Ma’na syukur.
Sifat syukur dalam kehidupan seseorang sangatlah penting karena hidup dengan mengedepankan sifat syukur, akan melahirkan kekuatan yang luar biasa dalam hidupnya, dan dapat membentuk sumber daya manusia yang arif lagi bijaksana serta menjadi syifa ul-linnas(sebagai penawar bagi manusia). Keteladanan untuk selalu bersyukur ini telah lama diajarkan oleh baginda Rasulullah Saw. Diceritakan dalam kitab al arba’in fi ushulidin yang dikarang oleh imam al Ghozali, disuatu malam pada saat tahajud, Rasulullah menangis dalam shalatnya. Kemudian Siti Aisyah bertanya kepada beliau “ wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis sedemikian, sedang Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah lalu dan yang akan datang?”. Mendengar pertanyaan itu, Rasullah menjawab “apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur wahai Aisyah?” Rasul melanjutkan“ di hari kiyamat ada seruan kapada orang-orang yang memuji, kemudian berdirilah sekelompok orang dan kelompok itu diberikan sebuah bendera menuju surga”. Siti Aisyah kemudian bertanya lagi “ siapa orang-orang yang memuji itu baginda Rasul?”. Rasul kembali menjawab.” Mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur dalam segala keadaan”. Betapa agungnya teladan yang diberikan Rasul kepada kita untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Alah kepada kita. beliau juga menjelaskan bahwa ada janji surga dari Allah bagi orang yang senantiasa bersyukur atas segala keadaan yang menimpanya.
Sifat syukur hanya lahir dari hati nurani dan kesadaran seseorang yang sudah terbentuk sejak dini dan biasa merealisasikan dalam tradisi yang baik kapan dan dimana pun berada.Sifat syukur dapat memotivasi seseorang dalam memperoleh keberhasilan baik di dunia maupun di akhirat, Mengapa? Sebab dengan mengedepankman sifat syukur,seseorang akan punya sportivitas, profesionalitas yang proporsional dan pada akhirnya akan melahirkan sifat solidaritas/kesetiakawanan amal shalih dan akhlak yang mulia.
Secara bahasa syukur adalah gembira (suka cita), adapun secara istilah maksudnya adalah mengetahui segala kenikmatan itu datangnya dari Allah SWT, baik berupa nikmat iman, taat akan ajaran-Nya, dengan selalu memuji atas Dzat sang Pemberi semua keperluan hidup, dengan wujud berbakti kepada-Nya yaitu melakukan kewajiban dan meninggalkan segala perbuatan maksiyat, secara zahir ataupun bathin.
Imam ghozali mendefinisikan syukur dalam kitab ihya’ ulumuddinnya, syukur adalah pengekspresian sebuah kenikmatan dari allah dengan jalan ketundukan yang dilihat dari perbuatan lisan dan sejalannya dengan keadaan hati manusia. Lebih lanjut menurut imam ghozali, bagi mereka yang mengatakan bahwa syukur adalah pujian atas sebuah kebaikan; itu memandang dari sudut pandang lisan saja. Artinya, syukur bukan semata-mata hanya timbul dari mulut saja , tapi ucapan tulus sebagai bentuk dari keadaan hati yang bersyukur. Bagi yang bersyukur hanya sebatas dilisan saja ,itu bisa dikatakan sebagai sebuah omong kosong belaka.
Adapun secara istilah, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan: “Syukur itu ialah taat kepada Allah Taala dengan segala anggota, zahir dan batin, baik secara diam-diam atau terang-terangan”. Para ulama lain menjelaskan: “Syukur itu ialah mengerjakan taat, zahir dan batin, kepada Allah Taala dan seterusnya menjauhi segala maksiat, zahir dan batin, dengan berusaha menjaga hati, lidah, mata, telinga dan segala anggota zahir dan batin yang lainnya supaya terdorong kepada melakukan kemaksiatan”. Artinya seseorang baru dikatakan orang yang bersyukur apabila dia tetap pada koridor jalan Allah. Bagi orang yang yang mengatakan dirinya bersyukur tetapi dia tidak mengerjakan apa yaang diperintah oleh Allah SWT dan menjauhi larangannya dia tidak bisa dikatakan orang-orang yang bersyukur.
