orang awam seperti kita pun bisa bertemu Nabi, asalkan kita beribadah dengan baik, melakukan sunnah Nabi, dan selalu rindu pada Nabi yang disertai dengan ungkapan shalawat secara istiqmah.

Kamis, 09 Januari 2014

Penilaian orang bergantung pada pola senyum

Senyum adalah bahasa tubuh anda

Senyum adalah bukti akan adanya penerimaan.

Senyum adalah penyatuan diri sebenarnya.

Senyum adalah symbol akan adanya diri.

Senyum..tetaplah senyum

Ketulusan dan kesejatian hidup dapat dibuktikan dengan sebuah

Cinta, kasih sayang, dan senyuman adalah senyawa yang tidak dapat dicerai beraikan oleh rezim yang bernama waktu.

Senyum penuh ketulusan selalu diharapkan

Dari bibir anak manusia.

Dalam keadaan bagaimanapun, ketika hati kita sedang galau, hancur berantakan, masalah menumpuk, dan berbagai problem hidup yang kerap hadir dalam keseharian kita. Mencobalah untuk selalu tersenyum dalam menjalaninya. Anggap semua yang telah terjadi kepada kita sebagai sebuah ujian Tuhan untuk mengukur kualitas penerimaan hamba manusia terhadap segala ciptaan-Nya.

Dengan cara kita bersenyum, orang lain akan menganggap bahwa dalam menjalani hidup tidak terlalu diambil pusing. Karena apa.?, orang lain tidak akan pernah tahu apa yang kita rasakan. Mereka hanya melihat, menilai dan mengkritisi bahkan terkadang menghakimi. Jadi untuk apa kita tampakkan segala kegelisahan kita pada mereka. Cukuplah kita yang merasakan segala problema yang tersaji. Yakinlah..!!! orang lain akan menganggap kita manusia yang hebat, karena mampu menjalani hidup hanya dengan sebuah symbolSenyum’. Dengan begitu, kita akan merasakan sesuatu yang luar biasa dalam penerimaan hidup.

Senyum adalah bahasa kenyataan ….. senyum adalah simbol dari pengakuan akan kebenaran segala realitas dalam balut keikhlasan dan kesabaran. Senyum bukan sekedar refleksi dari tekstur emosional senyum lebih merupakan seberkas kemurnian hati yang selalu tunduk dan pasrah dalam pelukannyasenyum adalah mutiara seorang mukmin yang tak ternilai.

Hati manusia adalah luka dan tawa Tuhan yang terbuka. Hidup disetiap hembusan nafas iramanya, sedikitpun takkan pernah gagal menyajikan kaidah-kaidahnya. Hanya hati yang terbuka untuk luka, yang mampu menjalaninya dengan selimut kedamaian.

bila hatiku, hatinya dan hati mereka adalah tempat lukaMu dan tawaMu bertahta,

maka izinkanlah kami menyelami makna kesejatian

yang menjadi kemestian dalam hidup…..!

……..jangan pernah menertawakan sebuah kenyataan apalagi mencacinya.

Jangan pula marah pada sebuah masalah

Sebab ia punya jalan keluar sendiri tanpa harus kita ketahui

Sambutlah segalanya cukup dengan senyuman

Sebab dengan begitu, segala kenyataan akan kembali tampak tersenyum pula.

TersenyumlahLife Is Beautiful As your Face

Ada satu hal yang harus kita miliki yaitu kemampuan untuk mentransendensi setiap gejala dan fenomena yag terjadi di setiap alurnya. Kesadaran ini sangat penting ketika hati manusia tak lagi memiliki bingkai sebab disadari atau tidak, pada akhirnya kitapun akan sampai pada satu kenyataan dimana kita harus menerima kenisbian segala yang ada.

Merana ditinggal jama'ah

Para salafussalih memang orang-orang yang berpegang teguh dan berkomitmen penuh dalam menjalankan ajaran agamanya, terutama soal ibadah. Jangankan yang wajib, ibadah sunnah tak pernah alpa mereka kerjakan sebagaimana ibadah wajib. Tak ayal, jika ada satu ibadah saja yang tertinggal, mereka seolah tertimpa musibah yang sangat besar.

Dalam hal shalat berjamaah, misalnya. Mereka sangat intens mengerjakan salah satu syiar Islam tersebut. Semua berlomba-lomba untuk mendapatkan fadhīlah 27 derajat. Ketika terlewatkan, mereka sangat bersedih menyesali kelalaian yang telah mereka perbuat. Abdullah bin Umar ra suatu ketika tidak melaksanakan shalat isyaberjamaah. Demi menambal kelalaiannya itu, beliau melakukan shalat sunnah semalam suntuk hingga terbit fajar.

Yang musykil adalah kejadian yang dialami oleh Umar al-Qawārīry. Suatu malam ia kedatangan tamu dan sibuk melayani mereka. Setelah tamunya pulang, ia kemudian pergi menuju masjid. Ternyata, masjid sudah tutup. Jamaah masjid sudah selesai menggelar shalat jamaah isya’. Melihat ini, Umar al-Qawāriry kecewa. Ia pulang dengan hati sesak dan perasaan merana.

Di perjalanan pulang, ia teringat dengan sebuah hadits yang mengatakan bahwa pahala shalat jamaah adalah 27 derajat dibandingkan shalat sendirian. Sesampainya di rumah, ia pun melakukan shalat isyasebanyak 27 kali. Seusai melaksanakan shalat yang melelahkan tersebut, ia tidur.

Dalam tidurnya, ia bermimpi dirinya sedang menaiki kuda. Di depannya, ada sekelompok orang yang juga menunggangi kuda. Ia berusaha mengejar kelompok tersebut, namun tak kesampaian.

Engkau takkan bisa menyusul kami.” Kata salah seorang di antara mereka kepada Umar.

Mengapa begitu?” tanya Umar heran.

Kami melakukan shalat isyaberjamaah, sedangkan dirimu melakukannya sendiri.”

Seketika itu Umar terbangun dan benar-benar sedih.

(disarikan dari kitab Minah as-Saniyyahalā al-Washiyyah al-Matbūliyyah karya Syeikh Abdul Wahhab as-Sya’rāny, h. 13).

Misteri Lima Jari

Sebut saja Udin Makmur, salah seorang santri asal kota Gandrung Banyuwangi . Di mata teman-temanya, dia termasuk santri yang terkenal kocak, humoris, dan rada-rada usil. Parasnya yang elok jelita membuat ia juga menjadi idola para santriwatiTidak hanya itu, pemuda setengah baya ini juga terkenal sangat ambisius dalam segala hal. Apapun yang menjadi keinginannya harus terpenuhi dalam waktu yang sesingkat-singkatnnya. Sehingga pada suatu hari, dia mempunyai hasrat yang sangat luar biasa, yakni ingin tahu kapan dia bakalan mati.

Untuk mewujudkan harapannya ini, berbagaimacam daya dan upaya dilakukan, namun semuanya tidak menuai hasil. Karena tak kunjung menemukan kejelasan, dia bermunajat minta petunjuk kepada Allah Swt. Sesaat kemudian dia terlelap. Dalam tidur pulasnya dia bermimpi bertemu dengan malaikat maut berwujud manusia biasa.

Tahu bahwa itu dalah malaikat maut. Di dalam mimpinya itu, Udin Makmur bertanya: “Kapan saya meninggal wahai malaikat Azrail?” Sembari melempar senyum sinis, sang Malaikat mengakat lima jari kanannya. Melihat jawaban Mailakat yang demikian, seketika itu juga Udin Makmur terjaga dari tidurnya. Penuh keheranan, dia merenung menapsiri makna mimpinya tersebut. Tanpa berpikir panjang, Udin Makmur sampai pada sebuah kesimpulan bahwa lima jari yang ditunjukkan oleh malaikat bermakna bahwa usianya tinggal lima hari lagi.

Sadar bahwa usianya tinggal lima hari, hari-harinya diisi dengan ibadah, istigfar, dan berzikir. Makan dan minum kini tak dihiraukan lagi, masuk madrasahpun enggan. Yang ada dalam pikirannya hanya mati. Hal ini tentu membuat teman-temannya yang lain merasa heran dengan perubahan sikap si Udin. Masjid dan Mushola adalah tempat ternyaman untuk bermunajat sepanjang waktu agar dia wafat dalam kondisi husnul khotimah.

Singkat cerita, di hari yang kelima sikap Udin semakin aneh, air mata tidak henti-hentinya bercucuran dari matanya. Satu persatu teman-teman dia datangi untuk minta maaf atas segala dosa dan khilaf. Melihat sikap udin yang semakin aneh ini, salah seorang santri melaporkannya kepada pak Kiai.