Dalil syukur kepada Allah.
Banyak sekali ayat-ayat ataupun al hadist yang menjadi landasan agar manusia selalu bersyukur kepada Allah. Diantara ayat-ayat yang dipaparkan dalam kitab ihya’ ulmuddin adalah ayat 152 pada surat al Baqoroh.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ [البقرة/152]
“152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.
Dalam ayat ini, dengan tegas Allah memerintahkan kepada manusia untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Agar kita tidak menjadi orang yang ingkar atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita. Bahkan jika kita menghitung nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, niscaya kita tak akan mampu untuk menghitung nikmat Allah. Manusia hanya diminta untuk bersyukur sebagaimna bentuk syukur yang telah dipaparkan diatas oleh para ulama’ dan akan diperdalam lagi pada pembahasan yang selanjutnya.
Pada ayat lain Allah telah menjajikan tambahan kenikmatan bagi hamba-hamba yang mau bersyukur. Dan bagi mereka yang kufur dan tidak mau mengingat nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya sehingga dia tidak mau bersyukur, Allah menjajikan adzab yang sangat pedih akibat dari pengingkarannya dalam bentuk tidak mau bersyukur ini. Itu dijelaskan pada ayat 7 pada surat Ibrahim.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [إبراهيم/7
“7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Dan bagi orang yang mau bersyukur Allah telah menjanjikan pahala yang sangat besar diakhirat nanti sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah di atas dan detagaskan dalam ayat dibawah ini.
“147. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? dan Allah adalah Maha Mensyukurilagi Maha mengetahui”.
Jika puasa adalah bentuk aplikasi dari sabar sehingga banyak ulama’ yang mengatakan bahwa sabar adalah puasa atau menahan diri, sehingga karena besarnya pahala dari puasa, Allah tidak memberikan gambaran yang pasti akan pahalanya. Maka Rasulullah dalam salah satu hadistnya menegaskan bahwa syukur itu berada pada orang yang yang makan atau diberi nikmat, sedang sabar ada pada orang yang sedang berpuasa. Oleh karenanya, syukur bagi orang yang diberi nikmat , kedudukannya sama sabar bagi orang-orang yang berpuasa.
الجامع الصحيح سنن الترمذي - (ج 4 / ص 356)
الطاعم الشاكر بمنزلة الصائم الصابر
“ orang yang makan yang bersyukur, berkedudukan dengan orang berpuasa yang sabar “
Tiga dimensi Syukur
Ada banyak hal yang melingkupi syukur. Sehinga Syukur bisa dikatakan sempurna apabila telah memenuhi 3 kriteria,yaitu:
1. Mengetahui semua nikmat yang Allah berikan, seperti nikmat Iman, Islam dan ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya sehingga benar-benar menjadikan Allah sebagai pelindung dan senantiasa hadir dalam hatinya, dengan meyakini bahwa kesuksesan dan segala bentuk kemewahan semua berasal dari Allah, kita hanya di beri pinjaman sementara di dunia.
2. Mengungkapkan rasa syukurnya dalam bentuk puji-pujian seperti alhamdulillah, asy-Syukrulillah atau ucapan lainnya yang mempunyai arti yang sama.
3. Nikmat Allah yang ada, bukan untuk dirasakan sendiri melainkan untuk berbagi dengan orang lain, seperti sedekah, infaq dan menolong fakir miskin, itu semua kita lakukan supaya kita selamat dari ujian dan amanah yang kita hadapi di dunia sehingga kelak harta, tahta dan kekayaan kita menjadi penolong besok pada hari penghitungan amal di yaum mahsyar nanti.