Udin pun dipanggil oleh sang Kiai, “Kamu kenapa Din kok kayak gituTanya kiai dengan tegas. Dengan terbata-bata Udin menjawab, “Aaanu Kiai, Saya bermimpi kalau umur saya tinggal empat hari lagiKiai kembali bertanya kepada Udin, “Emang seperti apa mimpimu?” Udin juga menjawab lagi, “Saya bertemu dengan malaikat maut, dan saya bertanya kepadanya kapan saya akan mati. Dia menjawab dengan menunjukkan lima jarinya” “Ooooooo….! itu, kalau itu kamu salah DinUngkap kiai sembari melepas senyum.

Akhirnya Kiai menjelaskan bahwa makna dari mimpi itu adalah ada lima hal yang tidak diketahui oleh manusia kecuali Allah Swt Sendiri. Pertama adalah jodoh, kedua Ajal atau mati, ketiga adalah rizki, keempat adalah kelahiran, dan kelima adalah umur. Udin Makmur, “.….???????????????????????”

Rabu, 08 Januari 2014

Al-qurãn, Air dan kecerdasan Otak manusia

Air dapat merespon lingkungan sekitarnya, pernahkah anda mendengar tentang hal tersebut? Penelitian mengenai air telah dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto dan Kazuya Ishibashi beberapa tahun lalu. Penelitian tersebut dilakukan dengan mengambil foto kristal air menggunakan respon kata-kata, gambar, serta suara.Foto kristal air ini didapat dengan cara membekukan air pada suhu – 25 derajat celcius dan difoto dengan camera berkecepatan tinggi. Hasilnya air ternyata mampu merespon kata-kata, gambar serta musik baik secara positif ataupun negatif.

Air mengenali kata tidak hanya sebagai sebuah desain sederhana, tetapi air dapat memahami makna kata tersebut. Ketika air menyadari bahwa kata yang diterima membawa informasi yang baik maka air akan membentuk kristal yang sangat indah (seperti bunga merekah). Sebaliknya, jika kata-kata negatif yang diterima akan menghasilkan pecahan kristal dengan ukuran yang tidak seimbang.

Ada sebuah kisah lain mengenai air dan indahnya bacaan Al-Qur’an. Suatu hari seorang ustadz dan peziarah mengunjungi sebuah seminar mengenai air yang  diadakan oleh Dr. Masaru Emoto di sebuah hotel bintang lima. Peserta seminar itu kebanyakan non muslim. Pada sesi pertama diperlihatkan gambar sampel-sampel air dari berbagai sumber air. Kemudian terdapat sebuah foto dengan bentuk molekul yang sangat cantik. Foto tersebut ternyata diambil dari air zam-zam.

Pada suatu sesi hadirin yang ada diminta untuk membacakan sesuatu ke dalam air mineral masing-masing, dan salah seorang diminta untuk menguji sendiri bentuk molekul air yang telah diberi bacaan tersebut. Pada layar monitor tampak molekul-molekul air tersebut membentuk rupa seolah-olah engkong Cina yang memiliki janggut panjang dengan perut yang buncit. Ketika giliran Ustadz, air tersebut dibacakan surat Al-fatihah, Salawat dan Ayat Kursi. Maka nampaklah bentuk molekul air seperti berlian, bersinar dan berkilau-kilau. Sangat cantik.

Hasil penelitian ini kembali membuka pikiran kita mengenai kebenaranayat dalam Al-Qur’an.“Dan kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup…” (Q.S Al Anbiya (21) :30). Al-Quran merupakan doa dan untaian kata-kata terindah yang pernah semesta terima. Dapat dilihat dari foto kristal air di atas, pola yang sangat indah terbentuk setelah air diberi doa atau dibacakan Al-Qur’an.

Apa hubungan penelitian tersebut dengan kecerdasan otak manusia?

Otak merupakan pusat sistem syaraf manusia yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta selsyaraf atau neuron. Setiap sel syaraf tersebut terdiri atas berjuta-juta sel kecil yang mengandung elemen utama yang disebut protoplasma. Protoplasma tersebut mengandung air sekitar 75%-80%.Membaca Al-Qur’an merupakan kegiatan terbaik yang akan memerikan informasi positif pada air yang ada dalam protoplasma dalam otak kita. Otak merupakan pusat dari semua kendali emosi seseorang. Bentuk molekul air yang baik (seimbang) akan berpengaruh baik untuk keadaan psikologi/emosi seseorang sehingga akan meningkatkankekebalan tubuh terhadap penyakitdanproduktifitas kerja otak.

Penelitian lain mengenai kehebatan bacaan Al-Qur’andilakukan oleh Dr. Al Qadhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat.  Beliau melakukan penelitian melalui deteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit pada seseorang yang telah mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Dari hasil uji coba bacaan Al-Qur’an berpengaruh hingga 97% terhadap ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Penelitian tersebut diperkuat oleh Muhammad Salim yang kemudian dipublikasikan oleh Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab.Penelitian ini terbagi menjadi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, mereka mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.

Penelitian yang sama juga membuktikan bahwa  membaca Al-Qur’an selepas sholat maghrib dan subuh mampu meningkatkan kecerdasan otak hingga 80 %. Hal ini disebabkan pada kedua waktu tersebut otak masih dalam keadaan fresh karena ada pergantian waktu dari terang ke gelap dan dari gelap ke terang.

Dari uraian pemelitian tersebut terdapat korelasi antara hasil penelitian Dr. Masaru Emoto tentang air dan beberapa penelitian mengenai kehebatan bacaan Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan bacaan terbaik yang mengandung pesan positif yangakan merubah bentuk molekul air dalam tubuh maupun otak menjadi bentuk yang sangat indah (seimbang). Hal tersebut memberikan pengaruh baik dalam hal psikologi maupun fisiologi bagi yang membaca maupun yang mendengarkannya (karena otak merupakan pusat syaraf dan emosi yang terdiri dari 75% air).Sehingga otak dapat melakukan kerja secara maksimal dan akan berpengaruh pada peningkatan kecerdasan seseorang.

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S.Al-A’raf: 204)

Telah banyak penelitian dilakukan oleh para pakar di seluruh penjuru dunia yang memberikan bukti-bukti kebenaran isi ayat dalam Al-Qur’an. Penelitian yang telah dipaparkan di atas hanya sebagian kecil dari banyak penelitian lain yang berujung pada ayat-ayat Allah. So, yuk sama-sama memperbanyak membaca dan mendalami isi surat cinta Allah ini. Jadikan diri sebagai pribadi yang beriman lagi berilmu demi terciptanya generasi muda muslim Indonesia yang berguna bagi agama dan bangsa.

Kamis, 26 Desember 2013

Jurus MOTISAKTI

Rumus Untuk Mewujudkan Impian

H = (I x P x K)^T

H = Hasil (Terwujudnya Impian, Tercapainya yg diimpikan)

I = Impian

P = Pedoman

K = Kemampuan

T = Tawakal

tanda ^ = pangkat

tanda x = kali

Nilai Hasil (Terwujudnya Impian)

Kita semua tentunya ingin agar setiap impian kita dapat terwujud. Dengan kata lain, kita ingin agar kualitas nilai H (Terwujudnya Impian) kita setinggi mungkin.

Dari rumus di atas menunjukkan bahwa terwujudnya impian kita sangat bergantung dari 4 hal, yaitu : Bagaimana kualitas nilai Impian, Pedoman, Kemampuan, dan Tawakal kita. Seberapa besar nilai I, P, K, dan T kita.

Misalkan :

Nilai I, P, T kita bagus, tapi K kita nol, tentu saja hasilnya akan nol.

Nilai I, P, K kita bagus, tapi T (Tawakal) kita kecil sekali, maka Hasilnya (H) tentu akan kecil.

IMPIAN (I)

Impian yang baik (kualitas nilainya tinggi) adalah impian yang jelas dan fokus, bernuansa dunia dan akherat, serta memberikan banyak manfaat bagi sebanyak mungkin orang (otomatis diri sendiri akan terkait didalamnya).

PEDOMAN (P)

Pedoman artinyaPEMAHAMAN KITAtentang makna dan ikhtiar kesuksesan (usaha untuk sukses), maksudnya pemahaman kita tentang bagaimana dapat sukses dengan jalan yang benar.

Jadi pedoman adalah apa pun yang kita fahami dan yakini, dan apa pun yang ada dalam logika pikiran bawah sadar kita.

Nilai Pedoman yang maksimal dapat kita raih melalui pembejaran hidup, misalnya melalui keluarga, pengalaman-pengalaman kita, lingkungan kita, orang-orang di sekitar kita, Al-Qur’an, as-Sunnah, sirah, juga buku-buku atau referensi yang berkualitas.

Semakin tinggi pemahaman kita, maka kualitas nilai P akan semakin tinggi, tentu saja H juga semakin tinggi.

KEMAMPUAN (K)

Kemampuan berbeda dengan Pedoman.

Jika pedoman bernuansa TEORI dan keilmuan, sedangkan kemampuan bernuansa AKSI dan pengalaman.

Kemampuan bermakna sudah sejauh mana kita memperjuangkan pedoman yang kita yakini tersebut. Maksudnya sudah sejauh mana kita melaksanakan, mengamalkan, menerapkan semua teori dan ilmu yang kita fahami dan yakini tsb.

Jadi Kemampuan adalah apa pun yang sudah kita KERJAKAN berdasarkan keyakinan kita (pedoman kita).

Untuk meningkatkan kemampuan kita, maka kita harus selalu beraksi (praktek) dan menambah skill, menambah pengetahuan, pemahaman dan keyakinan kita melalui berbagai pedoman kehidupan yang benar.

TAWAKAL (T)

Tawakal artinya menyerahkan semuanya kepada Allah.

Bertawakal yang baik tidak hanya diekspresikan setelah kita berusaha, tetapi meliputi keseluruhannya baik ketika AKAN, SEDANG, maupun SETELAH berusaha.

Allah berfirman :

“ . . . . . apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” : Q.S. Ali 'Imran [3] ayat 159.

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. . . .” : Q.S. Ath-Talaq [65] ayat 3.

Jadi, yang namanya tawakal itu sudah dimulai sejak kita membulatkan tekad, yaitu sejak kita menetapkan impian-impian kita. Dan senantiasa bertawakal ketika kita sedang berusaha mengejar impian-impian itu, maupun setelah berusaha.

AKHIRNYA ….

Mohon diperhatikan rumus di atas dengan khidmat.

Ketika sebuah angka dikalikan dengan nol, maka hasilnya akan sama dengan nol. Artinya, walaupun kita memiliki impian yang bernilai tinggi, lalu diiringi oleh pedoman yang sangat hebat dan Islami. Tapi jika aksinya nol besar, maka hasilnya (nilai H) akan sama dengan nol, berarti impian tidak terwujud.

Kemudian, walaupun nilai I, P, K baik, namun kita tidakmemangkatkannyadengan nilai tawakal (T) yang tinggi, maka hasilnya tidak signifikan. Misalnya saja T=0, maka sebesar apa pun nilai I, P, K kita, maka hasilnya hanya 1.

Apalagi, jika nilai tawakal kita minus, maka hasilnya tidak akan pernah lebih dari 1, bahkan mendekati nol.

Nilai tawakal seseorang bisa menjadi minus, jika dia sudah menjadi pribadi yang sombong dan syirik. Karena dengan begitu dia telah salah dalam menggantungkan impian, pedoman dan kemampuannya pada sesuatu yang lain. Na’udzu billahi min dzalik.

Namun, jika kita memiliki I, P, K, dan T yang bernilai positif, kita akan mendapatkan hasil positif pula. Semakin besar nilai I, P, K kita ditambah dengan nilai T yang lebih besar, maka hasilnya akan luar biasa.

Perlu diingat bahwa kita akan sangat sulit bertawakal, jika I, P, K kia tidak maksimal. Sehingga , untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, kita harus berusaha keras memaksimalkan IMPIAN, PEDOMAN, dan KEMAMPUAN kita, serta memangkatkannya dengan tawakal kepada Allah. Dengan begitu, yakinlah hasilnya akan luar biasa.

Allah berfirman :

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”. Q.S. Ali 'Imran [3] ayat 160.

Semua tulisan di atas ini, jika kita fahami dengan benar, maka akan meningkatkan pengetahuan kita berarti meningkatkan pedoman (P) kita. Namun perlu diingat, kata-kata bijak berikut ini :

Sejuta teori akan tumbang oleh satu aksi, maka selaraskanlah antara teori dan aksi”.

Jadi marilah kita ber-“aksi”, yaitu berbuat, berusaha keras untuk melakukannya, tidak sekadar faham dan berteori.

Mari amalkan jurus MOTISAKTI, 9 jurus sakti remaja berprestasi:

Jurus 1. M = Mulailah dengan Fokus
Jurus 2. O = Ops! Berhentilah dari berhenti
Jurus 3. T = Tundukkan keraguanmu
Jurus 4. I = Isilah Bahan bakarmu
Jurus 5. S = Sinergikan kekuatan dan bangun
empati
Jurus 6. A = Ada prestasi dibalik frustasi
Jurus 7. K = Kuburkan Egomu
Jurus 8. T = Temukan Arti Cinta
Jurus 9. I = Inilah saatnya beraksi

9 jurus sakti Pendekar Motivasi, Dengan semangat membakar dari hati Yakinlah semua bisa dilewati Sebab Tuhan pun tak pernah mendzolimi Raih kesuksesan hakiki.

Semoga bermanfa'at

Minggu, 03 November 2013

Pola MASALAH

Masalah yang dihadirkan Allah kepada kita bisa menjadi UJIAN tapi bisa juga menjadi AZAB. Tergantung kita menempatkannya. Dan tergantung dosa-dosa kita. Mulai saat ini, dengan keyakinan penuh dari hati, marilah kita selalu berpikir positif terhadap masalah yang datang silih berganti. Karena masalah adalah ibarat kesulitan yang menghadirkan suatu keistimewaan.

Mari kita perhatikan lebih seksama beberapa tanda semesta berikut. Layang-layang bisa terbang tinggi justru ketika gerakan angin berani ia hadapi, melawan arah angin bukan searah mengikuti. Pohon bisa tumbuh subur tinggi justru ketika diberi pupuk yang bau bukannya diberi minyak wangi. Makan terasa nikmat, justru ketika sudah lapar berat. Minum terasa menyegarkan justru ketika haus kian tak tertahankan. Bahkan sang bintang pun bisa terlihat terang, justru ketika sang bintang berani muncul di antara kegelapan malam.

Ya, ketika hadir sebuah masalah maka segeralah mengingat Allah lebih dalam dan lakukanlah INSTROSPEKSI, dan berpikirlah, “Apa yang sudah saya lukakan, sehingga hadir masalah ini?” Berpikir ke depan dan visioner itu sangatlah baik, tetapi melihat ke belakang sekilas saja, flash back, insya Allah akan membuat Anda menginjak gas mobil kehidupan Anda dengan lebih yakin.

Ibarat Anda sedang mengendarai mobil, tentunya membutuhkan kaca spion sebelum melakukan aksi terobosan yang memukau. Namun demikian, Anda dilarang untuk selalu melihat kaca spion, sebab bagaimanapun juga finish pasti ada di depan, tidak mungkin ia ada di belakang Anda. Ya, tak baik terlalu lama melihat masa lalu, maafkanlah ia, dan fokuslah pada kenikmatan Allah yang dihadirkan hari ini, seraya bergeraklah ke depan menuju kenikmatan-kenikmatan berikutnya.

Artinya, “kaca spion” yang saya maksud adalah kemampuan Anda untuk melakukan aksi INTROSPEKSI dengan cepat ketika masalah itu hadir menimpa Anda. Tanyakanlah ke dalam diri Anda, ke dalam hati yang terdalam di dalam diri Anda, di mana di sana ada ALLAH yang menggenggam hati Anda.

Tanyakanlah kepada hati Anda, artinya tanyakanlah kepada Allah. “Ya Allah, apa maksud semua ini, apa yang harus aku lakukan, aku berserah penuh pada keteraturan yang Engkau buat ya Allah”. Ketika AZAB/PERINGATAN yang menjemput Anda maka segeralah bertaubat dengan beristighfar, sedangkan tatkala yang hadir itu sebuah UJIAN maka sesungguhnya UJIAN itu hadir sebagai Anugrah, sebab berbagai ujian itulah yang melahirkan potensi dan kualitas Anda yang sejati di kemudian hari.

Ya, kadang kita masih bingung apakah Kesulitan yang hadir ini berupa AZAB/PERINGATAN ataukah UJIAN/ANUGERAH. Namun, Jika Anda sudah terbiasa membersihkan diri maka hati kecil Anda akan menginformasikan kepada Anda apakah masalah/kesulitan tersebut sebuah AZAB/PERINGATAN ataukah justru sebuah UJIAN/ANUGERAH.

Namun secara prinsip, berdasarkan apa yang penulis alami dan amati, ternyata apabila Anda mendapatkan kesulitan setelah sebelumnya Anda berlaku maksiat, maka kesulitan itu biasanya sebuah PERINGATAN/AZAB, dan ketika Anda mendapatkan kesulitan karena sedang meraih atau mengejar sebuah keinginan/impian/do’a, dan Anda pun tidak sedang berlaku maksiat, maka insya Allah kesulitan itu hadir sebagai UJIAN/ANUGERAH.