Cara Bersyukur
sabar
Perintah bersyukur telah dijelaskan dengan tegas di dalam al Qur’an dan al Hadist sehingga sebuah keharusan bagi manusia untuk bersyukur kepada Allah. Tentunya untuk mengekspresikan bentuk syukur itu ada cara yang bisa dilakukan. Sehingga ulama’ mengklasifikasikan tiga bentuk bersyukur yaitu.
1. Syukur dengan hati
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan, dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya. Qarun yang mengingkari keberhasilannya atas bantuan Ilahi, dan menegaskan bahwa itu diperolehnya semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagai kafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya (Baca kisahnya dalam surat Al-Qashash (28): 76-82).
Seorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa mala petaka pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu, tetapi karena terbayang olehnya bahwa yang dialaminya pasti lebih kecil dari kemungkinan lain yang dapat terjadi. Dari sini syukur –seperti makna yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip di atas– diartikan oleh orang yang bersyukur dengan “untung” (merasa lega, karena yang dialami lebih ringan dari yang dapat terjadi). Dari kesadaran tentang makna-makna di atas, seseorang akan tersungkur sujud untuk menyatakan perasaan syukurnya kepada Allah.
Sujud syukur adalah perwujudan dari kesyukuran dengan hati, yang dilakukan saat hati dan pikiran menyadari betapa besar nikmat yang dianugerahkan Allah. Bahkan sujud syukur dapat dilakukan saat melihat penderitaan orang lain dengan membandingkan keadaannya dengan keadaan orang yang sujud. (Tentu saja sujud tersebut tidak dilakukan dihadapan si penderita itu).
Sujud syukur dilakukan dengan meletakkan semua anggota sujud di lantai yakni dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung jari kaki)–seperti melakukan sujud dalam shalat. Hanya saja sujud syukur cukup dengan sekali sujud, bukan dua kali sebagaimana dalam shalat. Karena sujud itu bukan bagian dan shalat, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa sujud sah walaupun dilakukan tanpa berwudu, karena sujud dapat dilakukan sewaktu-waktu dan secara spontanitas. Namun tentunya akan sangat baik bila melakukan sujud disertai dengan wudu.
2. Syukur dengan lidah
Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya. Al-Quran, seperti telah dikemukakan di atas, mengajarkan agar pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi “al-hamdulillah.” Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun kepada yang lain.
Kata “al” pada “al-hamdulillah” oleh pakar-pakar bahasa disebut al lil-istighraq, yakni mengandung arti “keseluruhan”. Sehingga kata “al-hamdu” yang ditujukan kepada Allah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah SWT, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya.
Jika kita mengembalikan segala puji kepada Allah, maka itu berarti pada saat Anda memuji seseorang karena kebaikan atau kecantikannya, maka pujian tersebut pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah SWT, sebab kecantikan dan kebaikan itu bersumber dari Allah. Di sisi lain kalau pada lahirnya ada perbuatan atau ketetapan Tuhan yang mungkin oleh kacamata manusia dinilai “kurang baik”, maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam menetapkan tolok ukur penilaiannya. Dengan demikian pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandangannya sehingga penilaiannya menjadi demikian. Walhasil, syukur dengan lidah adalah “al- hamdulillah” (segala puji bagi Allah).
3. Syukur dengan perbuatan
Nabi Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh aneka nikmat yang tiada taranya. Kepada mereka sekeluarga Allah berpesan,
Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur! (QS Saba [34]: 13).
Yang dimaksud dengan bekerja adalah menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahannya. Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah. Ambillah sebagai contoh lautan yang diciptakan oleh Allah SWT Ditemukan dalam Al-Quran penjelasan tentang tujuan penciptaannya melalui firman-Nya: Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untuk kamu) agar kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan (agar) kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah disebut) semoga kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]: 14).