Semakin besar keinginan Anda, maka semakin kuat ujiannya. Tapi tak jarang pula Kesulitan hadir sebagai perpaduan antara Peringatan dan Ujian, perpaduan antara Azab dan Anugrah. Hal ini bisa saja terjadi disebabkan ketika Anda sedang mengejar sebuah impian, namun Anda pun tetap melakukan perbuatan maksiat, apalagi dalam mengejar impian itu, Anda terlalu ambisius sehingga nyaris lupa bersyukur, nyaris lupa menikmati kehidupan “saat ini” Anda, dan sibuk membayangkan kenikmatan “masa depan” Anda yang belum pasti. Tapi di balik itu semua, yakinlah bahwa setiap kesulitan yang diikhlaskan dan di-istighfarkan, insya Allah akan melahirkan kemudahan-kemudahan yang penuh dengan keberkahan.

Sahabat, ingatlah bahwa Anda tak perlu berlama-lama di episode INTROSPEKSI ini. Yang jelas tak perlu salahkan siapapun ketika Anda melakukan proses introspeksi ini. Mohon diingat, ini adalah sebuah aksi introspeksi bukanlah identifikasi. Introspeksi itu ke dalam sedangkan identifikasi itu seringkali keluar dan akhirnya berujung pada kesimnpulan bahwa masalah tersebut hadir karena kesalahan orang lain, dan Anda hanyalah korban. Dan itu pastinya kesimpulan yang merugikan Anda. Jangan pernah merasa menjadi KORBAN, apapun masalah Anda.

Sahabat Solusi, ketika masalah itu hadir maka ada pola standar yang harus Anda lakukan. Sungguh, bukan masalahnya yang menjadi masalah, tapi bagaimana sikap Anda ketika masalah itu hadir. Masalah itu adalah sebuah kepastian, tetapi sikap Anda dalam menghadapi masalah itu adalah sebuah pilihan.

Setelah Anda sukses berintrospeksi, maka lanjutkan dengan segera pada langkah AKSI SOLUSI yang luar biasa. Ketahuilah, bahwa Solusi dari masalah Anda seringkali tidak berada pada masalah-masalah yang Anda miliki. Tetapi Solusi Anda berada pada KEHENDAK ALLAH, dimana ALLAH memiliki kehendak bahwa DIA akan membantu Anda jika Anda mau membantu hamba-hamba Allah lainnya.

Itu sebabnya, mulai hari ini JANGAN LAGI MENYELESAIKAN MASALAH Anda dengan cara yang biasa. Tidak perlu habiskan energi untuk terlalu fokus mencari solusi dari permasalahan Anda. Sebab hakekatnya Anda secara pribadi tak memiliki kemampuan apapun untuk menyelesaikan masalah-masalah Anda. Hanya ALLAH yang mampu. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Dalam Surat ALAM NASYRAH kita disuruh MENYELESAIKAN urusan kita dengan bersungguh-sungguh. Nah, tahukah Anda, Apakah URUSAN KITA itu?

Urusan kita bukanlah permasalahan pribadi kita, tapi urusan kita adalah membantu menyelesaikan permasalahan orang-orang di sekitar kita. Artinya apa? jika ENGKAU, ingin permasalahanmu beres, maka bantulah bereskan atau selesaikan permasalahan orang-orang di sekitarmu. Perhatikan hadist berikut.

Dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Rosulullah saw bersabda : "Seorang muslim dan lainnya adalah bersaudara, karenanya janganlah menganiaya saudaranya sendiri dan jangan membiarkannya tersiksa. Siapa saja yang memenuhi hajat saudaranya, maka Allah akan memenuhi hajatnya. Dan siapa saja yang memudahkan kesulitan orang lain, niscaya Allah akan melepaskan kesulitannya di hari Qiyamah. Dan barang siapa yang menutup aib orang lain, niscaya Allah menutupi aibnya di hari Qiyamah." (H.R. Muttafaq Alaih alias Bukhori-Muslim).

Sebetulnya, Masalah itu dihadirkan sebagai ujian apakah kita bisa bersabar dan bersyukur, atau dihadirkan sebagai azab agar kita kembali (taubat) dan istighfar (minta ampun).
Dan setelah itu kita bisa dekat kembali dengan-Nya, lalu fokus membantu sesama, jaga kualitas kekhusyuan Sholat dan ibadah lainnya, dan bertawakallah secara penuh kepada Allah SWT.