Ayat ini menjelaskan tujuan penciptaan laut, sehingga mensyukuri nikmat laut, menuntut dari yang bersyukur untuk mencari ikan-ikannya, mutiara dan hiasan yang lain, serta menuntut pula untuk menciptakan kapal-kapal yang dapat mengarunginya, bahkan aneka pemanfaatan yang dicakup oleh kalimat “mencari karunia-~Nya”.
Dalam konteks inilah terutama realisasi dan janji Allah,
Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) (QS Ibrahim [14]: 7)
Betapa anugerah Tuhan tidak akan bertambah, kalau setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap hembusan angin yang bertiup di udara, setiap tetes hujan yang tercurah dan langit dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia?
Di sisi lain, lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa “Kalau kamu kufur (tidak mensyukuri nikmat atau menutupinya tidak menampakkan nikmatnya yang masih terpendam di perut bumi, di dasar laut atau di angkasa), maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.”
Suatu hal yang menarik untuk disimak dari redaksi ayat ini adalah kesyukuran dihadapkan dengan janji yang pasti lagi tegas dan bersumber dari-Nya langsung (QS Ibrahim [14):7) Tetapi akibat kekufuran hanya isyarat tentang siksa; itu pun tidak ditegaskan bahwa ia pasti akan menimpa yang tidak bersyukur(QS Ibrahim [14]:7). Siksa dimaksud antara lain adalah rasa lapar, cemas, dan takut.
Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan (QS An-Nahl [16]: 112).
Pengalaman pahit yang dilukiskan Allah ini, telah terjadi terhadap sekian banyak masyarakat bangsa, antara lain, kaum Saba –satu suku bangsa yang hidup di Yaman dan yang pernah dipimpin oleh seorang Ratu yang amat bijaksana, yaitu Ratu Balqis Surat Saba (34): 15-19 menguraikan kisah mereka, yakni satu masyarakat yang terjalin persatuan dan kesatuannya, melimpah ruah rezekinya dan subur tanah airnya. Negeri merekalah yang dilukiskan oleh Al-Quran dengan baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Mereka pulalah yang diperintah dalam ayat-ayat tersebut untuk bersyukur, tetapi mereka berpaling dan enggan sehingga akhirnya mereka berserak-serakkan, tanahnya berubah menjadi gersang, komunikasi dan transportasi antar kota-kotanya yang tadinya lancar menjadi terputus, yang tinggal hanya kenangan dan buah bibir orang saja. Demikian uraian Al-Quran. Dalam konteks keadaan mereka, Allah berfirman,
Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka disebabkan kekufuran (keengganan bersyukur) mereka. Kami tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada orang-orang yang kufur(QS Saba [34]: 17). Itulah sebagian makna firman Allah yang sangat populer: Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih (QS Ibrahim [14]: ayat 7).
Tiga elemen syukur menurut Al Ghozali
Imam Ghazali, seperti dalam karya tulisnya Ihya’ Ulum al-Diin menyatakan bahawa syukur itu harus ada tiga elemen. Elemen pertama adalah ilmu, elemen kedua adalah perasaan dan elemen ketiga adalah amal.
1. Ilmu.
Untuk mengetahui seseorang itu benar-benar bersyukur, perkara pertama yang perlu ada adalah ilmu. Ilmu yang perlu ada itu terbagi kepada tiga bagian. Pertama, seseorang itu perlu ada ilmu tentang nikmat itu sendiri. Hakikat tentang nikmat itu perlu diketahui. Ilmu tentang nikmat ini akan membolehkan seseorang untuk memahami nilai nikmat tersebut dan seterusnya menghargai nikmat itu., seseorang itu perlu ada ilmu tentang siapa yang memberi nikmat. Dalam soal ini, pastinya Yang Maha Memberi Rezeki, Yang Maha Pemurah, adalah Allah SWT. Seseorang itu perlu mempunyai ilmu Tauhid yang kukuh. Dengan mengenali Allah, seseorang itu akan memahami bahawa setiap sesuatu itu datangnya daripada Allah, dan adalah merupakan hak milik Allah semata-mata. Setiap satu kejadian itu adalah datangnya daripada Allah.