Sobat Solusi, jangan sampai gara-gara kita memiliki masalah, justru kita malah menjadi :

1. Tidak khusyu sholatnya
2. Tidak mau membantu sesama karena merasa bahwa "saya lah yang seharusnya dibantu".
3. Tidak bertawakkal kepada Allah SWT.

Jadi bantulah sesama maka Allah akan membantu kita. Nah, apakah makna ini semua? Sebelumnya, mari kita bayangkan, seandainya MANUSIA di seluruh dunia ini, hanya fokus kepada masalahnya masing-masing, maka bagaimana mungkin bisa terjadi sinergi yang baik. Bahkan, saya pun dulu pernah tidak jadi berbuat baik karena saya teringat atau fokus kepada masalah saya. Saat itu, ketika saya mau bersedekah kepada seseorang, tiba-tiba ada bisikan pikiran .. "Hai Zen, kok kamu ini ga tahu malu ya, kamu sendiri kan banyak hutang, eh malah sedekah.. apa gak malu sama Allah?" Astaghfirullah....

Sobat Solusi sekalian, mari kita ambil sebuah pembelajaran dari peristiwa tersebut, yaitu jangan sampai kita gagal berbuat kebaikan disebabkan kita fokus kepada masalah kita, cukuplah pengalaman ini menimpa saya.

Nah, kesimpulannya adalah ketika Anda hari ini sedang memiliki MASALAH, maka sebenarnya Anda sedang diberikan "tanda" oleh Allah bahwa ada orang-orang di sekitar Anda yang sedang butuh bantuan Anda. Pasanglah antene kebajikan itu, dan lakukan searching dengan hati terdalam Anda... kemudian rasakanlah.... lalu bantulah mereka...., maka perhatikan apa yang terjadi dalam kehidupan Anda ketika Anda berhasil membantu menyelesaikan masalah-masalah mereka. Tak perlu heran jika justru masalah Anda secara AJAIB menjadi selesai tuntas, atas bantuan Allah SWT.

Bukan Masalahnya yang menjadi Masalah, tapi bagaimana sikap Anda ketika masalah itu hadir. Sebab, ternyata dengan washilah berbagai masalah itulah yang membuat Anda tetap berTAHAN dan berTUHAN. Itu sebabnya, Jangan  besar-besarkan masalah Anda, sehingga Anda lupa membesarkan Allah, yang memberikan sousi dari masalah Anda.

So, jangan Katakan, "Wahai Allah, masalahku sangat besar," tapi katakanlah, "Wahai  masalah, Allah itu Maha Besar."

Pemenang Dan Pecundang, BEDA !!

Pemenang bergerak sampai tuntas
Pecundang begerak tapi kandas

Pemenang mencari solusi dan jalan
Pecundang mencari alibi dan alasan

Pememang bergerak dan memberi contoh
Pecundang berteriak dan mencemooh

Pemenang tetap bergerak dalm keyakinan
Pecundang tetap bergerak dalam keraguan

Pemenang menghadapi dan menikmati masalah
Pecundang menghindari dan lari dari masalah

Pemenang membantu mensukseskan sesama
Pecundang membantu merusak semesta

Pemenang membetulkan yang salah
Pecundang menyalahkan yang betul

Pemenang memberikan apresiasi
Pecundang hanya ingin dipuji

Pemenang menghadirkan bukti
Pecundang menghadirkan caci

Pemenang menjadi bukti
Pecundang menunggu bukti

Pemenang ketika gagal langsung evaluasi dan bangkit
Pecundang ketika gagal langsung depresi dan sakit

Pemenang itu fokus
Pecundang itu rakus

Pemenang fokus kepada solusi dan makna
Pecundang fokus kepada masalah dan siapa biang keroknya

Pemenang fokus kepada impian
Pecundang fokus kepada ketakutan

Pemenang fokus kepada memberi dan sinergi
Pecundang fokus kepada meminta dan mencuri

Pemenang bersyukur dulu baru menikmati kesuksesan
Pecundang harus sukses dulu baru berjuang merasakan kesyukuran

Pemenang menjalani hidup dengan tenang dan terang
Pecundang menjalani hidup dengan tegang dan perang

Pemenang memiliki Tuhan dan keimanan
Pecundang memiliki syaitan dan kekafiran

Pemenang hidup berlandaskan Wahyu dan Al-Quran
Pecundang hidup berlandaskan hawa nafsu dan pikiran

Pemenang bersinergi
Pecundang bergerak sendiri

Wallahu alam