Justru setiap nikmat dan rezeki itu datangnya daripada Allah, walaupun mungkin saja nikmat itu disampaikan melalui perantaraan makhluk-Nya. Ketiga, seseorang itu perlu ada ilmu tentang siapa yang mendapat nikmat tersebut. Dalam konteks ini, yang menerima nikmat adalah diri kita sendiri sebagai hamba Allah. Memahami hakikat bahawa kita ini adalah hamba dan makhluk Allah, kita pasti akan merasa hina dan sangat rendah di hadapan Allah.
2. Perasaan
Elemen yang kedua untuk bersyukur pula adalah perasaan. Apabila menerima sesuatu nikmat itu, seseorang itu haruslah mempunyai perasaan gembira, bahagia. Bagaimana mungkin seseorang itu hendak bersyukur seandainya ia tidak mengalami apa-apa rasa apabila menerima sesuatu nikmat itu? Perlu difahami juga bahwa perasaan bahagia dan gembira ini bukan berpusat kepada kesenangan atas nikmat yang kita peroleh, tetapi lebih kepada perasaan bahagia dan gembira kerana mendapat satu nikmat daripada Tuhan Yang Maha Agung! Perasaan ini hanya mungkin timbul apabila ilmu tentang tiga perkara yang disebutkan tadi telah dimiliki.
3. Amal
Yang terakhir, elemen ketiga dalam bersyukur pula adalah amal, yakni perbuatan. Setelah seseorang itu mempunyai ilmu dan kefahaman tentang perkara yang disebutkan tadi, seterusnya mengalami perasaan bahagia, gembira dan berterima kasih, syukur tersebut perlulah dimanifestasikan melalui perbuatan. Dalam hal ini, seseorang perlu menggunakan nikmat yang telah diperolehnya untuk mendekatkan dirinya dengan Allah, yakni zat yang telah memberikan nikmat tersebut
Cerita
sabar
Ada sebuah dialog menarik antara laki-laki dengan Abu Hazm:
Apa syukurnya kedua mata?
“Apabila engkau melihat sesuatu yang baik, engkau akan menceritakannya. Tetapi apabila engkau melihat keburukan, engkau menutupinya”.
Bagaimana syukurnya telinga?
“Jika engkau mendengar sesuatu yang baik, peliharalah. Manakala engkau mendengar sesuatu yang buruk, cegahlah”.
Bagaimana syukurnya tangan?
“Jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu, dan janganlah engkau menolak hak Allah yang ada pada kedua tanganmu”.
Bagaimana syukurnya perut?
“Bawahnya berisi makanan, sedang atasnya penuh dengan ilmu”.
Syukurnya kemaluan?
“Abu Hazm kemudian membacakan Al-Quran surah Al-Mukminun ayat 1-7”.
Bagaimana syukurnya kaki?
“Jika engkau mengetahui seorang shalih yang mati dan engkau bercita-cita dan berharap seperti dia, dimana dia melangkahkan kakinya untuk taat dan beramal shalih semata, maka Contohlah dia. Dan apabila engkau melihat seorang mati yang engkau membencinya, maka bencilah amalnya. Maka engkau menjadi orang yangbersyukur.” Abu Hazm menutup jawabannya, “Orang yang bersyukur dengan lisannya saja tanpa dibuktikan dengan amal perbuatan dan sikap, maka ia ibarat seorang punya pakaian, lalu ia pegang ujungnya saja, tidak ia pakai. Maka sia-sialah pakaian tersebut.”
http://mahad-aly.sukorejo.com/2013/12/dimensi-syukur-sebagai-nilai-moral-islam/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar